Cakrawala News – 24 Oktober 2026 | IHSG rontok karena MSCI, 10 saham ini punya potensi dividend yield tinggi tembus 17% menjadi sorotan investor di tengah gejolak pasar saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 11,6 persen pada penutupan perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026, ke level 5.185, dan kembali ambruk 4,31 persen ke level 4.961,87 pada pembukaan perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Pelemahan tajam ini dipicu pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tengah mempertimbangkan pemindahan Indonesia dari kategori emerging markets menjadi pasar mandiri atau standalone market.
Penurunan tersebut membuat IHSG menyentuh level terendah sejak Oktober 2020, saat pandemi Covid-19 mengguncang pasar keuangan. Sepanjang tahun berjalan, indeks acuan Bursa Efek Indonesia ini telah terpangkas 43 persen secara year to date, menjadikannya salah satu indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
Tekanan Jual Asing dan Proyeksi Analis
Pelemahan IHSG diikuti aksi jual bersih investor asing atau net sell senilai Rp3,4 triliun. Sejumlah saham yang paling banyak dilepas investor asing antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Head of Retail Research Fanny Suherman memperkirakan tekanan terhadap IHSG masih dapat berlanjut pada awal pekan ini. Menurutnya, dampak dari potensi penurunan peringkat MSCI masih membayangi pasar sehingga investor disarankan menghindari sementara saham-saham dengan kepemilikan asing yang tinggi.
Fanny menetapkan level support IHSG pada kisaran 4.900-5.000, sementara level resistance berada di rentang 5.200-5.250. Senada, analis BinaArtha Sekuritas Ivan Rosanova memproyeksikan IHSG berpotensi melemah ke level 5.020, bahkan lebih buruk ke level 4.808. Ia menyebut indikator MACD menunjukkan momentum bearish.
Rekomendasi Saham di Tengah Koreksi
Di tengah tekanan pasar, sejumlah analis tetap mencermati saham-saham tertentu. Fanny merekomendasikan enam saham untuk dicermati pada perdagangan Senin, yaitu TINS, NCKL, INCO, AADI, CPIN, dan TAPG, dengan strategi buy on weakness atau membeli saat harga melemah hingga memasuki area pembelian yang ditentukan.
Sementara itu, Ivan Rosanova menjagokan saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR). Tim riset BRI Danareksa juga merekomendasikan PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).
Kombinasi rekomendasi dari sejumlah analis tersebut menghasilkan sekitar sepuluh saham yang dinilai layak dicermati, mulai dari emiten tambang, konsumer, hingga perbankan dan otomotif. Sejumlah saham berkarakter defensif dengan potensi pembagian dividen besar disebut menjadi incaran pelaku pasar saat kondisi pasar bergejolak, sejalan dengan tema IHSG rontok karena MSCI, 10 saham ini punya potensi dividend yield tinggi tembus 17%.
Ancaman Status Standalone dan Latar Belakang MSCI
MSCI menyatakan tengah mempertimbangkan pemindahan Indonesia ke kategori pasar standalone. Jika terealisasi, status tersebut berisiko memutus akses Indonesia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terhadap aliran modal internasional. Indonesia juga akan dikelompokkan bersama pasar standalone lain seperti Lebanon dan Zimbabwe.
Sebelumnya, pada Januari 2026, MSCI sempat mengancam menurunkan Indonesia ke status frontier market karena minimnya transparansi kepemilikan saham dan perilaku perdagangan. Namun, dalam pernyataan terbarunya, MSCI menilai kurangnya kemajuan dalam membenahi persoalan tersebut membuat penurunan ke status frontier pun tidak lagi mencerminkan seriusnya masalah yang ada.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa MSCI bukan satu-satunya acuan bagi investor dalam menilai pasar modal Indonesia. Pernyataan itu menjadi penyeimbang di tengah kekhawatiran pasar terhadap risiko capital outflow dan ketidakpastian klasifikasi MSCI.
Jejak Panjang Pasang Surut IHSG
Perjalanan IHSG selama tiga dekade terakhir mencerminkan pasang surut ekonomi dan politik Indonesia. Setelah naik 24 persen pada 1996, IHSG dihantam krisis moneter Asia dan terjun dari rekor 740,83 pada Juli 1997 ke titik terendah 256,83 pada 21 September 1998, atau koreksi sekitar 65 persen dalam 14 bulan.
Fase ledakan komoditas pada 2003-2007 mengantar IHSG ke reli terpanjang dalam sejarahnya, menembus 1.000 pada 2004 dan mendekati 2.750 pada akhir 2007. Namun, runtuhnya Lehman Brothers membuat IHSG anjlok 51 persen pada 2008, sebelum pulih dengan lonjakan 87 persen pada 2009 dan 46 persen pada 2010.
Kini, setelah sempat menyentuh level 9.000 pada awal 2026, indeks kembali berada di kisaran 4.900-an. Bagi investor, perkembangan sentimen MSCI serta arus transaksi investor asing menjadi dua hal yang perlu dicermati karena keduanya menentukan arah pergerakan pasar dalam beberapa pekan ke depan.
Meski tekanan masih berlanjut, sejumlah analis menilai koreksi tajam dapat membuka peluang bagi investor jangka panjang yang mencari saham dengan valuasi menarik dan potensi imbal hasil dividen tinggi. Namun, strategi buy on weakness tetap perlu disesuaikan dengan pergerakan harga dan batas risiko masing-masing saham.
