Cakrawala News – 24 September 2026 | Sheikh Ibrahim bin Adel Al Madani, salah satu muazin utama Masjidil Haram di Makkah, meninggal dunia pada Senin, 21 September 2026, tak lama setelah mengumandangkan azan subuh terakhirnya di masjid suci tersebut. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi jamaah dan umat Muslim di seluruh dunia yang mengenal suaranya yang merdu dan khusyuk, terutama pada waktu subuh.
Al Madani lahir di Madinah pada tahun 1976 dalam keluarga religius yang sangat menghargai ilmu Al-Qur’an. Menurut laporan Inside the Haramain, ia mulai mengumandangkan azan sejak usia 15 tahun di masjid lingkungan tempat tinggalnya di Madinah. Ia menjalankan tugas itu secara bergiliran dengan tiga tetangganya hingga menyelesaikan kuliah.
Setelah sempat berhenti sementara karena bekerja sebagai pengajar di luar Madinah, ia kembali menjadi muazin pada 1428 Hijriah atau sekitar 2007-2008 di Masjid Al Maddah. Pengabdiannya di sana kemudian membawanya ke Masjidil Haram, tempat ia resmi diangkat sebagai salah satu muazin pada 1439 Hijriah atau sekitar 2017-2018.
Bagian dari 24 Muazin Utama
Selama bertugas, Sheikh Ibrahim dikenal sebagai salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram yang secara bergiliran mengumandangkan azan lima waktu, termasuk azan pertama sebelum salat subuh. Dalam sehari, enam muazin bertugas mengumandangkan azan untuk lima salat wajib dan azan pertama salat subuh.
Selain tugas mengumandangkan azan, ia juga menjalankan tugas tabligh, yaitu menyampaikan takbir dan meneruskan gerakan imam melalui pengeras suara sehingga dapat didengar oleh seluruh jamaah di Masjidil Haram. Suara azannya, khususnya azan subuh, dikenal luas dan menjadi bagian penting dari suasana ibadah di masjid suci tersebut.
Laporan menyebutkan, adzan terakhir Al Madani terdengar pada panggilan pertama salat subuh, tepat sebelum ia meninggal. Rekaman azan subuh yang dikumandangkannya pada Senin dini hari menjadi azan terakhir sebelum ia menghembuskan napas terakhir beberapa jam kemudian.
Disalatkan Setelah Salat Asar
Jenazah Sheikh Ibrahim Al Madani disalatkan di Masjidil Haram setelah salat Asar pada hari yang sama. Setelah itu, jenazahnya dimakamkan di Pemakaman Al Mualla, kompleks pemakaman bersejarah di Makkah.
Kabar wafatnya Al Madani dilaporkan oleh Inside the Haramain. Lembaga tersebut juga membagikan rekaman yang menunjukkan suasana Masjidil Haram dan Ka’bah ketika suara adzan Al Madani mengalun melalui pengeras suara masjid.
Kepergian Sheikh Ibrahim Al Madani menutup perjalanan panjang seorang muazin yang dikenal karena dedikasi dan suaranya yang menyentuh hati jamaah. Suara azan dan takbirnya telah menjadi bagian dari kehidupan spiritual di Masjidil Haram, dan kini menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi banyak orang.
Penghormatan dan ucapan duka cita mengalir dari berbagai kalangan, baik dari jamaah yang hadir di Masjidil Haram maupun pengguna media sosial yang membagikan rekaman suara azan dan takbir beliau. Kepergian beliau dinilai menjadi kehilangan besar bagi dunia Islam dan komunitas muazin di Masjidil Haram.
Bagi banyak jamaah, suara Al Madani bukan sekadar penanda waktu salat. Azan subuh yang ia kumandangkan menjadi bagian dari rutinitas ibadah di Masjidil Haram, mengiringi langkah jamaah menuju saf-saf salat di masjid suci. Karena itu, kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi.
Jejak Pengabdian Sejak Muda
Perjalanan Al Madani sebagai muazin menunjukkan pengabdian yang panjang. Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan Al-Qur’an, dengan kakeknya sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Lingkungan itulah yang membentuk kedekatannya dengan dunia azan sejak remaja.
Setelah kembali mengumandangkan azan di Masjid Al Maddah, kualitas suaranya menarik perhatian hingga ia dipercaya bertugas di Masjidil Haram. Sejak 2017, ia menjadi bagian dari jajaran muazin yang bertugas di masjid suci bagi umat Islam tersebut.
Hingga akhir hayatnya, Al Madani tetap menjalankan tugasnya. Azan subuh yang ia kumandangkan pada Senin dini hari menjadi penutup dari pengabdiannya sebagai muazin Masjidil Haram, sekaligus penanda kehilangan bagi jamaah yang telah lama mendengarkan suaranya.
Kepergian Sheikh Ibrahim Al Madani menjadi pengingat akan peran penting muazin dalam kehidupan ibadah umat Muslim. Sosoknya akan dikenang bukan hanya karena suara azannya, tetapi juga karena dedikasi yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun bertugas di salah satu masjid paling suci di dunia.












