Sosial  

Influenza A Meningkat, Anak Berisiko Kena Komplikasi Berat, IDAI Minta Orang Tua Waspada

Influenza A Meningkat, Anak Berisiko Kena Komplikasi Berat, IDAI Minta Orang Tua Waspada
Influenza A Meningkat, Anak Berisiko Kena Komplikasi Berat, IDAI Minta Orang Tua Waspada

Cakrawala News – 24 September 2026 | Kasus Influenza A meningkat, anak berisiko kena komplikasi berat menjadi perhatian serius sejumlah pihak di Indonesia. Kementerian Kesehatan RI mengumumkan bahwa subtipe Influenza A H3N2 subklad K, yang populer disebut Super Flu, telah terdeteksi di 13 provinsi. Peningkatan ini membuat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan orang tua agar tidak meremehkan influenza pada anak, terutama mereka yang memiliki faktor risiko.

Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menyebut bahwa pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati. Ia menekankan pentingnya diagnosis laboratoris, terutama dengan RT-PCR yang memiliki sensitivitas dan spesifisitas tinggi serta mampu mengidentifikasi subtipe virus.

Anak Termasuk Kelompok Paling Rentan

Dalam keterangan resminya, Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), menjelaskan bahwa data global menunjukkan anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa. Menurutnya, sistem imun anak masih naif sehingga tubuh mereka belum cukup kuat untuk segera mengendalikan dampak infeksi virus.

Selain itu, anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan lebih lama. Kondisi ini membuat mereka berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga maupun sekolah. Karena itu, kewaspadaan terhadap Influenza A meningkat, anak berisiko kena komplikasi berat perlu diperkuat, khususnya di lingkungan dengan interaksi anak yang tinggi.

Data IDAI menunjukkan sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari jumlah tersebut, 80 persen merupakan anak di bawah usia 2 tahun dan 50 persen di antaranya berusia kurang dari 6 bulan. Anak di bawah 5 tahun memiliki morbiditas tinggi, terutama mereka yang menghadiri tempat penitipan anak, memiliki kelainan neurologi dan tumbuh kembang, tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang, atau berada di area padat penduduk.

Enam Langkah Rekomendasi IDAI

Menghadapi peningkatan kasus, IDAI merekomendasikan enam langkah penanganan influenza A pada anak. Rekomendasi ini disusun agar orang tua dan tenaga kesehatan memiliki panduan yang jelas dalam melakukan pencegahan, deteksi dini, dan tata laksana.

  1. Memberikan vaksinasi influenza tahunan untuk seluruh anak mulai usia 6 bulan, termasuk anggota keluarga lainnya.
  2. Menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan.
  3. Mengenali gejala influenza pada anak yang dapat muncul secara tiba-tiba.
  4. Segera melakukan pemeriksaan medis jika muncul tanda bahaya.
  5. Memberikan terapi antivirus sesuai anjuran dokter, terutama dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul.
  6. Mengisolasi anak yang sakit untuk mencegah penularan di rumah dan sekolah.

Prof. Anggraini menambahkan bahwa terapi antivirus neuraminidase inhibitor, seperti oseltamivir, efektif bila diberikan dalam 48 jam pertama sejak gejala muncul. Namun, pencegahan melalui vaksinasi tahunan dan penerapan protokol kesehatan tetap menjadi langkah yang tidak kalah penting.

Gejala dan Tanda Bahaya yang Perlu Dikenali

Influenza merupakan penyakit infeksi pada saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza. Virus tersebut mudah menular dan dapat menginfeksi hidung, tenggorokan, hingga paru-paru. Pada anak-anak, terutama usia di bawah 5 tahun, risiko komplikasi akibat influenza dapat lebih tinggi.

Salah satu ciri influenza adalah gejalanya dapat muncul secara tiba-tiba. Keluhan yang dialami setiap anak bisa berbeda-beda. Pada anak-anak, terutama usia yang lebih kecil, influenza juga dapat disertai muntah dan diare. Keluhan saluran pencernaan tersebut dilaporkan lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan orang dewasa. Meski demam termasuk gejala umum, tidak semua anak yang terkena influenza akan mengalami demam.

Orang tua juga perlu memahami bahwa gejala influenza dapat terlihat mirip dengan berbagai infeksi saluran pernapasan lainnya. Karena itu, munculnya batuk, pilek, atau demam saja belum cukup untuk memastikan bahwa anak mengalami influenza A. Jika diperlukan, dokter atau tenaga kesehatan dapat melakukan pemeriksaan dan tes influenza untuk membantu memastikan diagnosis.

Dorongan Penguatan Layanan Kesehatan Anak

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Obet Rumbruren, meminta pemerintah mengantisipasi peningkatan kasus Influenza A, terutama pada kelompok anak usia dini. Ia menyoroti data surveilans Kementerian Kesehatan yang menunjukkan proporsi spesimen positif influenza meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Menurutnya, mayoritas kasus yang terdeteksi merupakan Influenza A (H1N1) pdm09, dengan kelompok usia 0–4 tahun disebut menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak.

Obet menegaskan bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa. Ketika balita dan anak usia dini menjadi kelompok paling rentan, negara tidak boleh bersikap reaktif semata. Ia mengakui Kemenkes masih mengategorikan aktivitas influenza dalam level terkendali dan bersifat musiman, namun meminta pemerintah tetap mengantisipasi kemungkinan peningkatan kasus, termasuk dengan memperkuat kapasitas layanan kesehatan.

Ia juga menyoroti peningkatan rawat inap di sejumlah rumah sakit sentinel, terutama ruang rawat inap anak. Informasi mengenai fasilitas kesehatan yang mulai penuh di sejumlah daerah dinilai perlu menjadi perhatian pemerintah. Karena itu, Obet meminta pemerintah memperkuat deteksi dini sekaligus memastikan ketersediaan tenaga dokter spesialis anak, obat-obatan, ruang rawat anak, dan protokol penanganan yang terstandar.

Selain fasilitas kesehatan, edukasi kepada orang tua dinilai penting agar masyarakat dapat mengenali gejala yang memerlukan perhatian medis tanpa menimbulkan kepanikan. Pemerintah diminta memberikan informasi yang jelas dan mudah dipahami, termasuk tentang gejala yang harus diwaspadai seperti demam tinggi, batuk, dan sesak napas.

Konteks Global dan Pemantauan Kasus

Secara global, influenza diperkirakan menyebabkan 1 miliar infeksi setiap tahunnya, dengan 3–5 juta kasus berat dan 290 ribu–650 ribu kematian terkait pernapasan. Kelompok yang paling berisiko mengalami komplikasi meliputi anak di bawah 5 tahun, lansia, ibu hamil, individu dengan penyakit kronis, serta tenaga kesehatan dan pengasuh.

Menurut data WHO Western Pacific Region periode 1 September 2025–30 Agustus 2026, aktivitas influenza di zona transmisi Asia Tenggara terus meningkat. Di Indonesia sendiri, pemantauan sentinel menunjukkan fluktuasi positif influenza sepanjang tahun dengan puncak pada akhir 2025 dan lonjakan kembali pada pertengahan 2026. Lonjakan pasien juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur seiring meningkatnya aktivitas influenza di kawasan tersebut.

Dengan situasi ini, kewaspadaan terhadap Influenza A meningkat, anak berisiko kena komplikasi berat menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya orang tua. Deteksi dini, vaksinasi, dan penguatan layanan kesehatan anak menjadi kunci untuk menekan dampak yang lebih serius. Masyarakat diimbau mengikuti informasi resmi dari Kementerian Kesehatan dan IDAI agar langkah penanganan tetap tepat dan tidak menimbulkan kepanikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *