Cakrawala News – 13 September 2026 | Impor minyak mentah Rusia tahap dua dimulai pemerintah Indonesia demi ketahanan energi nasional. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pembelian minyak mentah atau crude oil dari Rusia untuk tahap kedua sudah mulai berjalan. Kebijakan ini diambil untuk memastikan ketersediaan energi nasional tetap aman di tengah situasi geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
“Sudah, sudah, sudah mulai jalan ya,” kata Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Pernyataan itu menegaskan bahwa proses pengadaan tahap lanjutan yang sebelumnya masih dalam tahap persiapan kini telah memasuki fase pelaksanaan.
Skema G-to-G Dilanjutkan G-to-B
Bahlil menjelaskan, pengadaan minyak mentah dari Rusia berawal dari kerangka kerja sama antarnegara atau government-to-government (G-to-G). Kerja sama tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui skema bisnis antara pemerintah dan badan usaha atau government-to-business (G-to-B).
“Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada kontrak G-to-G yang kemudian diakhiri dengan G-to-B,” ujar Bahlil.
Menurutnya, langkah ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu sebelumnya. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kerja sama tersebut menjadi bagian dari diversifikasi sumber impor minyak mentah Indonesia agar tidak bergantung pada satu wilayah saja.
Sebelumnya, Bahlil juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan kontrak jangka panjang untuk pembelian minyak mentah dari Rusia. Proses pengadaan tersebut dilakukan oleh negara, bukan melalui Pertamina. Pada Agustus lalu, ia menyebut pembelian tahap pertama telah berhasil dilakukan, sedangkan tahap kedua masih dalam proses persiapan.
Prioritaskan Keekonomian dan Kepatuhan Aturan
Bahlil menegaskan, pemerintah akan memilih sumber pasokan minyak mentah berdasarkan skala prioritas, dengan tetap memperhatikan aspek keekonomian dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.
“Kita sekarang ini kan lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk,” kata dia.
Ia menambahkan, di tengah situasi geopolitik saat ini, pemerintah memprioritaskan pengadaan yang paling cepat tanpa melanggar ketentuan. Pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat menjadi pertimbangan utama, terutama ketika harga minyak dunia melonjak dan stok terbatas.
Bahlil juga menegaskan bahwa kepentingan rakyat ditempatkan di atas kepentingan lain dalam menentukan sumber pasokan energi.
“Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain. Apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” tuturnya.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan posisi Indonesia yang menganut politik luar negeri bebas aktif dalam mengambil keputusan terkait pasokan energi.
Harga Minyak Dunia Melonjak
Keputusan melanjutkan impor minyak mentah Rusia tidak terlepas dari kondisi pasar global. Kontrak berjangka minyak mentah Brent disebut menyentuh level USD 108,23 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melambung ke level USD 103,26 per barel.
Di sisi lain, kebutuhan impor minyak mentah Indonesia tetap tinggi karena produksi minyak nasional belum mencapai target pemerintah. Data Kementerian ESDM mencatat produksi minyak nasional pada 8 September 2026 mencapai 571.731 barel per hari, masih berada di bawah target produksi 2026 sebesar 610 ribu barel per hari.
Dengan membeli minyak dari Rusia, Bahlil memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite hingga solar tidak ikut naik meski harga minyak dunia melonjak. Jaminan itu menjadi salah satu alasan pemerintah menjaga pasokan dari berbagai sumber alternatif.
Bahlil sebelumnya juga menegaskan bahwa pemerintah menjamin harga Pertalite dan solar subsidi tidak naik di tengah lonjakan harga minyak dunia.
Diversifikasi Sumber Energi
Langkah ini menunjukkan upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi melalui diversifikasi sumber pasokan. Ketergantungan pada satu kawasan dinilai berisiko ketika kondisi global berubah cepat, termasuk ketika pasokan dari Timur Tengah disebut terhambat.
Dalam kerangka itu, impor minyak mentah Rusia tahap dua dimulai pemerintah Indonesia demi ketahanan energi nasional menjadi bagian dari strategi jangka panjang. Pemerintah menempatkan ketersediaan energi sebagai prioritas agar aktivitas ekonomi dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga.
Meski demikian, pelaksanaan kebijakan ini tetap memerlukan pengawasan agar sesuai aturan, transparan, dan tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari. Publik tentu menantikan detail lebih lanjut mengenai volume, jadwal pengiriman, serta dampaknya terhadap harga energi domestik.
Yang perlu diperhatikan berikutnya adalah kelanjutan kontrak jangka panjang, konsistensi pasokan, dan bagaimana kebijakan ini memengaruhi ketahanan energi nasional dalam beberapa bulan mendatang. Pemerintah memastikan proses tahap kedua telah berjalan, sementara kebutuhan energi masyarakat tetap menjadi pertimbangan utama.








