Cakrawala News – 27 September 2026 | Kasus dugaan keracunan massal usai menyantap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus berkembang. Korban keracunan MBG Batang jadi 411 orang, didominasi orang tua yang ikut makan jatah anak [titlebase], berdasarkan laporan pada Kamis (24/9/2026). Namun, angka itu kembali melonjak dalam dua hari berikutnya seiring pendataan yang masih berjalan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, Ida, menyatakan bahwa hingga Sabtu (26/9/2026) pukul 07.00 WIB, total kasus dugaan keracunan makanan mencapai 589 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 127 pasien masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Batang.
Rincian pasien yang masih dirawat meliputi 55 orang di RSUD Batang, 35 orang di RSUD Limpung, 17 orang di Puskesmas Bawang, 10 orang di Puskesmas Subah, dua orang di Puskesmas Gringsing, dan delapan orang di Puskesmas Bandar. Sementara itu, sebagian korban lainnya telah mendapatkan penanganan dan diperbolehkan menjalani rawat jalan.
Orang Tua Ikut Makan Jatah Anak
Fakta menarik dari peristiwa ini adalah komposisi korban. Lebih dari separuh korban, atau sekitar 53,53 persen, merupakan orang dewasa yang seharusnya tidak menerima paket MBG. Mereka ikut mencicipi makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka dari sekolah. Totalnya tercatat ada 220 orang tua yang menjadi korban keracunan, dan satu di antaranya merupakan relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Salah satu korban, Liya Nisa (28), warga Candibugur, Kecamatan Bawang, mengaku baru masuk RSUD sejak Jumat (25/9/2026). Selama beberapa hari sebelumnya, ia hanya menjalani rawat jalan dari Puskesmas Bawang. Karena kondisinya tidak kunjung pulih, ia kemudian dievakuasi ke RSUD Kalisari Batang.
“Kemarin pagi (masuk rumah sakit). Tadinya rawat jalan dari Puskesmas Bawang. Karena nggak sembuh dan tambah sakit, kemudian ke sini,” kata Liya. Ia menyebut sebelum mengalami keluhan, dirinya mengonsumsi makanan MBG yang dibawa anaknya dari sekolah, berupa telur dan buah anggur. Telur tersebut merupakan sisa makanan anaknya yang tidak habis.
Diduga Ada Pelanggaran SOP
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan bersama tim Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan inspeksi mendadak ke dapur SPPG Bawang sebagai pengelola menu MBG. Ia menegaskan fokus utama saat ini adalah keselamatan para korban dan memastikan penanganan medis berjalan maksimal.
“Kita dalam posisi tidak mencari siapa yang salah atau benar, dan bukan mencari skor politik dalam kondisi kedudukan ini. Prioritas kita ada tiga: memastikan penyebab pasti kejadian, memastikan seluruh korban ditangani dengan layak, serta memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegas Faiz.
Dari hasil pemeriksaan rekaman CCTV dan kondisi fisik bangunan dapur SPPG, ditemukan sejumlah pelanggaran standar operasional prosedur (SOP). Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Semarang, BGN, Hadi Riajaya mengungkapkan bahwa pengolahan makanan dilakukan jauh lebih awal dari jam yang diperbolehkan.
“Melalui pengecekan CCTV, kami melihat adanya pengolahan makanan yang dimulai sejak pukul 19.30 WIB malam. Padahal dalam SOP, pengolahan makanan seharusnya baru boleh dilakukan setelah pukul 02.00 dini hari,” ungkap Hadi.
Polisi Periksa Saksi dan Uji Sampel
Polresta Batang mulai melakukan penyelidikan mendalam dengan mengumpulkan bukti serta meminta keterangan saksi. Kapolresta Batang, Kombes Pol Warsono, menyatakan petugas telah memeriksa dua orang saksi dan menyita sisa paket makanan yang dikonsumsi warga pada Selasa (22/9/2026) untuk diuji di laboratorium Semarang.
“Kami belum menyimpulkan penyebab pasti gangguan kesehatan yang dialami warga. Kronologi sementara, makanan dikonsumsi pada Selasa lalu, dan baru pada malam harinya hingga Rabu sore muncul keluhan mual dan diare. Sampel makanan sudah kami amankan dan kirim ke laboratorium di Semarang,” ujar Warsono.
Wakil Bupati Batang, Suyono, menyampaikan bahwa pendataan masih terus berlangsung sehingga angka korban berpotensi berubah. Pihaknya memantau intensif kondisi warga di wilayah layanan SPPG Bawang yang menaungi sekitar 2.700 penerima manfaat. Sedikitnya ada 11 satuan pendidikan di Kecamatan Bawang yang menjadi sasaran layanan, meliputi TK Al Ikhlas, SDN 3 Bawang, TK Pertiwi, MA Sunan Kalijaga, MTs Sunan Kalijaga, TK Kuncup Mekar, TP Ananda, Pos PAUD Anggrek Mas, TK Korotaayun, RA Al Hidayah, dan MI Salafiyah Pasusukan.
Dalam penanganan pasien, sejumlah fasilitas tambahan disiapkan karena kapasitas tempat tidur rumah sakit perlu ditambah. Bantuan datang dari BPBD dan PMI. “Alhamdulillah tidak ada yang meninggal, semuanya teratasi dengan baik, meskipun harus menambah bed-bed yang ada,” ucap Suyono.
Yayasan Bela Batang Sejahtera selaku pengelola SPPG Bawang menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh warga dan penerima manfaat yang terdampak. Perwakilan yayasan, Tutut Wahyuningsih, menjelaskan menu MBG yang dibagikan saat kejadian terdiri atas nasi putih, telur saus asam manis, tahu goreng, sayuran, dan buah anggur.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius mengingat MBG merupakan program prioritas nasional untuk meningkatkan asupan gizi anak. Suyono berharap kejadian serupa tidak terulang. “SPPG-SPPG yang ada di Batang khususnya harus memperhatikan SOP,” tegasnya.
Hingga kini, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil uji laboratorium. Publik menantikan kepastian dari penyelidikan polisi sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola dapur SPPG agar kasus serupa tidak kembali terjadi di daerah lain.












