Cakrawala News – 12 September 2026 | Kronologi anak 9 tahun tewas tenggelam di pemandian Ngawi saat ditinggal beli mi berawal dari kunjungan liburan yang seharusnya menyenangkan. Bocah berinisial RDA, siswa kelas 3 SD asal Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, meninggal dunia setelah tenggelam di kolam pemandian wisata Tawun, Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, pada Minggu (6/9/2026) pagi. Korban diduga berpindah dari kolam anak ke kolam dewasa sedalam sekitar 1,5 meter ketika sang ibu sedang membeli makanan tidak jauh dari lokasi kejadian.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.00 WIB. RDA datang ke Taman Wisata Tawun bersama ibunya, Sukarti (45), dan seorang tetangga menggunakan kereta mini. Setibanya di lokasi wisata, korban bermain dan berenang di kolam khusus anak-anak. Situasi di kawasan wisata saat itu berlangsung seperti biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengarah pada kejadian tragis.
Keberadaan korban di kolam anak membuat sang ibu merasa putranya berada di area yang relatif aman. Karena itu, Sukarti sempat meninggalkan anaknya sejenak untuk memenuhi permintaan sederhana sang anak. Sebelum pukul 09.00 WIB, RDA meminta ibunya membelikan mi instan yang telah dipesan di warung sekitar lokasi wisata.
Berpindah ke Kolam Dewasa
Menurut keterangan yang dihimpun dari lokasi kejadian, saat ditinggalkan korban masih berada di kolam anak. Namun, selama sang ibu pergi, korban diduga berpindah ke kolam dewasa yang memiliki kedalaman sekitar 1,5 meter. Korban diketahui tidak memiliki kemampuan berenang sehingga diduga kesulitan saat berada di kolam yang lebih dalam.
Sekitar pukul 09.00 WIB, sang ibu menemukan RDA dalam kondisi tenggelam. Warga bersama petugas langsung melakukan evakuasi dan membawa korban ke Puskesmas Kasreman untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawa korban tidak berhasil diselamatkan. Petugas memastikan korban telah meninggal dunia saat tiba di fasilitas kesehatan tersebut.
Kepala Subsektor Kasreman, Iptu Taufik Kasana, mengatakan polisi langsung mendatangi lokasi setelah menerima laporan mengenai bocah yang tenggelam. Menurutnya, korban dievakuasi ke puskesmas dan dinyatakan meninggal dunia saat kejadian karena tidak bisa berenang, dalam kondisi ditinggal ibunya membeli jajan di kolam dengan kedalaman 1,5 meter.
Keluarga Terpukul
Tangis keluarga pecah di Puskesmas Kasreman setelah korban dievakuasi dari lokasi kejadian. Sukarti hanya bisa menangis melihat anak keduanya dari dua bersaudara itu sudah tidak bernyawa. Ayah korban, Katimun (50), juga tiba di Puskesmas Kasreman dan tampak tidak kuasa menahan kesedihan saat memberikan ciuman terakhir kepada putranya.
Nur Kholida, tetangga korban yang ikut dalam perjalanan wisata tersebut, mengatakan korban sebelumnya berenang ketika ibunya pergi membeli makanan. Menurut dia, korban tidak memiliki riwayat penyakit epilepsi dan dalam kondisi sehat. Keterangan itu memperkuat dugaan bahwa penyebab kejadian murni karena korban tidak bisa berenang di kolam yang lebih dalam.
Dari hasil pemeriksaan, korban dinyatakan meninggal akibat tenggelam tanpa ditemukan tanda-tanda kekerasan. Polisi menyimpulkan tidak ada unsur pidana dalam peristiwa ini dan keluarga telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah.
Peringatan bagi Orangtua
Kasus kronologi anak 9 tahun tewas tenggelam di pemandian Ngawi saat ditinggal beli mi menjadi pengingat bagi para orangtua bahwa pengawasan anak di area perairan perlu dilakukan secara penuh. Kolam anak yang dianggap aman tidak menjamin anak tetap berada di tempat yang sama, terutama ketika orangtua meninggalkan lokasi meski hanya untuk waktu singkat.
Anak-anak yang belum bisa berenang rentan berpindah ke area yang lebih dalam tanpa disadari. Karena itu, penting bagi orangtua untuk memastikan anak tetap dalam jangkauan pandangan, atau menitipkan pengawasan kepada orang dewasa lain yang dipercaya saat harus meninggalkan area kolam.
Pengelola tempat wisata juga diharapkan memastikan penanda batas kedalaman kolam terlihat jelas, menyediakan pengawas kolam, serta melengkapi fasilitas keselamatan seperti pelampung dan tali penyelamat. Langkah-langkah itu menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa terulang di kemudian hari.
Peristiwa di Ngawi ini menambah daftar musibah tenggelam yang menimpa anak-anak di kawasan wisata air. Duka yang dialami keluarga RDA menjadi pelajaran bersama bahwa keselamatan anak di area perairan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada anggapan bahwa kolam anak selalu aman.
