Cakrawala News – 19 September 2026 | Korut tegaskan nuklir tak bisa ditawar, minta dunia lupakan denuklirisasi. Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara Letnan Jenderal Kim Kang Il dalam sesi panel di Beijing Xiangshan Forum 2026 di Beijing, Kamis (18/9/2026). Kim menegaskan status negaranya sebagai pemilik senjata nuklir telah dikukuhkan melalui konstitusi dan tidak dapat dibatalkan.
“Status Korea Utara sebagai negara nuklir, seperti yang tertuang dalam Konstitusi, hukum tertinggi negara, merupakan kenyataan yang tak terbantahkan,” kata Kim, seperti dikutip KCNA.
Pernyataan tersebut menandai sikap Pyongyang yang semakin tegas menolak segala bentuk wacana denuklirisasi. Kim meminta negara-negara yang dianggap bermusuhan untuk berhenti mengecam kebijakan pertahanan Korea Utara dan meninggalkan apa yang ia sebut sebagai impian tidak realistis tentang denuklirisasi.
Perkuat Daya Tangkal Nuklir
Dalam forum keamanan internasional itu, Kim menjelaskan bahwa Korea Utara akan terus membangun dan memperkuat kekuatan penangkal nuklirnya. Menurutnya, langkah itu diperlukan untuk mencegah perang nuklir di tengah meningkatnya ancaman dari kekuatan yang bermusuhan.
“Negara-negara yang dianggap sebagai musuh dan menyimpan niat paling bermusuhan serta fanatik terhadap negara kami harus menghentikan kecaman terhadap kebijakan pertahanan kami yang sah dan bersifat membela diri, serta meninggalkan khayalan denuklirisasi yang tidak realistis,” tegasnya.
Kim menambahkan, semakin besar ancaman serangan nuklir dan semakin intensif langkah konfrontatif melalui aliansi nuklir, semakin besar pula kebutuhan negaranya untuk memperluas dan memperkuat daya tangkal perang nuklir. Ia menyebut kebijakan itu sebagai upaya membela diri yang sah.
“Berdasarkan prinsip menjamin keamanan dan menjaga perdamaian melalui kekuatan yang tangguh, kami akan dengan teguh mempertahankan perdamaian serta stabilitas di Semenanjung Korea dan kawasan,” ujar Kim.
Pernyataan ini menjadi penegasan ulang bahwa Korut tegaskan nuklir tak bisa ditawar, minta dunia lupakan denuklirisasi, sekaligus menolak tekanan internasional yang terus mengalir.
Serang Strategi Nuklir Amerika Serikat
Dalam kesempatan yang sama, Kim menyoroti kebijakan nuklir Amerika Serikat. Ia menilai Washington telah mengadopsi strategi nuklir baru yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan serangan dengan menggunakan senjata nuklir taktis untuk menghadapi potensi konflik kawasan.
Menurutnya, langkah tersebut membuat Amerika Serikat mengembangkan kekuatan nuklirnya agar dapat digunakan dalam pertempuran nyata. Kim juga menyebut berbagai latihan militer yang mengandaikan penggunaan senjata nuklir dilakukan secara terbuka dan dinilainya mengganggu perdamaian serta keamanan kawasan.
“Belakangan ini fondasi perdamaian dan keamanan dunia terguncang hebat akibat keserakahan geopolitik yang brutal dan tidak terbatas serta ambisi hegemoni Amerika Serikat dan kekuatan-kekuatan pengikutnya. Di Semenanjung Korea, blok militer agresif yang berbagi kemampuan nuklir terus diperluas dan diperkuat,” tambah Kim.
Ia meminta masyarakat internasional melihat secara tepat akar penyebab meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, wilayah sekitarnya, dan kawasan Asia-Pasifik secara keseluruhan. Kim juga mendorong munculnya sikap bersama untuk menjaga keadilan internasional.
Kehadiran Langka Pejabat Tinggi Korut
Kehadiran Kim dalam forum keamanan internasional tersebut menandai salah satu kemunculan pejabat tingkat tinggi Korea Utara di luar negeri yang relatif jarang terjadi. Forum ke-13 Xiangshan digelar di Beijing, China, pada 15-17 September dan dihadiri delegasi dari hampir 100 negara, termasuk Rusia, serta sejumlah organisasi internasional.
Partisipasi Pyongyang dalam forum itu berlangsung ketika negara tersebut juga berupaya mempererat hubungan dengan China di tengah ketegangan dengan Washington dan sekutunya. Hal ini menunjukkan bahwa diplomasi Korea Utara tidak hanya berputar pada isu nuklir, tetapi juga pada upaya memperkuat posisi strategisnya di kawasan.
Sejumlah pengamat menilai pernyataan Kim di forum multilateral menjadi sinyal bahwa Pyongyang tidak akan mengubah haluan kebijakan nuklirnya dalam waktu dekat. Sebaliknya, Korea Utara justru memanfaatkan panggung internasional untuk menegaskan bahwa statusnya sebagai negara nuklir bersifat final.
Dalam konteks ini, seruan Korut tegaskan nuklir tak bisa ditawar, minta dunia lupakan denuklirisasi menjadi pesan utama yang ingin disampaikan kepada komunitas internasional, terutama negara-negara yang selama ini mendorong denuklirisasi Semenanjung Korea.
Dampak bagi Kawasan
Pernyataan Kim berpotensi mempersulit upaya diplomasi yang selama ini dibangun untuk menurunkan ketegangan di Semenanjung Korea. Negara-negara tetangga dan mitra internasional menghadapi tantangan untuk merumuskan respons yang dapat mendorong dialog tanpa mengabaikan isu denuklirisasi.
Di sisi lain, Korea Utara tampaknya terus memperkuat narasi bahwa kepemilikan senjata nuklir adalah instrumen pertahanan yang tidak dapat dinegosiasikan. Narasi ini disampaikan secara terbuka di forum yang dihadiri banyak negara, sehingga sulit diabaikan oleh komunitas internasional.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah bagaimana Amerika Serikat, sekutunya, serta China merespons pernyataan tersebut. Sikap mereka akan menentukan arah dinamika keamanan di Asia Timur, termasuk kemungkinan langkah diplomatik baru atau justru meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
