Laporan Pentagon Ungkap Kerugian Besar AS dalam Perang Iran: Amunisi Menipis, Puluhan Pesawat Hancur

Laporan Pentagon Ungkap Kerugian Besar AS dalam Perang Iran: Amunisi Menipis, Puluhan Pesawat Hancur
Laporan Pentagon Ungkap Kerugian Besar AS dalam Perang Iran: Amunisi Menipis, Puluhan Pesawat Hancur

Cakrawala News – 18 September 2026 | Laporan Pentagon ungkap kerugian besar AS dalam perang Iran: amunisi menipis, puluhan pesawat hancur menjadi sorotan setelah Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan Amerika Serikat merilis laporan resmi perdananya kepada Kongres. Laporan tersebut mengungkap bahwa perang melawan Iran telah menguras cadangan amunisi strategis dan menyingkap hambatan besar dalam industri pertahanan AS, sekaligus membantah klaim Presiden Donald Trump yang menyebut pasokan senjata militer negaranya tidak terbatas.

Data keuangan yang dihimpun dalam laporan itu mencatat Operasi Epic Fury menyedot anggaran hingga 33,4 miliar dolar AS hanya dalam kurun empat bulan. Sebagian besar dana tersebut habis untuk membayar rudal dan amunisi yang ditembakkan di kawasan Timur Tengah.

Pengeluaran masif senilai 22,3 miliar dolar AS khusus untuk amunisi langsung memicu masalah pasokan pada rantai produksi pertahanan domestik. Dokumen resmi pengawas militer itu menegaskan kondisi riil persenjataan AS di lapangan.

“Pengeluaran amunisi pada OEF telah menyebabkan kekurangan inventaris strategis dan mengungkapkan hambatan basis industri untuk pasokan ulang amunisi,” tulis laporan tersebut.

Armada Tempur AS Tergerus

Kekuatan armada tempur AS juga tergerus akibat gempuran selama pertempuran berlangsung. Empat jet tempur F-15 hancur total dan puluhan drone MQ-9 Reaper dipastikan jatuh. Kerusakan lain menimpa satu unit pesawat tempur F-35 serta tujuh pesawat tanker KC-135. Kerugian armada udara ini semakin memperberat beban operasional militer Amerika Serikat.

Sementara itu, Congressional Budget Office (CBO), lembaga nonpartisan di Kongres AS, memperkirakan perang AS melawan Iran telah menghabiskan lebih dari 38 miliar dolar AS atau sekitar Rp 672 triliun dari anggaran Departemen Pertahanan hingga 1 Agustus 2026. Biaya perang tersebut diperkirakan terus bertambah antara 2 miliar dolar AS hingga 3 miliar dolar AS per bulan, atau sekitar Rp 35,3 triliun hingga Rp 53 triliun, bergantung pada intensitas konflik.

CBO juga memperkirakan perang akan terus memberikan tekanan terhadap inflasi hingga kuartal I 2027, sekitar 0,5 poin persentase lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kenaikan tersebut terutama dipicu berkurangnya pengiriman minyak dan gas alam melalui Selat Hormuz serta gangguan terhadap pelayaran melalui Laut Merah.

Biaya penggantian amunisi yang digunakan hingga 1 Agustus diperkirakan mencapai 21,7 miliar dolar AS atau sekitar Rp 383,7 triliun. CBO mencatat penggantian amunisi merupakan komponen biaya terbesar yang ditanggung Pentagon dalam konflik tersebut. Lembaga itu juga memperingatkan bahwa AS kemungkinan telah menggunakan antara separuh hingga dua pertiga dari persediaan rudal pencegat pertahanan sejak Juni 2025.

Krisis Pasokan Interceptor

Tekanan terhadap persediaan interceptor muncul karena penggunaannya dalam jumlah besar selama konflik, sementara kemampuan industri untuk menggantinya tidak dapat meningkat secara instan. Menurut laporan The Wall Street Journal yang dikutip sejumlah media, hingga pertengahan Juli militer AS telah menggunakan sekitar 1.700 interceptor Patriot dan lebih dari 200 interceptor THAAD dalam perang dengan Iran.

Kapal perang Angkatan Laut AS juga disebut telah menembakkan sekitar 150 Standard Missile interceptor untuk menghadapi rudal dan drone Iran. Dalam satu serangan Iran terhadap Yordania, militer AS dilaporkan menembakkan sekitar 60 hingga 70 interceptor Patriot dan lebih dari 12 interceptor THAAD untuk menghadapi sekitar 20 rudal balistik.

Juru bicara Pentagon Sean Parnell membantah klaim bahwa stok interceptor AS telah habis sepenuhnya. Menurut Parnell, militer AS masih memiliki kemampuan untuk merespons berbagai ancaman meskipun penggunaan amunisi selama perang telah meningkatkan tekanan terhadap persediaan.

“Laporan yang menyatakan bahwa persediaan amunisi Amerika Serikat telah habis sepenuhnya adalah salah,” kata Parnell.

Presiden Donald Trump juga menyatakan AS masih memiliki jumlah interceptor yang besar dan terus meningkatkan kapasitas produksinya. Namun, laporan inspektur jenderal Pentagon yang mencakup periode April-Juni 2026 menyebut perang dengan Iran telah menimbulkan kekurangan persediaan strategis dan mengidentifikasi sejumlah hambatan dalam basis industri pertahanan AS, termasuk keterbatasan produksi komponen dan kemampuan untuk segera mengganti amunisi yang telah digunakan.

Salah satu sistem yang mendapat perhatian adalah Patriot, khususnya interceptor PAC-3 MSE yang diproduksi Lockheed Martin. Perusahaan tersebut menyatakan telah memproduksi 620 PAC-3 MSE pada 2025, sebuah rekor produksi tahunan. Pada Januari 2026, Lockheed Martin dan Departemen Pertahanan AS menyepakati kerangka kerja untuk meningkatkan kapasitas produksi PAC-3 MSE dari sekitar 600 menjadi 2.000 interceptor per tahun, dengan target tercapai pada akhir 2030.

Produksi sistem pertahanan rudal lain juga tengah diperluas. Lockheed Martin menyatakan kapasitas produksi interceptor THAAD akan ditingkatkan dari sekitar 96 menjadi 400 unit per tahun melalui kesepakatan dengan pemerintah AS.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth sebelumnya memperkirakan biaya perang mencapai 37,5 miliar dolar AS. Dalam sidang Senat pada 21 Juli lalu, Hegseth mengajukan permohonan dana darurat sebesar hampir 90 miliar dolar AS guna mengisi kembali amunisi yang menipis.

“Tanpa dana ini, kita menghadapi kelangkaan yang sangat kritis,” tegas Hegseth.

Meskipun CBO mencatat adanya resistensi dari Departemen Pertahanan terkait audit keuangan, pihak Gedung Putih dan Pentagon memberikan pembelaan keras. Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa aksi militer tersebut merupakan langkah tegas untuk melindungi personel serta kepentingan AS, seraya mengklaim bahwa persediaan amunisi militer AS masih sangat memadai untuk mendukung seluruh target strategis Panglima Tertinggi.

Laporan CBO ini disusun menyusul permintaan dari anggota senior pada Komite Anggaran DPR AS, Brendan Boyle, dari Partai Demokrat, bersama sejumlah anggota parlemen Partai Demokrat lainnya. Angka tersebut sebagian besar sejalan dengan perkiraan sebelumnya yang disampaikan Hegseth dalam kesaksiannya di Senat.

Namun, angka tersebut belum mencakup biaya terkait personel militer AS yang tewas atau terluka dalam konflik, serta tidak memasukkan biaya jangka panjang untuk layanan kesehatan dan kompensasi disabilitas bagi para veteran. CBO juga mengestimasikan bahwa AS membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk mengembalikan stok amunisi ke level aman.

Perang yang dimulai oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu itu masih menyisakan sejumlah persoalan besar. Selain beban anggaran yang terus membengkak, AS menghadapi tantangan mengembalikan kapasitas industri pertahanan, menekan inflasi, serta membuka kembali akses vital Selat Hormuz. Perkembangan perang dan perdebatan di Kongres mengenai pendanaan darurat akan menjadi hal yang perlu terus diperhatikan dalam beberapa bulan mendatang.

Exit mobile version