Cakrawala News – 16 Oktober 2026 | Duel bertajuk Polandia vs Belgia tersaji di perempat final China Open 2026 ketika petenis Belgia Elise Mertens menumbangkan unggulan kedelapan asal Polandia, Iga Swiatek, dengan skor 7-6 (7-0), 6-3 di Beijing, Jumat (9/10/2026). Kemenangan ini menjadi kejutan besar sekaligus mengakhiri catatan buruk Mertens dalam pertemuannya dengan mantan petenis nomor satu dunia tersebut.
Pertandingan berlangsung selama satu jam 50 menit. Mertens tampil solid dengan permainan agresif dan servis yang sulit ditembus. Hasil ini menjadi kemenangan pertamanya atas Swiatek dalam tiga pertemuan di tur WTA, sekaligus mengantarkannya ke semifinal tunggal level WTA 1000 untuk pertama kalinya sejak 2021 dan yang ketiga sepanjang kariernya.
“Kadang-kadang Anda mulai menemukan ritme permainan seiring berjalannya turnamen. Tidak ada pertandingan yang mudah,” kata Mertens kepada wartawan, dikutip dari WTA.
Petenis berusia 30 tahun itu memperlihatkan efektivitas tinggi dengan memenangi 87 persen poin dari servis pertama, yakni 33 dari 38 poin. Ia juga mencatatkan 24 pukulan pemenang dengan hanya 11 kesalahan sendiri, serta tampil begitu disiplin hingga tidak memberi Swiatek satu pun peluang break point sepanjang pertandingan.
Jalannya Pertandingan
Pertarungan berlangsung ketat pada set pertama ketika kedua petenis sama-sama mampu mempertahankan servis. Namun, saat memasuki tie-break, Mertens justru tampil tanpa cela. Ia menyapu bersih tujuh poin untuk mengunci set pembuka dengan skor 7-6 (7-0), sekaligus memberikan tekanan besar kepada lawannya.
Momentum tersebut terus dijaga Mertens pada set kedua. Ia berhasil mematahkan servis Swiatek untuk unggul 3-1, kemudian memperlebar jarak menjadi 4-1 setelah memenangi gim servisnya tanpa kehilangan satu poin pun. Swiatek berusaha memperpanjang pertandingan pada gim terakhir dengan unggul 0-30. Namun, Mertens tetap tenang di bawah tekanan dan merebut empat poin secara beruntun untuk menuntaskan pertandingan dengan skor 6-3.
Kemenangan atas Swiatek melengkapi perjalanan impresif Mertens di Beijing. Sebelum menyingkirkan unggulan kedelapan itu, ia lebih dahulu mengalahkan dua juara Grand Slam lainnya, Jelena Ostapenko dan Coco Gauff. Dengan demikian, Mertens untuk pertama kalinya sepanjang karier berhasil mengalahkan tiga juara Grand Slam dalam satu turnamen.
Ia juga menjadi petenis pertama sejak Aryna Sabalenka pada 2018 yang menundukkan lebih dari satu mantan juara China Open dalam satu edisi turnamen. Catatan tersebut menegaskan konsistensi Mertens sepanjang turnamen meski tidak diunggulkan pada awal kompetisi.
Tantangan Berikutnya
Tantangan berikutnya bagi Mertens adalah petenis tuan rumah Zheng Qinwen yang memastikan tempat di semifinal setelah mengalahkan unggulan keenam Elina Svitolina dengan skor 6-3, 7-6 (8-6). Mertens dan Zheng baru sekali bertemu, yakni di Charleston musim lalu, ketika Zheng menang dalam pertandingan tiga set.
Bagi Swiatek, kekalahan ini menjadi pukulan tersendiri karena ia datang sebagai unggulan kedelapan. Meski demikian, hasil di Beijing menunjukkan bahwa persaingan tunggal putri tetap terbuka bagi para petenis non-unggulan yang tampil disiplin dan agresif.
Duel Polandia vs Belgia kali ini menjadi pengingat bahwa catatan pertemuan sebelumnya tidak selalu menentukan hasil akhir. Mertens membuktikan bahwa dengan servis efektif, minim kesalahan sendiri, dan mental yang stabil, ia mampu menaklukkan lawan yang secara peringkat lebih diunggulkan.
Perhatian kini tertuju pada laga semifinal Mertens melawan Zheng Qinwen. Jika mampu mempertahankan performa seperti saat menghadapi Swiatek, bukan tidak mungkin Mertens melanjutkan kejutan di China Open 2026 dan menambah koleksi kemenangannya atas petenis-petenis papan atas dunia.
