Pasar Obligasi Jadi Sorotan: RAJA Terbitkan Obligasi Rp1,55 Triliun, Bank Mandiri Siapkan AT1 7,35%

Pasar Obligasi Jadi Sorotan: RAJA Terbitkan Obligasi Rp1,55 Triliun, Bank Mandiri Siapkan AT1 7,35%
Pasar Obligasi Jadi Sorotan: RAJA Terbitkan Obligasi Rp1,55 Triliun, Bank Mandiri Siapkan AT1 7,35%

Cakrawala News – 03 November 2026 | Dinamika pasar obligasi korporasi Indonesia kembali mencuri perhatian pada awal November 2026. Di tengah tekanan suku bunga tinggi, sejumlah emiten tetap melangkah ke pasar modal dengan strategi pendanaan yang berbeda-beda. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) resmi menawarkan obligasi dan sukuk senilai Rp1,55 triliun, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyiapkan opsi pelunasan instrumen Additional Tier 1 (AT1) berupa perpetual bond dengan kupon awal 7,35 persen per tahun.

Langkah RAJA itu dilakukan setelah perseroan membukukan lonjakan laba bersih 82 persen menjadi US$43,8 juta pada periode sembilan bulan pertama 2026. Perseroan memanfaatkan momentum fundamental yang solid untuk mengoptimalkan struktur pendanaan melalui Penawaran Umum Obligasi dan Sukuk Wakalah.

Sepanjang Januari hingga September 2026, RAJA mencatatkan pendapatan usaha US$203,9 juta, tumbuh 4 persen dari posisi US$196,0 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu ditopang pengakuan pendapatan penuh dari operasional Sengkang Gas Compressor senilai US$8,4 juta serta peningkatan pendapatan dari sektor lifting minyak dan gas bumi sebesar US$2,7 juta.

Efisiensi Biaya dan Kontribusi Investasi Strategis

Efisiensi biaya turut menopang margin perseroan. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 5 persen menjadi US$132,7 juta, terutama akibat penurunan volume pembelian gas sebagai imbas gangguan jaringan pipa di wilayah Sumatera. Optimalisasi itu mengerek laba kotor perseroan naik 26 persen ke level US$71,2 juta.

Laba bersih RAJA melompat dari US$24,1 juta menjadi US$43,8 juta, menghasilkan marjin laba bersih yang sehat di kisaran 21 persen. Lonjakan profitabilitas disebut merupakan buah dari strategi diversifikasi investasi perseroan.

RAJA mencatatkan kontribusi pendapatan investasi US$13,2 juta dari 20 persen kepemilikan saham di Husky-CNOOC Madura Limited (HCML). Selain itu, terdapat peningkatan hasil investasi dari PT Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) yang terdongkrak tren penguatan harga minyak mentah global.

Perseroan juga membukukan keuntungan pembelian diskon atau gain on bargain purchase senilai US$3,9 juta dari transaksi akuisisi SMS Development Ltd. melalui entitas anak, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU). SMS Development Ltd. memegang 20 persen saham pada HCML selaku operator Wilayah Kerja Madura Strait.

Direktur Utama PT Rukun Raharja Tbk, Djauhar Maulidi, menegaskan pencapaian pada tiga kuartal pertama tahun ini memvalidasi keandalan strategi diversifikasi bisnis yang dijalankan manajemen. Meskipun bisnis downstream sempat menghadapi gangguan operasional, perseroan tetap mencatat pertumbuhan laba yang kuat berkat disiplin pengelolaan biaya dan kontribusi investasi strategis, termasuk HCML yang telah memberikan dampak positif pada tahun pertama investasinya.

Bank Mandiri dan Instrumen AT1

Di sisi lain, Bank Mandiri menjelaskan penerbitan instrumen AT1 dalam bentuk perpetual bond atau obligasi tanpa jatuh tempo. Bank Mandiri menetapkan kupon awal sebesar 7,35 persen per tahun melalui proses bookbuilding dengan investor global.

Dalam penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia pada 2 November 2026, Bank Mandiri menyebut penerbitan instrumen tersebut merupakan bagian dari strategi pengelolaan permodalan jangka panjang untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Rencana itu juga telah tercantum dalam Rencana Bisnis Bank periode 2026-2028 yang disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan pada akhir 2025.

Bank Mandiri menjelaskan, instrumen AT1 berbeda dengan penerbitan saham biasa. Instrumen tersebut dapat memperkuat modal inti tambahan tanpa menambah jumlah saham beredar sehingga tidak menyebabkan dilusi kepemilikan pemegang saham.

“OJK telah memberikan persetujuan atas pengakuan hasil penerbitan instrumen tersebut sebagai komponen modal inti tambahan (AT1) Bank Mandiri,” tulis Senior Vice President Corporate Secretary Group Bank Mandiri, Adhika Vista, dalam keterbukaan informasi pada Senin (2/11/2026).

Tingkat distribusi awal 7,35 persen per tahun ditetapkan melalui bookbuilding dengan investor internasional pada 3 September 2026. Penetapan imbal hasil itu mempertimbangkan kondisi pasar dan permintaan investor. Bank Mandiri menyebut tingkat tersebut setara dengan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor lima tahun sebesar 4,48 persen ditambah pricing spread 287 basis poin.

Sebagai perbandingan, saat penetapan harga, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia berdenominasi dolar AS tenor lima tahun tercatat 5,13 persen, sementara obligasi senior dolar AS Bank Mandiri menawarkan imbal hasil 5,51 persen.

Tekanan Bunga Tinggi dan Sikap Selektif Investor

Tingginya suku bunga acuan terbukti menjadi batu sandungan utama bagi korporasi dalam menerbitkan surat utang sepanjang tahun ini. Kendati demikian, daya tahan pasar obligasi korporasi dinilai masih cukup solid untuk menopang prospek penerbitan hingga akhir 2026.

Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto memaparkan realisasi penerbitan surat utang korporasi pada Januari hingga Oktober 2026 telah menyentuh Rp166,07 triliun. Nilai itu lebih tinggi sekitar 25,79 persen dibandingkan nilai jatuh tempo selama sepuluh bulan pertama 2026 yang berada di level Rp132,02 triliun.

Namun, Pefindo mengingatkan bahwa jika BI-Rate naik lagi, yield benchmark akan terkerek hingga membuat kupon korporasi semakin mahal dan berisiko mendemotivasi emiten.

Tekanan itu terlihat pada sektor multifinance. Pefindo mencatat penerbitan surat utang multifinance hingga September 2026 mencapai Rp19,62 triliun, turun 33,1 persen secara year on year. Fixed Income Analyst Pefindo Ahmad Nasrudin menilai penurunan tersebut menunjukkan penerbitan obligasi menjadi lebih selektif di tengah kenaikan suku bunga dan pertumbuhan pembiayaan yang moderat, meskipun kebutuhan pendanaan perusahaan masih berlanjut.

Berdasarkan data OJK per Juni 2026, pendanaan perbankan di industri multifinance mencapai Rp283,49 triliun atau 74,33 persen dari total pendanaan industri. Sementara surat berharga yang diterbitkan multifinance mencapai Rp72,16 triliun atau 18,92 persen, dengan sisanya berasal dari pinjaman subordinasi dan sumber pendanaan lain.

Di tengah kondisi itu, pelaku pasar diminta mencermati arah suku bunga acuan dan yield benchmark sebagai penentu biaya penerbitan. Bagi emiten dengan fundamental kuat seperti RAJA dan Bank Mandiri, pasar obligasi masih menjadi kanal pendanaan yang dapat dioptimalkan. Namun bagi sektor yang sensitif terhadap biaya dana, selektivitas dan strategi flight to quality tampaknya akan tetap menjadi tema utama hingga akhir tahun.

Exit mobile version