Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Sebuah eksperimen personal menghitung 808 ribu pesan dari 16 percakapan selama 11 tahun mengungkap pola menarik soal cara orang mengekspresikan kasih sayang. Aleksandr Skirko, penulis sekaligus pengembang program yang dipakai untuk menghitungnya, memutuskan mengaudit sendiri isi chat-nya bersama istri, ibu, saudara, teman, dan sejumlah grup besar di VKontakte, Telegram, serta WhatsApp. Dari total 808 ribu pesan itu, ia menemukan bahwa kata “love” atau “I love you” lebih sering ditujukan kepadanya ketimbang ia ucapkan.
Skirko menjelaskan bahwa ia menulis sendiri program penghitungnya. Seluruh proses berjalan di komputer pribadinya, dan file percakapan tidak diunggah ke mana pun. Idenya sederhana: menghitung berapa kali frasa tertentu muncul, bukan sekadar kata tunggal, lalu membandingkan angka antara dirinya dan lawan bicara.
Dari sembilan percakapan pribadi yang dianalisis, empat orang yang pernah menerima kata “love” darinya ternyata justru lebih dulu mengucapkannya. “Saya bahkan tidak berencana mencari angka ini,” tulisnya dalam catatannya. “Ternyata gambarannya lebih rumit, dan satu kesimpulan saya hampir saya terbitkan secara keliru.”
Peta Kata Sayang di Percakapan Pribadi
Hasil hitungan menunjukkan ketimpangan yang konsisten. Dalam chat dengan ibunya, kata “love” muncul 24 kali dari sang ibu, sementara Skirko hanya mengucapkannya sekali. Namun ada catatan menarik: untuk ucapan “selamat malam”, justru Skirko yang lebih sering memulai, yakni 35 kali berbanding 15 kali dari ibunya.
Dengan saudaranya, yang dihitung di dua platform berbeda, kata “love” muncul 28 kali dari saudaranya dan hanya enam kali dari Skirko. Sementara dengan istrinya, perbandingannya 15 berbanding 10, masih lebih banyak dari pihak istri.
Temuan ini sempat membuat Skirko ingin menulis dirinya sebagai sosok yang dingin. Namun ia kemudian menghitung emoji berbentuk hati, seperti hati merah, ciuman, dan wajah sayang. Hasilnya berbanding hampir seimbang: 1.796 emoji hati dari dirinya dan 1.868 dari lawan bicaranya. Khusus dengan istrinya, ia mengirim 408 emoji hati, sedangkan istrinya hanya 92. Artinya, Skirko mengirim emoji hati 4,4 kali lebih sering.
“Jadi saya bukan orang yang dingin, melainkan orang yang malas mengetik kata-kata sayang,” ujarnya. “Saya menyerahkan perhatian lewat emoji, tetapi hemat kata ‘love’, ‘maaf’, dan ‘terima kasih’.”
Pelajaran dari Perpindahan Aplikasi Pesan
Skirko juga hampir menarik kesimpulan yang salah ketika hanya menghitung data dari satu aplikasi. Saat ia menganalisis Telegram saja, percakapan dengan saudaranya tampak sepi: hanya 43 pesan selama tiga tahun, dari 2019 hingga 2021, sebelum akhirnya melonjak drastis. Ia hampir menulis narasi tentang “tiga tahun keheningan”.
Namun ia kemudian ingat bahwa pada 2022 percakapan mereka pindah dari VKontakte ke Telegram. Lonjakan pesan yang ia lihat bukanlah tanda hubungan yang tiba-tiba membaik, melainkan sekadar perpindahan platform komunikasi. “Seluruh ‘ledakan’ itu ternyata hanya perpindahan aplikasi pesan,” jelasnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa data percakapan digital tidak bisa dibaca lewat satu kanal saja. Pola komunikasi manusia tersebar di banyak aplikasi, dan perpindahan platform dapat menciptakan ilusi statistik yang menyesatkan bila tidak dipahami konteksnya.
Dinamika di Grup Besar
Selain percakapan pribadi, Skirko juga menyoroti perilaku di grup-grup besar. Ia menemukan fenomena yang akrab bagi banyak pengguna aplikasi pesan: dalam grup berisi ratusan hingga ribuan anggota, hanya sekitar seratus orang yang benar-benar aktif menulis. Sisanya cenderung diam, membaca, atau sekadar menjadi penonton percakapan.
Pola ini memperkuat gambaran bahwa volume pesan tidak selalu mencerminkan kedekatan atau keterlibatan semua pihak. Dalam ruang digital yang besar, sebagian kecil orang memproduksi mayoritas percakapan, sementara anggota lain memilih pasif.
Skirko menegaskan bahwa seluruh penghitungan dilakukan secara lokal dan tidak mengunggah data apa pun. Ia juga menyamarkan nama orang dan grup, serta tidak mengutip isi pesan, hanya menyajikan angka. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana data pribadi bisa dianalisis untuk refleksi diri tanpa harus membocorkan privasi orang lain.
Kisah 808 ribu pesan ini pada akhirnya bukan sekadar soal statistik. Ia menggambarkan bagaimana teknologi menyimpan jejak kecil dari cara kita menunjukkan kasih sayang, mulai dari kata sederhana, emoji, hingga kebiasaan mengucapkan selamat malam. Bagi pembaca yang ingin mencoba hal serupa, penting untuk mengingat bahwa hasil hitungan hanya bermakna bila konteks perpindahan platform, jenis pesan, dan kebiasaan komunikasi masing-masing orang turut diperhitungkan.
