Kesaksian Penyelam Satkoppeba TNI AL Evakuasi Korban dari Dalam KM Virgo, Arus Kuat dan Jarak Pandang Terbatas

Cakrawala News – 27 September 2026 | Kesaksian penyelam Satkoppeba TNI AL evakuasi korban dari dalam KM Virgo menjadi sorotan dalam operasi SAR gabungan yang telah memasuki hari ke-14. Para penyelam dari Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) bersama Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II diterjunkan langsung ke bangkai kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam dan terbalik di Perairan Masalembo, Laut Jawa. Mereka harus bekerja di tengah derasnya arus laut dan jarak pandang yang terbatas untuk mengeluarkan korban dari dalam kapal.

Operasi penyelaman ini menjadi salah satu bagian paling menantang dalam pencarian korban KM Virgo Transport 8. Kapal penumpang berukuran panjang 119 meter, lebar 21 meter, dan tinggi lebih dari 17 meter itu kini berada di dasar laut dengan posisi terbalik, sehingga menyisakan ruang-ruang sempit yang menyulitkan proses evakuasi.

Evakuasi Bertahap dari Buritan Kanan Kapal

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Laksamana Tunggul, menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan dalam beberapa tahap. Pada penyelaman tahap pertama, penyelam TNI AL berhasil mengevakuasi tujuh jenazah berjenis kelamin laki-laki. Selanjutnya pada tahap kedua, penyelam kembali menemukan satu jenazah setelah membuka akses dengan memecahkan kaca bagian buritan lambung kanan kapal.

Pada tahap ketiga, tim penyelam gabungan berhasil menemukan enam jenazah yang seluruhnya berjenis kelamin laki-laki. Seluruh jenazah itu ditemukan di ruangan buritan lambung kanan KMP Virgo Transport 8. Dengan demikian, total 14 jenazah berhasil dievakuasi dalam operasi hari ke-12 tersebut.

Menurut Tunggul, penyelaman melibatkan tim dari Basarnas dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI). TNI AL juga mengerahkan tiga kapal perang, yakni KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan KRI Hiu-634, serta satu helikopter HS-1311 untuk mendukung operasi kemanusiaan itu.

Arus Tidak Stabil dan Jarak Pandang Jadi Tantangan

Dalam laporan jurnalis Kompas TV, Priscilla Nikola, penyelam menghadapi tantangan berat berupa arus laut yang tidak stabil dan jarak pandang bawah air yang terbatas. Kondisi tersebut membuat setiap penyelaman harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak membahayakan keselamatan para penyelam.

Proses evakuasi juga dilakukan secara bertahap. Setelah berhasil dikeluarkan dari dalam kapal, jenazah dibawa ke permukaan dan dievakuasi menuju KRI I Gusti Ngurah Rai-332, sebelum selanjutnya dipindahkan ke KN SAR Pacitan untuk penanganan lebih lanjut.

TNI AL juga bekerja sama dengan TB Jaya Dragon yang mengerahkan perangkat remotely operated vehicle (ROV). Alat ini membantu mendapatkan gambaran kondisi bawah air serta mendukung pencarian korban yang masih berada di dalam kapal.

Perkembangan Jumlah Korban

Data korban terus diperbarui seiring berjalannya operasi. Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa per pukul 15.00 WIB, Kamis (24/9/2026), sebanyak 150 korban telah dievakuasi. Dari jumlah itu, 108 orang selamat dan 42 orang meninggal dunia. Dengan mengacu pada manifes, masih ada 93 orang dalam pencarian.

Syafii mengaku berharap kondisi cuaca dan arus laut membaik sehingga para penyelam, khususnya dari Basarnas, dapat melaksanakan pencarian dan evakuasi korban. Ia meyakini masih banyak korban berada di dalam bangkai kapal, meski belum dapat memastikan posisi mereka secara spesifik.

“Kalau kemungkinan pasti (ada korban di kamar). Segala kemungkinan bisa terjadi. Soal tertumpuk atau tidak, yang jelas kondisi korban kan ada di kamar-kamar, kemudian ada di mungkin ruangan-ruangan,” ujar Syafii dalam rapat dengan Komisi V DPR di gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Ia menambahkan, karena kapal penumpang itu berukuran besar, korban dimungkinkan berada di banyak sekat tertentu di dalam kapal.

Operasi SAR Diperpanjang Tujuh Hari

Pada pencarian hari ke-14, tim SAR gabungan kembali menemukan empat kantong jenazah. Direktur Operasi Basarnas Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo mengatakan total tim SAR menemukan 11 jenazah dalam operasi pencarian hari itu, dengan tujuh jenazah ditemukan di perairan Palangkaraya dan empat lainnya ditemukan saat operasi penyelaman ke bangkai KM Virgo.

Dengan perkembangan tersebut, total 71 korban masih dicari dan 64 lainnya dinyatakan meninggal. Operasi pencarian KM Virgo Transport 8 pun akan diperpanjang selama tujuh hari ke depan. Perpanjangan ini dilakukan untuk memaksimalkan upaya pencarian korban yang masih berada di dalam bangkai kapal.

Kapuspen TNI Mayjen Muhammad Nas menyampaikan apresiasi kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang terus bekerja dalam proses pencarian dan evakuasi korban. Ia menegaskan TNI akan terus mendukung operasi kemanusiaan ini dengan mengerahkan personel, alutsista, dan kemampuan terbaik, serta bersinergi dengan seluruh unsur terkait hingga seluruh tahapan penanganan korban selesai.

Pengangkatan Badan Kapal Masih Dibahas

Selain melanjutkan pencarian korban, pihak berwenang juga masih membahas rencana pengangkatan badan kapal bersama pemilik dan tim terkait. Pembahasan ini penting mengingat posisi kapal yang terbalik di dasar laut menyulitkan proses evakuasi sekaligus menimbulkan risiko bagi para penyelam.

Hingga kini, seluruh jenazah korban yang berhasil dievakuasi diterbangkan ke Banjarmasin untuk proses identifikasi di RS Bhayangkara. Proses identifikasi menjadi tahap penting agar jenazah dapat diserahkan kepada keluarga masing-masing.

Kesaksian penyelam Satkoppeba TNI AL evakuasi korban dari dalam KM Virgo sekaligus menggambarkan betapa kompleksnya operasi SAR di perairan dalam. Kombinasi arus kuat, jarak pandang terbatas, serta struktur kapal yang terbalik menjadikan setiap penyelaman penuh risiko. Dukungan personel, alutsista, dan teknologi seperti ROV menjadi kunci agar proses pencarian dapat terus berjalan.

Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada hasil perpanjangan operasi SAR selama tujuh hari serta kepastian rencana pengangkatan badan kapal. Perkembangan kedua hal tersebut akan menentukan seberapa cepat seluruh korban dapat ditemukan dan proses penanganan pascainsiden dapat diselesaikan.

Exit mobile version