Cakrawala News – 24 Oktober 2026 | Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal balistik yang ditembakkan kelompok Houthi ke arah Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Jumat, 23 Oktober 2026. Juru bicara koalisi, Brigadir Jenderal Turki al-Maliki, menyampaikan informasi tersebut melalui pernyataan di platform media sosial X.
Menurut al-Maliki, rudal balistik yang diarahkan ke Riyadh telah dicegat dan dihancurkan. Namun, ia tidak memberikan perincian mengenai asal peluncuran maupun sasaran spesifik yang dituju rudal tersebut.
Insiden itu bukan satu-satunya dalam beberapa hari terakhir. Pada Sabtu, 24 Oktober 2026, koalisi kembali mengumumkan bahwa dua rudal balistik milik Houthi yang mengarah ke Kota Taif dan Yanbu berhasil dicegat dan dihancurkan. Pernyataan serupa disampaikan al-Maliki melalui akun X resmi koalisi.
Peringatan Bahaya di Empat Wilayah
Sehari sebelumnya, Badan Pertahanan Sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya di sejumlah wilayah kerajaan. Pada Sabtu, badan tersebut mengumumkan bahwa ancaman di empat wilayah telah berlalu.
Melalui pernyataan di media sosial X, Badan Pertahanan Sipil menyebut peringatan telah berakhir di wilayah Jeddah, Taif, dan Yanbu, serta Provinsi Makkah. Otoritas setempat juga mengimbau masyarakat untuk mengikuti arahan petugas dan menghindari berkumpul maupun merekam situasi di wilayah terdampak.
Rangkaian peringatan dan intersepsi ini terjadi di tengah meningkatnya permusuhan antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Ketegangan tersebut mencakup serangan rudal dan pesawat nirawak atau drone yang menyasar bandara serta fasilitas energi di Arab Saudi.
Koalisi yang dipimpin Riyadh secara resmi bernama Coalition to Support Legitimacy in Yemen atau Koalisi untuk Mendukung Pemerintahan yang Sah di Yaman. Koalisi ini telah berperang melawan kelompok Houthi di Yaman sejak 2015, ketika Arab Saudi memimpin intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Sementara itu, kelompok Houthi telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan sejumlah wilayah lain di negara tersebut sejak 2014.
Mesir Tawarkan Bantuan, tetapi Menolak Menyerang Yaman
Di tengah eskalasi tersebut, Mesir menyatakan siap membantu Arab Saudi mempertahankan wilayahnya dari serangan Houthi maupun negara lain. Namun, Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi menegaskan Kairo tidak akan terlibat dalam operasi militer untuk menyerang Houthi di Yaman.
Menurut Al-Sisi, bantuan militer Mesir hanya akan diberikan untuk mempertahankan wilayah Riyadh dan tidak akan melampaui batas wilayah Arab Saudi. Bantuan tersebut diberikan berdasarkan permintaan dan arahan dari Riyadh. Hal ini disampaikan kepada Arab Saudi saat Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty dan Kepala Badan Intelijen Mesir Hassan Rashad berkunjung ke Riyadh dan berdiskusi langsung dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Rencana bantuan militer itu masih akan dibahas di parlemen Mesir. Rapat yang semula dijadwalkan pekan ini diundur ke Senin, 26 Oktober 2026, tanpa penjelasan resmi mengenai alasan penundaan. Langkah ini dinilai penting karena bantuan tersebut berpotensi menempatkan Kairo pada posisi yang berisiko ikut diserang Houthi.
Di sisi lain, Arab Saudi dilaporkan menolak tawaran bantuan militer dari Israel untuk memerangi Houthi. Pangeran Mohammed bin Salman disebut tidak tertarik menerima asistensi militer dari Tel Aviv, antara lain karena hal itu berpotensi menuai reaksi negatif di dalam negeri. Arab Saudi sendiri merupakan salah satu negara yang paling vokal menentang agresi militer Israel di Gaza, Palestina.
Pakta Pertahanan Makkah Mulai Diterapkan
Eskalasi keamanan regional juga mendorong penguatan kerja sama pertahanan antarnegara. Pakistan mengumumkan telah menyelesaikan proses ratifikasi Pakta Pertahanan Makkah bersama Turki dan Arab Saudi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Sajjad Haider Khan, menyampaikan hal itu dalam konferensi pers pada Jumat, 23 Oktober 2026.
Menurut Khan, perjanjian tersebut mencerminkan komitmen bersama Pakistan, Turki, dan Arab Saudi untuk memperkuat pertahanan kolektif serta kerja sama demi keamanan dan stabilitas kawasan. Arab Saudi disebut telah lebih dulu menyelesaikan proses ratifikasi perjanjian itu. Pakistan menegaskan komitmennya pada isi dan semangat perjanjian yang bersifat defensif, sejalan dengan Piagam PBB, dan bertujuan mendorong perdamaian serta stabilitas kawasan.
Perjanjian itu bertujuan memperkuat keamanan ketiga negara melalui pencegahan kolektif dan pertahanan bersama. Pembahasan rincian perjanjian, ratifikasi, dan penerapannya masih berlangsung di antara ketiga pihak, termasuk melalui Komite Strategis, Politik, dan Pertahanan yang terakhir bertemu pada 5 Oktober. Pakta tersebut ditandatangani pada 7 Agustus oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, serta Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman di Makkah.
Dengan kombinasi serangan rudal yang terus meningkat, peringatan pertahanan sipil, dan pergerakan diplomasi pertahanan di kawasan, situasi keamanan di sekitar Arab Saudi masih menjadi perhatian. Perkembangan yang perlu dicermati ke depan mencakup hasil pembahasan parlemen Mesir pada 26 Oktober serta efektivitas penerapan Pakta Pertahanan Makkah dalam menahan eskalasi dari kelompok Houthi.
