Jika Perang dengan Iran Berlanjut, Israel Siap Serang Lebanon untuk Basmi Hizbullah

Jika Perang dengan Iran Berlanjut, Israel Siap Serang Lebanon untuk Basmi Hizbullah
Jika Perang dengan Iran Berlanjut, Israel Siap Serang Lebanon untuk Basmi Hizbullah

Cakrawala News – 09 November 2026 | Jika perang dengan Iran berlanjut, Israel siap serang Lebanon. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dilaporkan tengah menyiapkan rencana serangan ke Lebanon untuk membasmi pasukan Hizbullah, langkah yang akan diambil apabila konfrontasi dengan Iran kembali memanas. Kabar ini pertama kali dilaporkan surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, berdasarkan informasi dari sumber rahasia pada Jumat (6/11/2026).

Menurut laporan tersebut, persiapan militer itu dilakukan di tengah rencana Israel dan Amerika Serikat (AS) yang dikabarkan akan meluncurkan serangan baru ke Iran. Dengan demikian, front Lebanon berpotensi kembali menjadi medan pertempuran jika perang dengan Teheran berlanjut.

Serangan Mereda, Warga Lebanon Tetap Waspada

Saat ini, serangan Israel ke Lebanon memang sedang mereda. Beberapa bulan sebelumnya, gempuran Israel ke Lebanon berlangsung sangat intens hingga menimbulkan korban jiwa setiap hari. Meski demikian, pasukan IDF tetap berpatroli di sekitar wilayah perbatasan Israel dan Lebanon di Lebanon selatan untuk mencegah serangan dari Hizbullah.

Meski intensitas serangan menurun, warga Lebanon disebut tetap waspada terhadap kemungkinan serangan lanjutan. Mereka menilai IDF bisa melakukan serangan mendadak kapan pun dan di mana pun. Karena itu, sebagian warga mulai menyelamatkan barang-barang, menimbun stok makanan dan obat-obatan, serta menyiapkan tempat aman atau pengungsian.

Salah seorang warga Lebanon bernama Aya mengaku sudah tidak sanggup menghadapi serangan Israel yang berlangsung sejak 2 Maret lalu. Serangan tersebut, menurutnya, telah banyak merugikan dan mengancam keselamatan keluarganya. Ia pun berencana mengungsi ke tempat yang lebih aman jika Israel kembali menyerang.

Aku sudah tidak punya energi lagi untuk ini. Saya tidak sanggup lagi mengalami pengungsian, terutama saat melihat orang-orang di sekitar saya menjalani hidup mereka seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Saya tahu itu normal, tetapi bagi saya itu sangat melelahkan secara mental.

Pernyataan itu disampaikan Aya kepada Al Jazeera, menggambarkan beban psikologis yang dialami warga sipil di tengah ketegangan yang belum usai.

Korban Jiwa dan Desakan Penarikan Pasukan

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat serangan Israel sejak Maret lalu telah menewaskan sekitar 4.390 orang dan melukai 12.429 orang lainnya. Jika dihitung dengan serangan sejak 2023, total korban tewas mencapai 8.957 orang dan lebih dari 30 ribu orang mengalami luka-luka.

Pemerintah Lebanon sebenarnya telah mendesak Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon. Penarikan pasukan merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai Israel dan Lebanon pada Juni lalu. Namun hingga saat ini, pasukan IDF masih banyak berada di Lebanon selatan.

Ketegangan Regional dan Peringatan Iran

Ketegangan antara Israel dan Hizbullah meningkat sejak 2 Maret, ketika kelompok Lebanon itu kembali meluncurkan roket ke wilayah Israel di tengah memburuknya situasi regional. Israel kemudian membalas dengan serangan besar-besaran ke Lebanon, termasuk wilayah selatan, Lembah Beqaa, dan pinggiran Beirut. Pada 16 Maret, militer Israel secara resmi mengumumkan operasi darat di Lebanon selatan.

Di sisi lain, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan akan menyerang pasukan Israel di Jalur Gaza jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon dan wilayah Palestina. Pernyataan itu disampaikan IRGC dengan menyebut konsentrasi pasukan musuh di bagian utara wilayah pendudukan Palestina dan Gaza akan menjadi sasaran serangan rudal dan drone dari Iran.

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, juga memperingatkan bahwa potensi perang di masa depan bisa berlangsung lebih lama daripada konflik sebelumnya. Menurutnya, Presiden Amerika tidak akan berada dalam posisi untuk menentukan waktu atau syarat berakhirnya perang tersebut. Peringatan itu disampaikan seperti dilaporkan televisi pemerintah Iran dan dikutip kantor berita AFP.

Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sebelumnya juga menegaskan bahwa jika musuh kembali melancarkan serangan militer atau teroris, Angkatan Bersenjata Republik Islam dan bangsa Iran-lah yang akan menentukan waktu dan kondisi untuk mengakhiri serangan tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi berharap pihak lain bertindak rasional dan memilih jalur diplomasi, meski ia menegaskan Teheran tetap siap untuk pertahanan maupun diplomasi.

Perang yang Tak Kunjung Usai

Konflik yang dimulai pada 28 Februari lalu dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran. Pasukan Teheran membalas dengan melancarkan serangan rudal dan drone terhadap aset-aset militer Washington di seluruh kawasan Timur Tengah. Kelompok milisi yang beraliansi dengan Iran turut terlibat, termasuk Hizbullah di Lebanon hingga Houthi di Yaman.

Perang yang awalnya diprediksi berlangsung singkat itu kini memasuki bulan kedelapan tanpa indikasi akan berakhir dalam waktu dekat. Upaya diplomatik yang dimediasi sejumlah pihak, seperti Qatar dan Pakistan, juga dilaporkan menghadapi kebuntuan.

Dalam konteks inilah rencana Israel untuk kembali menyerang Lebanon menjadi penting dicermati. Jika perang dengan Iran berlanjut, Israel siap serang Lebanon, dan hal itu berpotensi memperluas lingkup konflik yang sudah melibatkan banyak pihak di kawasan.

Ke depan, yang perlu diperhatikan adalah perkembangan rencana serangan baru ke Iran serta posisi pasukan IDF di Lebanon selatan. Nasib warga sipil Lebanon, yang hingga kini masih menanggung dampak kemanusiaan, juga menjadi sorotan utama di tengah ketidakpastian apakah ketegangan akan kembali meningkat atau justru mereda melalui jalur diplomasi.

Exit mobile version