Cakrawala News – 20 September 2026 | Houthi klaim tembak jatuh F-15 Arab Saudi, benarkah? Ini bedanya dengan insiden 2018 menjadi sorotan setelah juru bicara militer kelompok Houthi, Yahya Saree, menyatakan bahwa pihaknya menembak jatuh sebuah jet tempur F-15 milik Angkatan Udara Arab Saudi di atas Provinsi Marib, Yaman tengah. Klaim tersebut disampaikan pada Rabu, 16 September 2026, dan hingga kini belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Arab Saudi maupun diverifikasi secara independen. Houthi merilis rekaman yang diklaim memperlihatkan puing-puing pesawat, termasuk bagian sayap dan ekor yang tampak memiliki tanda Angkatan Udara Arab Saudi.
Klaim itu muncul di tengah eskalasi konflik yang kembali memanas antara Riyadh dan kelompok yang menguasai sebagian besar Yaman tersebut. Pertempuran kedua pihak dilaporkan kian brutal dan menewaskan sedikitnya lima orang, termasuk tiga anak-anak, pada Kamis, 17 September 2026. Houthi juga mengklaim meluncurkan serangan rudal dan drone ke sejumlah sasaran strategis di Arab Saudi, termasuk fasilitas energi di Yanbu dan pangkalan udara di Khamis Mushait.
Belum Ada Konfirmasi Resmi dan Nasib Awak Belum Diketahui
Hingga laporan ini disusun, pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kehilangan pesawat tersebut. Karena itu, klaim bahwa F-15 Saudi benar-benar ditembak jatuh belum dapat dianggap sebagai fakta yang telah diverifikasi secara independen. Nasib awak pesawat juga belum diketahui secara pasti. Informasi awal yang beredar belum dapat memastikan apakah awak berhasil melontarkan diri, tewas dalam insiden tersebut, atau berada di wilayah yang dikuasai Houthi.
Jika kehilangan F-15 itu nantinya dikonfirmasi Arab Saudi, peristiwa tersebut akan menjadi perkembangan penting dalam konflik terbaru. F-15 merupakan salah satu tulang punggung kekuatan udara Saudi dan selama bertahun-tahun memainkan peran penting dalam operasi udara kerajaan tersebut di Yaman. Houthi sesumbar bahwa pesawat militer canggih itu berhasil ditembak jatuh hanya dengan menggunakan rudal darat-ke-udara yang menurut kelompok itu diproduksi secara lokal.
Klaim tersebut, jika benar, menandai perubahan dramatis dalam kemampuan tempur kelompok tersebut. Militer Saudi selama ini selalu menikmati keunggulan udara dan sangat bergantung pada daya gempur serangan udaranya di negara tetangga tersebut. Namun, tanpa konfirmasi resmi, status klaim ini masih berada pada ranah pernyataan pihak yang bertempur, bukan fakta yang tervalidasi.
Insiden 2018 dan Konteks Kehilangan F-15 Sebelumnya
Pertanyaan mengenai perbedaan dengan insiden 2018 wajar muncul. Dalam beberapa tahun terakhir, koalisi pimpinan Saudi memang pernah kehilangan sejumlah pesawat tempur dalam operasi di Yaman, dan Houthi berulang kali mengklaim bertanggung jawab atas penembakan jatuh pesawat-pesawat tersebut. Klaim Houthi pada 2018 juga sempat menjadi perhatian internasional karena kelompok itu menyebut telah menjatuhkan jet tempur Saudi. Namun, pola klaim dan konfirmasi pada periode tersebut tidak selalu berjalan seiring, sehingga verifikasi independen menjadi krusial.
Perbedaan penting terletak pada konteks dan kemampuan yang diklaim. Pada 2018, klaim Houthi umumnya muncul di tengah perang yang sudah berlangsung intens, dengan senjata yang diyakini diperoleh dari luar. Kini, Houthi menegaskan bahwa mereka menggunakan rudal permukaan-ke-udara buatan lokal. Jika klaim itu terverifikasi, hal tersebut akan menunjukkan peningkatan kapabilitas pertahanan udara kelompok tersebut yang berpotensi mengubah kalkulasi militer di lapangan.
Yang juga membedakan adalah situasi regional saat ini. Ketegangan tidak hanya melibatkan Saudi dan Houthi, tetapi juga bersinggungan dengan memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz. Konteks ini membuat setiap klaim militer memiliki bobot politik yang lebih besar dan berpotensi mempercepat eskalasi.
Serangan ke Makkah dan Bantahan Houthi
Sehari sebelum klaim penembakan jet, Arab Saudi menyatakan Houthi berusaha menyerang Makkah, kota paling suci bagi umat Islam, menggunakan drone yang berhasil dicegat. Juru bicara militer Saudi, Mayjen Turki al-Malki, melaporkan bahwa sistem pertahanan udara Saudi berhasil menghancurkan drone Houthi yang masuk di dekat Makkah. Ia menegaskan bahwa melindungi situs suci tersebut adalah garis merah.
Houthi membantah tuduhan tersebut. Pada Kamis, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi ikut menanggapi tuduhan Arab Saudi bahwa kelompoknya menargetkan Makkah. Dalam pidato rekaman, ia mengecam apa yang disebutnya sebagai kebohongan yang benar-benar keji dari Arab Saudi. Al-Houthi menyerukan demonstrasi besar-besaran pada Jumat, 18 September 2026, di Sanaa dan wilayah-wilayah yang dikuasai Houthi sebagai bentuk dukungan terhadap perlindungan masjid-masjid suci. Ia menuntut pula agar blokade Arab Saudi terhadap Yaman diakhiri.
Dari Tehran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan klaim mengenai pencegatan sebuah drone tidak semestinya langsung dijadikan dasar untuk menuduh pihak tertentu atau digunakan untuk meningkatkan ketegangan. Ia mengecam serangan terhadap tempat-tempat suci umat Islam. Pernyataan ini menambah dimensi diplomatik pada konflik yang sudah kompleks.
Korban Sipil dan Dampak di Arab Saudi
Badan pertahanan sipil Arab Saudi pada Kamis, 17 September 2026, melaporkan bahwa puing-puing drone yang disebut milik Houthi dan berhasil dicegat menewaskan seorang warga Yaman yang bermukim di Arab Saudi. Menurut keterangan terbaru pertahanan sipil Arab Saudi di X, dua orang lainnya terluka dalam insiden di wilayah Taif, Arab Saudi bagian barat. Mereka adalah seorang perempuan Arab Saudi dan seorang warga Pakistan yang kini dalam kondisi kritis. Puing-puing drone turut merusak sejumlah kendaraan dan bangunan. Pernyataan itu tidak menyebutkan kapan tepatnya insiden tersebut terjadi.
Laporan tersebut menyebut korban tewas sebagai warga sipil pertama sejak Houthi meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dengan menyasar pelayaran dan fasilitas minyak. Insiden di Taif menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di medan tempur Yaman, tetapi juga di wilayah Arab Saudi yang selama ini dianggap relatif aman.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi meningkat seiring gerak maju kelompok tersebut di Yaman. Houthi baru-baru ini merebut kota pelabuhan Mokha serta sejumlah pulau strategis di Laut Merah, termasuk sebuah pulau di Selat Bab el-Mandeb. Perkembangan itu menambah kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran internasional yang sudah terdampak perang Iran.
Diplomasi AS dan Rencana Penjualan F-35
Di tengah pertempuran, muncul perkembangan diplomatik yang tidak kalah mengejutkan. Reuters pada 16 September 2026 mengungkap bahwa pejabat Amerika Serikat telah mengadakan pertemuan yang sebelumnya tidak dipublikasikan dengan perwakilan senior Houthi di Muscat, Oman, pada akhir pekan sebelumnya. Menurut lima sumber yang mengetahui pembicaraan itu, pertemuan berlangsung di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Muscat, dengan Oman membantu memfasilitasi komunikasi kedua pihak. Delegasi Houthi dilaporkan mencakup pejabat senior Mohammed Abdulsalam dan Abdelmalik al-Ajiri.
Sementara itu, pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah meminta anggota parlemen untuk segera menyetujui penjualan 48 jet tempur canggih F-35 ke Arab Saudi dengan perkiraan nilai mencapai US$ 24,3 miliar atau sekitar Rp 427,68 triliun. Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataan resminya pada Kamis menyebut usulan penjualan itu akan mendukung kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk.
Pemerintah AS mengeklaim manuver militer bernilai triliunan rupiah tersebut tidak akan mengubah keseimbangan militer di kawasan. Klaim itu sejalan dengan kebijakan lama Washington yang mengharuskan Israel untuk selalu memiliki keunggulan militer di atas potensi musuh-musuh regionalnya. Ironisnya, pengumuman ini mencuat tepat setelah Houthi mengklaim menembak jatuh F-15 milik Saudi. Rencana penjualan jet siluman ini juga memicu kekhawatiran terkait potensi spionase oleh China, dengan laporan yang menyebut analis intelijen AS khawatir Beijing dapat memperoleh akses ke teknologi F-35 melalui kemitraan strategisnya dengan Riyadh.
Imbauan bagi WNI dan Perkembangan Selanjutnya
Pemerintah Indonesia memastikan perlindungan maksimal bagi warganya di Arab Saudi. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan perwakilan RI di Arab Saudi mengimbau WNI untuk tetap waspada dan mengikuti instruksi resmi Arab Saudi. Perwakilan RI bergerak cepat memperketat pemantauan berkala guna memetakan posisi seluruh warga di area terdampak. Hingga saat ini, belum ditemukan adanya korban maupun kerugian yang menimpa masyarakat Indonesia di sana.
Otoritas setempat sempat menetapkan siaga bahaya di kawasan strategis seperti Makkah, Jeddah, hingga Taif. Pihak Pertahanan Sipil Kerajaan kini sudah mencabut status darurat tersebut setelah ruang udara dinyatakan kondusif. Militer Kerajaan Arab Saudi berhasil menetralisir satu unit pesawat tanpa awak yang mengarah ke zona terlarang sebelum menembus perimeter Kota Suci Makkah.
Hingga kini, pertanyaan utama masih sama: benarkah F-15 Arab Saudi benar-benar ditembak jatuh Houthi? Tanpa konfirmasi resmi Riyadh dan verifikasi independen atas rekaman yang beredar, klaim tersebut harus dibaca sebagai pernyataan pihak yang berkonflik. Yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah Arab Saudi akan mengakui kehilangan pesawat, bagaimana perkembangan pertempuran di Marib, serta apakah eskalasi serangan drone dan rudal akan terus berlanjut ke wilayah sipil. Situasi ini menuntut pemantauan ketat karena setiap perkembangan berpotensi mengubah peta konflik dan keamanan kawasan.
