Cakrawala News – 10 September 2026 | Duel losc vs betis pada matchday pertama Liga Champions 2026/2027 berakhir pahit bagi LOSC Lille. Bertanding di Stade Pierre-Mauroy, Lille, Prancis, Rabu 9 September 2026 dini hari WIB, Les Dogues menyerah 2-3 kepada Real Betis meski sempat unggul dua kali. Kekalahan ini menjadi catatan buruk pada debut pelatih Davide Ancelotti di kompetisi elite Eropa tersebut.
Lille memulai laga dengan meyakinkan. Ayase Ueda membuka keunggulan pada menit ke-12 setelah memanfaatkan umpan Ethan Mbappé ke tiang jauh. Keunggulan itu sempat hilang ketika Marc Bartra menyamakan kedudukan pada menit ke-33 lewat situasi bola mati. Namun, Alexsandro kembali membawa tuan rumah memimpin 2-1 menjelang jeda melalui golnya pada menit ke-36.
Sayangnya, keunggulan itu tidak bertahan lama. Memasuki babak kedua, Real Betis tampil lebih agresif. Bartra mencetak gol keduanya pada menit ke-49, lalu Troy Parrott membalikkan keadaan menjadi 3-2 untuk Los Verdiblancos pada menit ke-53. Hingga peluit akhir, Lille tidak mampu menyamakan skor.
Kartu Merah Mbappé Perparah Situasi Lille
Situasi Lille bertambah sulit setelah Ethan Mbappé menerima kartu merah pada menit ke-56. Menurut laporan, pemain muda itu tersulut emosi dan dengan sengaja menyikut pemain Real Betis, Natan. Mbappé diusir dari lapangan, sementara Natan diganjar kartu kuning.
Kartu merah tersebut tercatat sebagai yang pertama di Liga Champions 2026/2027. Menariknya, ini menjadi kali kedua Lille mendapatkan kartu merah pertama pada matchday pembuka dalam beberapa musim terakhir. Sebelumnya, Angel Gomes juga menerima kartu merah saat Lille menghadapi Sporting CP pada matchday pertama Liga Champions 2024/2025, yang berakhir kekalahan 0-2.
Pelatih Davide Ancelotti mengidentifikasi sejumlah faktor yang menyebabkan timnya kehilangan keunggulan. Menurutnya, penyebab utama kekalahan meliputi hilangnya konsentrasi setelah unggul lebih dulu, kurangnya penyesuaian taktis di babak kedua, serta dampak negatif dari kartu merah Mbappé yang mengurangi opsi serangan. Ia menekankan pentingnya pengelolaan emosi pemain dan perbaikan transisi pertahanan-serangan.
Ancelotti juga meminta seluruh pemainnya belajar mengendalikan emosi setelah insiden tersebut. Kekalahan ini menambah catatan kurang menguntungkan Lille di fase liga Liga Champions, dengan tiga hasil seri dan enam kekalahan sejak debut kompetisi.
Calvin Verdonk Belum Debut, Perraud Masih Jadi Pilihan Utama
Di sisi lain, pemain Timnas Indonesia Calvin Verdonk belum mencatatkan debut di Liga Champions. Ia sebenarnya masuk dalam daftar 24 pemain yang dibawa Ancelotti, tetapi hanya duduk di bangku cadangan sepanjang pertandingan melawan Real Betis. Posisi bek kiri kembali dipercayakan kepada Romain Perraud.
Sejauh musim ini, Verdonk baru mencatatkan 69 menit bermain dari tiga pertandingan Liga Prancis. Jumlah itu jauh di bawah Perraud yang telah mengumpulkan 211 menit sebelum turun di Liga Champions. Ancelotti menyatakan Verdonk masih dalam proses adaptasi dan harus menunjukkan konsistensi dalam latihan untuk mendapatkan kepercayaan.
Dengan demikian, Verdonk harus bekerja lebih ekstra jika ingin menjadi pemain Timnas Indonesia pertama yang tampil di Liga Champions. Peluang itu masih terbuka mengingat kompetisi baru berjalan satu matchday.
Bartra dan Parrott Jadi Pahlawan Betis
Di kubu Real Betis, Marc Bartra menjadi bintang dengan dua golnya, sementara Troy Parrott memastikan kemenangan lewat gol penentu pada menit ke-53. Parrott, yang sebelumnya menolak tawaran West Ham United, keputusannya bergabung dengan Betis terbukti memberinya peluang bermain di level tertinggi kompetisi Eropa.
Kemenangan ini membuat Real Betis membungkus tiga poin dari markas Lille pada laga pertama fase liga. Hasil tersebut menjadi bagian dari catatan positif klub-klub LaLiga pada matchday pertama. Real Madrid menang 2-1 atas Inter Milan, Barcelona menghancurkan Feyenoord 5-1, sementara Villarreal kalah tipis 2-3 dari Borussia Dortmund dan Atletico Madrid takluk 1-2 di Anfield.
Bagi Lille, kekalahan ini menjadi pukulan awal yang harus segera dibenahi. Ancelotti dituntut memperbaiki keseimbangan tim, terutama dalam menjaga konsentrasi dan mengelola emosi pemain di laga-laga besar. Sementara itu, Verdonk masih menanti kesempatan untuk membuktikan diri di panggung Liga Champions.












