MBG di Solo Tetap Berjalan Usai Ratusan Siswa Keracunan, Orang Tua Cemas

MBG di Solo Tetap Berjalan Usai Ratusan Siswa Keracunan, Orang Tua Cemas
MBG di Solo Tetap Berjalan Usai Ratusan Siswa Keracunan, Orang Tua Cemas

Cakrawala News – 23 September 2026 | Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sekolah Solo tetap jalan setelah ratusan siswa keracunan, orang tua akui cemas. Keputusan melanjutkan distribusi MBG di Kota Solo itu menjadi sorotan setelah sejumlah daerah lain menghentikan sementara program serupa menyusul munculnya kasus dugaan keracunan yang menimpa siswa dan guru di berbagai wilayah.

Pemerintah Kota Solo memastikan layanan MBG bagi pelajar tetap berjalan meski kekhawatiran orang tua belum sepenuhnya reda. Sejumlah orang tua mengaku cemas anak mereka kembali menerima makanan dari program tersebut, terutama setelah kabar keracunan dari daerah lain terus bermunculan.

Sejumlah Daerah Hentikan Distribusi MBG

Di Kota Malang, SD Negeri Kauman 1 tak lagi menerima MBG hampir sebulan setelah puluhan siswanya mengalami gangguan kesehatan. Kepala Sekolah SD Negeri Kauman 1, Sentot Hariyanto, mengatakan distribusi MBG tidak dilakukan lagi karena Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukoharjo 1 yang biasanya mengirimkan makanan terkena suspend.

“Sejak kejadian (keracunan) tidak ada distribusi MBG. Karena informasinya SPPG-nya kena suspend,” ungkap Sentot.

Sentot mengaku pihaknya tidak mengetahui kepastian apakah program MBG akan berlanjut. Menurut dia, SPPG maupun koordinator MBG Kota Malang belum memberikan keterangan resmi terkait keberlanjutan program di lembaga pendidikannya.

Sekolah tersebut sempat menerima MBG pada akhir Juli 2026. Sehari setelahnya, sejumlah siswa tidak masuk sekolah karena mengeluhkan diare dan muntah. Sentot menyebut sekitar 35 siswa saat itu tidak masuk dan mengeluhkan gangguan kesehatan.

Sekolah kemudian bersurat kepada SPPG untuk menindaklanjuti makanan MBG yang diberikan. Berdasarkan penelusuran puskesmas, terdapat sekitar 50 siswa yang dilaporkan sakit, meski makanan yang dikonsumsi siswa tidak seluruhnya sama.

Kondisi berangsur membaik pada hari berikutnya. Mayoritas siswa sudah masuk sekolah dan hanya tersisa dua siswa yang masih menjalani perawatan.

Ratusan Siswa dan Guru di Beberapa Daerah Alami Gejala Serupa

Kasus serupa terjadi di Tulungagung, Jawa Timur. Sekitar 200 siswa dan guru SMKN 1 Boyolangu diduga mengalami keracunan MBG. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 1 Boyolangu, Fajar, mengatakan para siswa dan guru mengalami keluhan mual dan diare sejak Rabu malam hingga Kamis siang.

Sejumlah penderita mengalami gejala frekuensi buang air besar hingga lima kali. Jumlah siswa dan guru yang mengeluh terus bertambah seiring berjalannya waktu, sehingga mereka ramai-ramai mendatangi UKS untuk mendapatkan penanganan pertama.

Pihak sekolah memastikan tidak ada siswa yang sampai dilarikan ke puskesmas maupun dirujuk ke rumah sakit. Mereka menjalani rawat jalan dan mendapatkan obat diare. Para siswa sehari sebelumnya mengkonsumsi menu MBG yang dipasok dari SPPG Prisma Putri Mandiri, Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, dengan menu nasi daun jeruk, ayam goreng, lalapan, sambal, dan buah anggur.

Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, mengatakan pihaknya telah menerjunkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi guna mendeteksi penyebab dugaan keracunan tersebut. Sampel makanan sudah diamankan dari SPPG.

Proses penyelidikan tidak hanya sebatas pada sampel makanan. Petugas juga melakukan peninjauan langsung ke dapur SPPG untuk melihat proses produksi makanan mulai awal hingga disajikan.

Jepara Juga Laporkan Kasus Serupa

Di Jepara, Jawa Tengah, sebanyak 17 siswa dan guru dari sejumlah sekolah mengalami keluhan mual, pusing, sakit perut hingga diare, diduga usai menyantap MBG. Menu MBG tersebut diproduksi oleh SPPG Jepara Karangkebagusan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara, Hadi Sarwoko, membenarkan kejadian tersebut. Berdasarkan laporan awal, keluhan muncul setelah penerima manfaat mengonsumsi menu berupa nasi putih, ayam katsu, tumis kol dan wortel, tahu goreng, serta anggur merah.

Keluhan tersebut melibatkan tiga siswa SD Negeri Karangkebagusan, 13 siswa SD Negeri Kauman, serta seorang guru TK. Para siswa dan guru yang mengalami gejala kemudian dibawa ke RS PKU Aisyiyah Jepara untuk mendapatkan penanganan medis.

Hadi menyebut sekitar pukul 09.45 WIB, staf SPPG mendatangi sekolah-sekolah penerima manfaat untuk menarik makanan sekaligus meminta maaf kepada pihak sekolah.

Orang Tua di Solo Tetap Cemas

Meski MBG di Sekolah Solo tetap jalan setelah ratusan siswa keracunan, orang tua akui cemas. Kekhawatiran itu tidak lepas dari rentetan kasus dugaan keracunan yang terjadi di sejumlah daerah dalam waktu berdekatan.

Sejumlah orang tua berharap pemerintah daerah dan penyelenggara MBG meningkatkan pengawasan mutu makanan, mulai dari dapur produksi hingga distribusi ke sekolah. Mereka juga meminta transparansi hasil investigasi setiap kasus agar tidak ada kejadian serupa yang terulang.

Pemerintah Kota Solo menegaskan komitmennya menjaga keamanan pangan dalam program MBG. Evaluasi berkala terhadap SPPG dinilai menjadi kunci agar program yang menyasar pelajar ini tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan penerima manfaat.

Kasus-kasus di Malang, Tulungagung, dan Jepara menjadi peringatan bahwa keberlanjutan MBG di Solo perlu diiringi pengawasan ketat. Penyelidikan epidemiologi yang masih berjalan di sejumlah daerah akan menjadi acuan penting bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menentukan langkah berikutnya.

Exit mobile version