Sosial  

Para Artis Tetap Suarakan Karhutla di Tengah Gelombang Keluhan Dugaan Pembatasan Akun Medsos

Para Artis Tetap Suarakan Karhutla di Tengah Gelombang Keluhan Dugaan Pembatasan Akun Medsos
Para Artis Tetap Suarakan Karhutla di Tengah Gelombang Keluhan Dugaan Pembatasan Akun Medsos

Cakrawala News – 21 Oktober 2026 | Para artis tetap suarakan karhutla di tengah gelombang keluhan dugaan pembatasan akun medsos yang muncul belakangan ini. Sejumlah publik figur, mulai dari Wendi Cagur, Hesti Purwadinata, Tasya Farasya, hingga Andien, menyampaikan keprihatinan atas kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, di tengah upaya menyebarkan informasi dan mengajak masyarakat peduli, mereka justru mengaku merasakan penurunan jangkauan konten, hingga menduga akun mereka terkena pembatasan atau shadowban.

Keluhan itu mencuat setelah Wendi Cagur membagikan keresahannya melalui unggahan di Instagram pada Senin, 19 Oktober 2026. Dalam unggahan yang menggunakan musik “Pesta Babi” sebagai latar suara, komedian tersebut mempertanyakan mengapa informasi karhutla yang dibagikannya seolah sulit menjangkau pengguna lain.

“Semenjak gue speak up tentang karhutla kemaren, gue baru sadar ternyata perlahan akses orang lain melihat apa yang gue repost di instastory gue ternyata sangat sangat dibatasi,” tulis Wendi.

Jangkauan Konten Karhutla Dirasakan Menyempit

Wendi dikenal aktif membagikan informasi mengenai karhutla yang terjadi di Kalimantan, Papua, dan Sumatera. Ia mengaku baru menyadari adanya perubahan pada jangkauan Instagram Story sejak ikut menyuarakan persoalan tersebut.

Dalam keterangannya, Wendi menegaskan bahwa dirinya hanya ingin menyampaikan keresahan mengenai kondisi karhutla. Ia pun membandingkan dugaan pembatasan jangkauan itu dengan konten perjudian online (judol) dan pinjaman online (pinjol) yang menurutnya masih mudah ditemukan di media sosial.

“Padahal kan gue cuma menyampaikan apa yang menjadi keresahan gue. Cuma bersuara kecil tentang kondisi yang jadi concern gue. Masa bersuara tentang karhutla gak boleh. Sementara konten-konten dan komen-komen judol dan pinjol masih merajalela. Koq bisa?” lanjut Wendi.

Di akhir keterangannya, Wendi mengajak pengguna media sosial untuk terus menyuarakan kepedulian terhadap karhutla hingga penanganan persoalan tersebut benar-benar selesai. Meski mengungkapkan dugaan pembatasan jangkauan, pengalamannya itu belum memastikan bahwa akunnya secara resmi terkena shadowban.

Keluhan serupa datang dari Tasya Farasya. Ia membandingkan jumlah penonton Instagram Story miliknya sebelum dan sesudah membahas isu karhutla. Tasya juga turut menyuarakan kepeduliannya dengan menyiapkan posko bantuan berupa ruang aman dari paparan asap di Kalimantan Tengah. Posko tersebut direncanakan mulai beroperasi pada 23 Oktober 2026. Tasya menegaskan bahwa langkah yang dilakukannya berangkat dari kepedulian, bukan demi mendapatkan pengakuan, dan mempersilakan siapa pun memiliki pendapat sendiri.

Sementara itu, dalam pemberitaan yang beredar, Ustaz Adi Hidayat disebut menyampaikan bahwa akun yang digunakannya untuk membahas karhutla sempat terkena banned sementara. Keluhan serupa turut disampaikan sejumlah figur publik lain dengan pengalaman yang berbeda-beda.

Shadowban dan Batas antara Pengalaman dan Bukti

Shadow ban merupakan tindakan pembatasan visibilitas atau jangkauan akun dan konten pengguna secara diam-diam oleh platform media sosial tanpa pemberitahuan resmi. Karena sifatnya yang tidak transparan, pengalaman para figur publik ini masih bersifat dugaan dan belum membuktikan adanya pembatasan resmi dari platform.

Meski belum ada konfirmasi, sebagian dari mereka menduga konten yang membahas karhutla mengalami penurunan jangkauan. Bahkan, ada yang menunjukkan angka sebagai indikasi bahwa konten mereka terkena pembatasan jangkauan. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pengelola platform media sosial terkait keluhan tersebut.

Di tengah polemik itu, YouTuber Ria Ricis memilih untuk tidak terlalu mengikuti persoalan pembatasan akun. Ia menjelaskan bahwa aktivitasnya di platform digital saat ini lebih banyak berfokus pada kebutuhan keluarga dan pekerjaan yang telah berjalan sejak beberapa waktu lalu.

“Aku sebenarnya enggak ngikutin banget pembatasan itu, karena sosial media aku memang dipakai selain untuk posting anak, memang untuk pekerjaan yang memang sudah ditetapkan dari beberapa waktu yang lalu,” ujar Ria Ricis di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu, 18 Oktober 2026.

Kendati tidak banyak mengikuti polemik tersebut, Ricis tetap menyampaikan pesan agar para kreator dan masyarakat tidak berhenti menyuarakan kondisi di wilayah terdampak karhutla. Menurutnya, perhatian masyarakat luas sangat berarti bagi warga yang tengah menghadapi dampak bencana.

“Tapi buat teman-teman siapapun kalian, teruslah bersuara,” tegas Ricis. “Teman-teman kita yang terkena dampak sangat membutuhkan bantuan kita juga.”

Suara Publik yang Tetap Berjalan

Terlepas dari polemik jangkauan konten, para artis tetap suarakan karhutla di tengah gelombang keluhan dugaan pembatasan akun medsos. Isu karhutla dinilai tetap penting untuk disampaikan mengingat dampaknya yang luas, mulai dari gangguan kesehatan akibat paparan asap hingga kerusakan lingkungan.

Upaya para figur publik ini pun menunjukkan bahwa kanal media sosial masih dimanfaatkan sebagai sarana untuk menggalang kepedulian dan bantuan bagi masyarakat terdampak. Langkah Tasya Farasya menyiapkan posko ruang aman dari paparan asap di Kalimantan Tengah menjadi salah satu contoh konkret bagaimana sorotan publik diarahkan pada kebutuhan mendesak warga.

Ke depan, publik masih menantikan kejelasan mengenai keluhan penurunan jangkauan konten yang disampaikan sejumlah artis. Sebab, tanpa transparansi dari platform, dugaan shadowban akan tetap menjadi perdebatan. Yang jelas, para artis tetap suarakan karhutla di tengah gelombang keluhan dugaan pembatasan akun medsos, dan seruan untuk terus bersuara serta membantu korban bencana masih bergema.

Exit mobile version