Cakrawala News – 04 Oktober 2026 | Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuding Houthi serang fasilitas listrik Masjid Nabawi di Madinah melalui serangan drone yang menghantam stasiun distribusi listrik Taibah. Serangan itu terjadi pada Selasa, 29 September 2026, dan merusak satu unit transformator gardu induk yang berperan memasok daya ke salah satu situs paling suci umat Islam tersebut. Meski demikian, otoritas memastikan insiden tersebut tidak menyebabkan pemadaman listrik secara luas dan aliran listrik kota tetap beroperasi normal.
Juru bicara Koalisi untuk Pemulihan Legitimasi Yaman, Brigadir Jenderal Turki al-Maliki, mengatakan gardu listrik Taibah memiliki peran vital dalam menyuplai listrik untuk Masjid Nabawi. Menurutnya, satu transformator rusak akibat serangan tersebut, tetapi kerusakan itu tidak melumpuhkan seluruh jaringan listrik di masjid yang tak pernah sepi oleh jemaah dari berbagai penjuru dunia itu.
Koalisi menyatakan telah melakukan investigasi dan pemeriksaan terhadap pecahan drone yang digunakan dalam serangan. Hasilnya, menurut pihak koalisi, mengonfirmasi keterlibatan milisi Houthi dalam merencanakan serta mengeksekusi aksi tersebut. Al-Maliki menyebut aparat menemukan puing drone di lokasi kejadian setelah ledakan merusak transformator gardu induk.
Bantahan Houthi dan Tudingan Manipulasi Informasi
Kelompok Houthi membantah tuduhan koalisi. Sumber militer Houthi melalui kantor berita Saba menegaskan pihaknya tidak pernah menargetkan fasilitas di Madinah. Mereka menilai pernyataan koalisi sebagai kebohongan dan menuduh pihak Saudi sengaja memanipulasi informasi publik setelah sebelumnya gagal menunjukkan bukti klaim pencegatan drone di selatan Makkah pada September lalu.
Pihak Houthi juga membantah telah menargetkan Makkah ataupun situs suci Islam lainnya. Koalisi pimpinan Saudi sendiri menggambarkan insiden di Madinah sebagai upaya kedua Houthi untuk menargetkan Makkah sejak tahun 2017. Perbedaan klaim antara kedua pihak ini menjadi salah satu titik yang masih menjadi perdebatan dan belum terselesaikan secara independen.
Koalisi menuding Houthi dengan sengaja berusaha memprovokasi sentimen jutaan Muslim di seluruh dunia dengan menargetkan tempat-tempat yang berkaitan dengan dua masjid suci. Pihak koalisi menegaskan akan terus mengambil langkah-langkah militer yang diperlukan guna mencegah tindakan Houthi, melindungi dua masjid suci, serta menjamin keamanan para jemaah di Makkah dan Madinah.
Kecaman Internasional dan Ketegangan yang Memanas
Berita serangan tersebut memicu kecaman dari komunitas internasional. Kementerian Luar Negeri Turki mengutuk keras serangan terhadap infrastruktur sipil yang melayani Masjid Nabawi. Menurut pernyataan kementerian tersebut, serangan provokatif itu mengancam kedaulatan dan keamanan Arab Saudi serta menargetkan nilai-nilai suci dunia Islam, sehingga harus dihentikan segera dan tanpa syarat.
Sejumlah negara Arab dan organisasi kawasan menilai serangan terhadap sarana publik di dekat situs suci dapat memperkeruh situasi keamanan Timur Tengah. Serangan udara dari arah Yaman ke wilayah Saudi dilaporkan meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, sistem pertahanan udara Saudi dikabarkan berhasil mencegat empat drone Houthi di langit Khamis Mushait dan melumpuhkan dua rudal balistik di Khamis Mushait serta Jazan.
Beberapa jam setelah pernyataan koalisi mengenai serangan di Madinah, pihak Houthi melaporkan adanya serangan Saudi terhadap Ibu Kota Yaman, Sanaa, dan wilayah lain di Yaman. Menurut kantor berita mereka, Arab Saudi melancarkan serangan terhadap Sanaa serta provinsi Saada, Taiz, dan Amran. Belum ada konfirmasi terkini dari pihak Saudi mengenai laporan tersebut.
Konflik yang Kembali Memanas Setelah Gencatan Senjata
Serangan terkini ini merupakan pertempuran paling serius antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran sejak gencatan senjata yang ditengahi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2022. Permusuhan kembali pecah pada tahun ini setelah Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi pada Juli dan mulai menyerang wilayah serta pelayaran Saudi.
Pasukan Houthi juga mencatat kemajuan wilayah yang signifikan di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman. Arab Saudi merespons dengan serangan udara di Yaman dan mendukung pasukan pemerintah yang berjuang memukul mundur Houthi. Bentrokan bersenjata antara pasukan pemerintah Yaman dan milisi Houthi terus berkobar di Provinsi Taiz.
Pasukan pemerintah yang disokong koalisi mengklaim menewaskan sedikitnya 30 personel Houthi dan melukai puluhan lainnya dalam kontak senjata di garis depan al-Aqrud. Tentara Yaman juga melancarkan enam serangan udara guna menahan pergerakan Houthi di Distrik Maqbanah dan wilayah barat Taiz. Pertempuran darat kian intensif usai Houthi merebut kota pelabuhan Mocha di pesisir Laut Merah dan menguasai jalur pelayaran Selat Bab al-Mandeb.
Di sisi lain, Kerajaan Arab Saudi menyetujui bantuan anggaran sebesar 224 juta riyal untuk mendukung stabilitas fiskal dan daya beli warga Yaman. Langkah ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga berdampak pada upaya menjaga stabilitas ekonomi di kawasan.
Koalisi Saudi tuding Houthi serang fasilitas listrik Masjid Nabawi ini menegaskan bahwa dua masjid suci menjadi isu yang sangat sensitif dalam konflik Yaman. Serangan terhadap infrastruktur yang melayani Masjid Nabawi berpotensi memperbesar reaksi publik di dunia Islam dan mempersempit ruang diplomasi. Ke depan, yang perlu dicermati adalah apakah kedua pihak akan saling membalas dengan eskalasi militer lebih lanjut atau membuka jalan menuju perundingan, mengingat gencatan senjata 2022 yang selama ini menahan intensitas konflik kini berada di bawah tekanan berat.
