Puncak Hujan Meteor Leonid 16-17 November 2026, Ini Jadwal dan Cara Menyaksikannya

Puncak Hujan Meteor Leonid 16-17 November 2026, Ini Jadwal dan Cara Menyaksikannya
Puncak Hujan Meteor Leonid 16-17 November 2026, Ini Jadwal dan Cara Menyaksikannya

Cakrawala News – 09 November 2026 | Pengamat langit di Indonesia berpeluang menyaksikan puncak hujan meteor Leonid yang diperkirakan terjadi pada malam 16 hingga 17 November 2026. Fenomena tahunan ini menjadi salah satu momen astronomi yang dinantikan, meski intensitas kemunculan meteor tahun ini diprediksi relatif rendah dibandingkan sejumlah hujan meteor lainnya.

Berdasarkan keterangan NASA, hujan meteor Leonid tahun ini sudah aktif sejak 6 November 2026 dan akan berlangsung hingga 30 November. Puncak aktivitasnya berada di pertengahan bulan, tepatnya pada 16-17 November 2026.

Leonid dikenal sebagai salah satu hujan meteor dengan kecepatan tertinggi. Pada 2026, meteor-meteor Leonid melesat dengan kecepatan mencapai 69,7 kilometer per detik saat memasuki atmosfer Bumi. Kecepatan itu membuat kilatan cahayanya tampak cepat dan tajam di langit malam.

Intensitas Rendah, tetapi Tetap Menarik

Meski tergolong hujan meteor utama, intensitas Leonid tahun ini diperkirakan kurang dari tiga meteor per jam dalam kondisi langit gelap. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah hujan meteor lain yang bisa mencapai belasan hingga ratusan meteor per jam.

Kendati demikian, Leonid memiliki daya tarik tersendiri. Meteor dari hujan ini dikenal terang dan berwarna-warni saat memasuki atmosfer. Selain itu, Leonid juga dikenal karena fenomena bola api atau fireball yang melintas dekat Bumi.

Bola api merupakan ledakan cahaya dan warna yang lebih besar serta dapat bertahan lebih lama daripada jejak meteor biasa. Fenomena ini terjadi karena bola api dan meteor berasal dari partikel material komet yang lebih besar, dengan tingkat kecerahan mencapai magnitudo lebih terang dari -3.

Berasal dari Komet Tempel-Tuttle

Hujan meteor Leonid terbentuk dari puing-puing antariksa yang berinteraksi dengan atmosfer Bumi akibat lintasan komet 55P/Tempel-Tuttle. Komet ini memiliki inti yang relatif kecil dengan diameter sekitar 2,24 mil dan membutuhkan waktu 33 tahun untuk sekali mengorbit Matahari.

Komet tersebut dinamai berdasarkan astronom Ernst Tempel dan Horace Tuttle yang menemukannya secara independen pada 1865 dan 1866. Siklus orbit 33 tahun inilah yang membuat Leonid sesekali menghasilkan badai meteor dengan intensitas luar biasa.

Dalam kondisi tertentu, jumlah meteor yang terlihat dapat meningkat hingga ratusan bahkan ribuan per jam, tergantung lokasi pengamatan. Badai Leonid terakhir tercatat terjadi pada tahun 2002.

Bukan Satu-satunya Fenomena November

Leonid hanyalah satu dari beberapa fenomena hujan meteor yang mewarnai langit pada periode akhir 2026. Sebelumnya, hujan meteor Taurid Selatan mencapai puncak aktivitasnya pada malam 4 November hingga dini hari 5 November 2026.

Mengutip laman Space, Taurid Selatan pada waktu puncaknya diperkirakan menghasilkan sekitar 5 hingga 10 meteor per jam dalam kondisi pengamatan ideal. Hujan meteor ini berasal dari serpihan debu dan material sisa Komet Encke atau 2P/Encke, dengan ciri khas pergerakan meteor yang relatif lambat serta sesekali menghasilkan fireball.

Sebelumnya lagi, hujan meteor Orionid mencapai puncak pada 21-22 Oktober 2026. Orionid berasal dari serpihan debu yang ditinggalkan Komet Halley dan dalam kondisi ideal dapat menampilkan 15 hingga 20 meteor per jam. Nama Orionid diambil dari rasi bintang Orion yang menjadi titik pancar semu meteor-meteor tersebut.

Setelah Leonid, penggemar astronomi masih bisa menantikan hujan meteor Geminid. Pada 2025, Geminid mencapai puncaknya pada 13-14 Desember, sementara di Indonesia puncaknya terjadi pada 14-15 Desember 2025 dengan perkiraan hingga 150 meteor per jam. Geminid dikenal sebagai salah satu hujan meteor paling spektakuler dan dapat diamati di seluruh dunia karena periode maksimumnya berlangsung hampir 24 jam.

Cara Menyaksikan Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid dapat diamati tanpa menggunakan teleskop maupun teropong. Pengamatan cukup dilakukan dengan mata telanjang, sehingga masyarakat umum bisa ikut menikmatinya dari lokasi yang memadai.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar pengamatan lebih optimal:

  • Pilih lokasi yang jauh dari cahaya kota dan lampu jalan.
  • Pastikan kondisi langit cerah dan tidak tertutup awan.
  • Beri waktu sekitar 15 hingga 20 menit agar mata menyesuaikan diri dengan gelapnya malam.
  • Amati langit secara luas, tidak perlu terpaku pada satu titik tertentu.

Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor umumnya adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar, ketika titik radian berada cukup tinggi di langit. Untuk Leonid, titik radiannya berada di konstelasi Leo.

Bagi pembaca yang ingin menyaksikan fenomena ini, malam 16-17 November 2026 menjadi momentum yang perlu dicatat. Meski jumlah meteor yang terlihat diperkirakan sedikit, kemungkinan munculnya meteor terang berwarna-warni hingga bola api tetap membuat Leonid layak dinantikan.

Fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa langit malam menyimpan berbagai peristiwa astronomi yang dapat dinikmati tanpa peralatan khusus. Dengan persiapan sederhana dan lokasi pengamatan yang tepat, hujan meteor Leonid bisa menjadi tontonan menarik sekaligus sarana belajar tentang tata surya.

Exit mobile version