Pangdam Iskandar Muda Tegaskan Tak Ada Amunisi Tajam saat Bentrok di Pidie

Pangdam Iskandar Muda Tegaskan Tak Ada Amunisi Tajam saat Bentrok di Pidie
Pangdam Iskandar Muda Tegaskan Tak Ada Amunisi Tajam saat Bentrok di Pidie

Cakrawala News – 09 November 2026 | Pangdam Iskandar Muda tegaskan tak ada amunisi tajam saat bentrok di Pidie, Aceh, dalam peristiwa yang terjadi pada Rabu, 4 November 2026. Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda (Pangdam IM) Brigadir Jenderal TNI Mahesa Fitriadi menyatakan personel TNI yang dikerahkan di lapangan hanya menggunakan peluru hampa dan peluru karet untuk tembakan peringatan ke udara. Pernyataan itu disampaikan untuk merespons pertanyaan publik mengenai insiden dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kabupaten Pidie yang berujung ricuh.

“Saya yakini dan saya pertanggungjawabkan tidak ada satu butir pun amunisi tajam,” ujar Mahesa saat memberikan keterangan di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh, Jumat, 6 November 2026, seperti dikutip dari sejumlah pemberitaan.

Meski demikian, insiden tersebut tetap menimbulkan korban. Sebanyak 14 warga menjadi korban, dengan 13 orang mengalami luka-luka dan satu orang meninggal dunia akibat tertembak di bagian dada. Selain itu, enam personel TNI dilaporkan mengalami luka-luka dalam bentrokan yang terjadi di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.

Kronologi Kericuhan Menurut Pangdam

Mahesa menjelaskan, kericuhan berawal dari pengibaran Bendera Bulan Bintang, simbol yang identik dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dalam penertiban tersebut, personel yang bergerak ke lokasi berjumlah 272 orang dan tidak semuanya membawa senjata. Menurutnya, pemanfaatan senjata hanya untuk memberikan peringatan.

Ia menyebut TNI telah memberikan penjelasan terkait bendera tersebut kepada masyarakat. Namun, terjadi pelemparan batu dan kayu dari depan, belakang, kiri, dan kanan yang menurutnya sudah disiapkan.

Karena kondisi tersebut, Komandan Kodim (Dandim) memerintahkan pasukannya mundur. Namun, massa tetap mengejar personel TNI. Lantaran situasi semakin terdesak, komandan di lapangan mengambil keputusan melepaskan tembakan peringatan ke atas guna menghentikan pergerakan massa.

“Di situ lah diperintahkan menembak peringatan dengan peluru hampa. Ada peluru karet. Sementara ini peluru karet digunakan untuk menembak ke atas dan bukan diarahkan ke warga,” tutur Mahesa.

Menurutnya, tembakan ke udara itu ditujukan untuk memunculkan efek suara agar situasi terkendali dan warga dapat menahan diri dari tindakan anarkis. “Mungkin dengan efek bunyi, saudara-saudara kita bisa menahan diri,” katanya.

Investigasi Internal dan Pemeriksaan Senjata

Pangdam Iskandar Muda tegaskan tak ada amunisi tajam saat bentrok di Pidie, namun ia juga memastikan pihaknya tetap melakukan investigasi internal. Seluruh senjata yang digunakan saat bentrokan telah dipisahkan untuk diperiksa. Pemeriksaan itu bertujuan mengidentifikasi senjata yang meletus dan digunakan untuk memberikan tembakan peringatan.

“Senjata yang dipakai saja kami pisahkan, kemudian tentu ada teknik-teknik untuk mencari mana senjata yang meletus saat itu atau memberi peringatan,” ujarnya.

Mahesa menambahkan, hasil investigasi akan segera disampaikan kepada masyarakat setelah prosesnya selesai. Namun, ia menyatakan proses pendalaman masih membutuhkan waktu. “Kalau nanti sudah ada hasilnya, tentu kami beritahu, tentunya dalam dua hari ini kami belum bisa, karena ada proses yang kami lakukan,” kata dia.

Dalam rangka pendalaman, anggota yang bertindak saat penertiban bendera tersebut belum dikembalikan ke satuan masing-masing dan masih dikonsolidasikan di Kodim Pidie.

Pemerintah Pastikan Penyelidikan

Pernyataan Pangdam disampaikan dalam konferensi pers bersama Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas) Yusril Ihza Mahendra serta Kapolda Aceh Irjen Pol. Ruddi Setiawan di ruang VIP Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar.

Pemerintah melalui Menko Kumham Imipas memastikan penyelidikan untuk mengusut pelaku, pihak yang bertanggung jawab, dan penegakan hukum atas peristiwa di Pidie. Pemerintah juga mempersilakan Komnas HAM menyelidiki peristiwa penembakan tersebut.

Pangdam IM mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi, serta bersama-sama menjaga persatuan dan keamanan Aceh.

Perlu dicatat, terdapat perbedaan penyebutan pangkat dan nama Pangdam IM di sejumlah pemberitaan, yakni Brigadir Jenderal TNI Mahesa Fitriadi dan Mayjen TNI Mahendra Fitriadi. Perbedaan itu tidak mengubah substansi pernyataan resmi mengenai klaim tidak digunakannya amunisi tajam.

Hingga kini, publik masih menantikan hasil investigasi internal TNI yang dijanjikan akan diumumkan setelah proses pendalaman selesai. Selain itu, penyelidikan yang dijanjikan pemerintah menjadi hal yang perlu terus diikuti untuk memastikan transparansi penanganan kasus yang menewaskan satu warga ini.

Exit mobile version