Cakrawala News – 19 September 2026 | Imam Masjidil Haram Syekh Sudais kecam serangan Houthi ke tempat suci menyusul upaya serangan drone kelompok milisi Yaman yang diarahkan ke Kota Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi. Ketua Urusan Keagamaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syekh Abdul Rahman Al-Sudais, menegaskan bahwa penargetan tempat suci bertentangan dengan nilai keagamaan, kemanusiaan, serta hukum internasional. Kecaman itu disampaikan melalui pernyataan yang diunggah di situs resminya, Kamis (17/9/2026), sehari setelah otoritas Saudi mengumumkan keberhasilan mencegat drone tersebut.
Menurut pernyataan Sudais, tindakan menargetkan tempat suci mencerminkan pendekatan agresif yang merusak kedamaian. Ia menekankan bahwa Makkah dan Masjidil Haram memiliki kedudukan istimewa di hati umat Islam di seluruh dunia.
“Tempat-tempat suci memiliki kesucian dan kedudukan yang sangat besar di hati umat Islam. Allah telah mengagungkan kesuciannya, dan syariat melarang agresi,” kata Sudais.
Dalam pernyataannya, Syekh Sudais mengutip Surah Al-Baqarah ayat 190 tentang larangan melampaui batas, sejumlah ayat Al-Quran lainnya, serta hadis Nabi Muhammad SAW. Ia juga mengimbau umat Islam untuk memperkuat persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh rumor yang berkembang.
Kronologi Serangan dan Pencegatan
Juru bicara Koalisi untuk Memulihkan Legitimasi di Yaman, Mayor Jenderal Turki Al-Malki, yang juga menjabat jubir Kementerian Pertahanan Arab Saudi, menyatakan bahwa drone Houthi dicegat di wilayah selatan Makkah pada Selasa (15/9) malam. Menurut Al-Malki, drone tersebut dihancurkan sebelum memasuki wilayah udara terlarang Kota Suci Makkah.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengutuk keras serangan yang disebutnya sebagai tindakan teroris pengecut yang menargetkan kota suci dan kiblat umat Muslim. Riyadh menilai serangan itu sebagai pengulangan praktik milisi Houthi yang menargetkan dan melanggar kesucian tempat-tempat suci umat Muslim.
Kerajaan juga menyoroti bahwa upaya tersebut merupakan serangan kedua yang mengarah ke Makkah, setelah upaya pertama pada 27 Juli 2017. Pemerintah Saudi memuji kewaspadaan Angkatan Pertahanan Udara Kerajaan yang berhasil mencegat dan menghancurkan drone sebelum memasuki wilayah udara terlarang Makkah.
Kecaman dari Khatib dan Negara Lain
Kecaman serupa datang dari khatib Salat Jumat di Masjidil Haram, Syekh Bandar Baleelah. Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa Makkah dan Arab Saudi tidak akan goyah oleh kebencian maupun rencana jahat para penghasut.
“Arab Saudi akan tetap menjadi kiblat umat Islam, kebal terhadap kebencian orang-orang yang pendendam dan rencana jahat para penghasut,” kata Baleelah.
Baleelah menegaskan bahwa keamanan tempat-tempat suci dan nyawa orang tidak bersalah merupakan garis merah. Menurutnya, tindakan yang bertujuan meneror umat Islam atau berupaya merusak tempat-tempat suci merupakan pelanggaran terhadap kesucian lokasi tersebut.
“Siapa pun yang berani menargetkan Rumah Allah yang Suci dan Masjid Nabi-Nya, tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam,” ujar Baleelah. Ia juga menuduh kelompok Houthi menggunakan kedok agama untuk membenarkan tindakan destruktif mereka.
Khutbah Salat Jumat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi pada Jumat (18/9/2026) turut mengecam serangan tersebut. Kedua khatib menyebut percobaan serangan terhadap Dua Masjid Suci sebagai kejahatan berat dan penghinaan terhadap nilai-nilai Islam dan kemanusiaan.
Dukungan kecaman juga datang dari sejumlah negara. Qatar mengutuk keras serangan Houthi yang menargetkan Makkah dan menekankan bahwa upaya melanggar kesucian Makkah dan Masjidil Haram merupakan tindakan agresi yang memalukan. Sementara Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyampaikan kecaman keras atas upaya serangan drone tersebut, menyebutnya sebagai tindakan pengecut, sambil menegaskan dukungan Pakistan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Arab Saudi.
Seruan kepada Dunia Internasional
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi memperbarui seruannya kepada komunitas internasional untuk mengutuk serangan-serangan serius tersebut dan mengambil sikap tegas terhadap serangan milisi Houthi terhadap tempat-tempat suci serta fasilitas sipil dan ekonomi di Kerajaan. Riyadh juga mengutuk ancaman yang ditimbulkan milisi Houthi terhadap kebebasan navigasi maritim, pelayaran komersial, dan perdagangan internasional.
Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri menegaskan kembali hak sah Arab Saudi untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna mempertahankan keamanan Dua Masjid Suci, para peziarah dan pengunjung, serta seluruh wilayah Kerajaan, warga negara, dan penduduknya.
Di sisi lain, kelompok Houthi membantah menyasar tempat suci. Bantahan itu muncul di tengah kecaman luas dari otoritas Arab Saudi, para khatib Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta sejumlah pemerintah negara sahabat.
Imam Masjidil Haram Syekh Sudais kecam serangan Houthi ke tempat suci ini menegaskan bahwa isu kesucian Makkah menjadi perhatian utama dunia Islam. Pernyataan para pemuka agama dan pemerintah Saudi menunjukkan bahwa serangan terhadap tempat suci tidak hanya dipandang sebagai persoalan keamanan, tetapi juga pelanggaran terhadap nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Perkembangan selanjutnya yang perlu dicermati adalah langkah diplomatik Arab Saudi di forum internasional serta respons komunitas global terhadap seruan Riyadh. Selain itu, situasi keamanan di sekitar wilayah udara Makkah dan kawasan Yaman akan menjadi sorotan menyusul adanya bantahan dari pihak Houthi atas tuduhan penargetan tempat suci.
