Cakrawala News – 12 September 2026 | Polemik pembatalan penampilan band asal Bandung, Juicy Luicy, di sebuah festival di Batam tengah menjadi perhatian publik. Grup musik yang identik dengan lagu-lagu bertema percintaan itu urung tampil karena persoalan keberangkatan yang dikaitkan dengan akomodasi hotel dan bagasi pesawat. Vokalis Juicy Luicy, Julian Kaisar atau yang akrab disapa Uan, sebelumnya mengungkapkan alasan dari sudut pandangnya terkait pembatalan tersebut.
“Nggak jadi tampil di Batam karena panitianya g*b**k,” kata Uan Kaisar, sebagaimana dikutip dari akun Instagram @lambe_turah pada Sabtu, 12 September 2026. Ia juga menyebut persoalan hotel yang baru dibayar sehari sebelum acara serta bagasi yang tidak dibayar meski biaya tampil disebut sudah lunas.
Pernyataan itu memicu beragam reaksi, terutama dari pihak penyelenggara yang kemudian memberikan klarifikasi. Juicy Luicy pun akhirnya buka suara dan membeberkan kronologi dari sudut pandang mereka, termasuk membantah narasi yang menurut mereka telah diputarbalikkan.
Kronologi dan Persoalan Biaya Bagasi
Melalui klarifikasi yang dibagikan di tengah ramainya kasus tersebut, Juicy Luicy menjelaskan bahwa persoalan bermula dari proses pemenuhan kewajiban penyelenggara yang dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Menurut pihak band, mereka sudah menagih pelunasan biaya tampil dan kepastian keberangkatan sejak tujuh hari sebelum acara berlangsung.
Persoalan berlanjut hingga beberapa jam sebelum keberangkatan ke Batam. Salah satu hal yang menjadi sorotan adalah biaya bagasi ekstra yang disebut mencapai Rp64 juta ketika dibeli di bandara. Angka tersebut menjadi salah satu poin yang ramai dibahas publik dalam polemik ini.
Pihak penyelenggara sebelumnya juga memberikan klarifikasi mengenai persoalan kelebihan bagasi tersebut. Namun, hingga kini kedua belah pihak masih memiliki versi masing-masing terkait duduk perkara pembatalan penampilan di Batam.
Perjalanan Karier Juicy Luicy
Di tengah polemik tersebut, publik kembali mencari tahu sosok Juicy Luicy, termasuk perjalanan panjang mereka sebelum dikenal luas seperti sekarang. Juicy Luicy berdiri di Bandung pada 4 April 2010. Grup ini awalnya digagas oleh Denis Ligia dan Julian Kaisar yang kemudian mengembangkan proyek musik tersebut bersama sejumlah personel lainnya.
Seiring perjalanan waktu, formasi band mengalami perubahan. Saat ini, Juicy Luicy dikenal dengan Julian Kaisar sebagai vokalis, bersama Denis Ligia, Zam Zam Y.M, Gilang Kurniawan, dan Dwi Nugroho.
Sebelum berada di bawah label mayor, mereka lebih dulu membangun karier secara independen. Kesempatan bergabung dengan label mayor datang pada 2015. Juicy Luicy semakin dikenal berkat lagu-lagu yang mengangkat kisah cinta, patah hati, hingga hubungan yang tidak berjalan sesuai harapan.
Salah satu lagu yang menjadi tonggak popularitas mereka adalah “Tanpa Tergesa” yang dirilis pada 2018. Setelah itu, “Lantas” yang dirilis pada 2020 ikut mengangkat nama mereka semakin tinggi.
Dinamika Dunia Hiburan dan Penyelenggaraan Acara
Kasus pembatalan penampilan Juicy Luicy menyoroti pentingnya kejelasan kontrak dan komunikasi antara pelaku industri musik dengan penyelenggara acara. Persoalan akomodasi, transportasi, dan bagasi peralatan menjadi bagian yang kerap dihadapi musisi saat tampil di luar kota, termasuk ke wilayah seperti Batam yang dijangkau melalui penerbangan.
Bagi penonton, pembatalan mendadak tentu menimbulkan kekecewaan, terutama jika tiket telah dibeli dan perjalanan telah direncanakan. Bagi musisi, kepastian pemenuhan kewajiban penyelenggara menjadi hal mendasar sebelum mereka berangkat dan tampil di atas panggung.
Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai langkah penyelesaian antara kedua pihak. Publik masih menantikan apakah akan ada pertemuan lanjutan, klarifikasi resmi dari penyelenggara, atau kemungkinan penjadwalan ulang penampilan Juicy Luicy di Batam pada waktu mendatang.
Yang jelas, polemik ini menjadi pengingat bahwa di balik sebuah pertunjukan musik, terdapat rangkaian kesepakatan teknis dan administratif yang harus dipenuhi semua pihak. Kejelasan sejak awal akan membantu mencegah pembatalan yang merugikan penonton, musisi, maupun penyelenggara.
