Menteri Pigai Tak Takut Diganti, Makanya Dia ke Bali saat Reshuffle Kabinet

Menteri Pigai Tak Takut Diganti, Makanya Dia ke Bali saat Reshuffle Kabinet
Menteri Pigai Tak Takut Diganti, Makanya Dia ke Bali saat Reshuffle Kabinet

Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan dirinya tidak takut dicopot dari jabatannya menyusul isu reshuffle Kabinet Merah Putih yang kembali mencuat. Sikap itulah yang membuat Menteri Pigai tak takut diganti, makanya dia ke Bali saat reshuffle kabinet menjadi pembicaraan publik. Pigai menyampaikan pernyataan tersebut di Denpasar, Bali, Jumat (2/10/2026), setelah menghadiri Bali-Timor Leste Business Forum 2026.

“Tidak ada (takut). Kalau saya takut, untuk apa saya ke Bali? Mending tunggu, lihat-lihat handphone di Jakarta saja. Nunggu kan biasa saja,” kata Pigai, dikutip dari keterangannya kepada wartawan.

Pernyataan itu muncul di tengah kabar perombakan kabinet yang kembali beredar. Alih-alih menunggu perkembangan di Jakarta, Pigai memilih tetap menjalankan agenda kerja di Bali. Ia menegaskan tidak pernah memikirkan kemungkinan posisinya berubah.

Serahkan Penilaian kepada Presiden

Pigai menegaskan bahwa pergantian maupun evaluasi terhadap menteri merupakan kewenangan penuh Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, keputusan mengenai posisi para menteri adalah hak prerogatif kepala negara.

Ia juga menyebut Presiden memiliki kapasitas dan otoritas untuk mengevaluasi pencapaian setiap anggota kabinet. Penilaian itu, kata Pigai, semestinya berbasis data dan kinerja, bukan hasil survei maupun penilaian wartawan.

“Pigai terkenal karena kerja. Mana ada kalau orang terkenal kalau tanpa kerja, diam-diam. Yang menilai itu Presiden. Presiden yang menilai. Presiden yang memiliki kapasitas, otoritas, hak prerogatif untuk menilai KPI (Key Performance Index) para menteri dinilai oleh Presiden,” ujarnya.

Pigai menilai Prabowo sebagai sosok intelektual yang mengambil keputusan berdasarkan data. Karena itu, ia menyerahkan sepenuhnya penilaian atas kinerjanya kepada Presiden, bukan kepada hasil survei atau pemberitaan media.

“Pak Prabowo itu intelektual. Intelektual itu menilai berbasis kepada data. Oleh karena itulah penilaian-penilaian itu kepada Presiden, bukan oleh survei, bukan oleh wartawan,” katanya.

Tetap Bekerja di Tengah Spekulasi

Meski isu reshuffle terus bergulir, Pigai mengaku tidak larut dalam spekulasi mengenai posisinya di kabinet. Ia memilih tetap bekerja menjalankan tugas sebagai Menteri HAM.

“Saya kemarin datang ke sini saya tidak pernah mikir posisi saya akan berubah atau tidak, saya kerja saja. Karena saya tahu Presiden yang menilai,” ucapnya.

Pigai juga mengungkap bahwa dirinya sejak awal tidak pernah bercita-cita menduduki jabatan tinggi pemerintahan. Ia menyebut impiannya sejak awal adalah menjadi aktivis yang memperjuangkan keadilan. Latar belakang itu, menurutnya, membuat posisi menteri bukan sesuatu yang membuatnya berhenti bekerja atau merasa terbebani.

Dalam beberapa kesempatan, ia menekankan bahwa dirinya tidak mempersoalkan kemungkinan perubahan posisi dalam kabinet. Bagi Pigai, yang terpenting adalah menjalankan amanah dan menyerahkan hasilnya kepada Presiden.

Pernyataan Pigai ini menjadi salah satu respons paling terbuka dari kalangan menteri di tengah santernya isu perombakan Kabinet Merah Putih. Sikapnya yang tetap datang ke Bali dan menjalankan agenda kerja dibaca sebagai bentuk ketenangan menghadapi kemungkinan pergantian.

Konteks Isu Reshuffle

Isu reshuffle kabinet kembali mencuat dan menjadi perhatian publik. Sejumlah menteri disebut-sebut masuk dalam daftar evaluasi, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari Istana mengenai siapa saja yang akan diganti.

Dalam kerangka itu, pernyataan Pigai menegaskan bahwa evaluasi kinerja menteri sepenuhnya berada di tangan Presiden. Ia tidak ingin penilaian terhadap kinerja kabinet hanya didasarkan pada survei ataupun pemberitaan yang belum tentu mencerminkan hasil kerja sebenarnya.

Pigai juga menegaskan bahwa dirinya tetap fokus menjalankan tugas sebagai Menteri HAM. Ia tidak menjadikan posisi menteri sebagai sesuatu yang membuatnya berhenti bekerja, dan menyerahkan sepenuhnya evaluasi kinerjanya kepada Presiden Prabowo.

Yang perlu dicermati berikutnya adalah keputusan resmi Presiden mengenai komposisi kabinet. Sampai saat itu tiba, pernyataan Menteri Pigai tak takut diganti, makanya dia ke Bali saat reshuffle kabinet menjadi salah satu sinyal bahwa ia memilih tetap bekerja ketimbang menunggu kabar perombakan di Jakarta.

Bagi publik, pernyataan ini juga memperlihatkan bagaimana seorang menteri memaknai jabatan sebagai amanah yang bisa kapan saja ditarik oleh kepala negara. Evaluasi berbasis data dan kinerja, bukan opini atau survei, menjadi prinsip yang ditekankan Pigai dalam menghadapi dinamika politik di sekitar Kabinet Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *