Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Anjlok ke Rp21.000 Imbas Sorotan MSCI

Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Anjlok ke Rp21.000 Imbas Sorotan MSCI
Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Anjlok ke Rp21.000 Imbas Sorotan MSCI

Cakrawala News – 01 November 2026 | Hashim adik Prabowo ungkap rupiah terancam anjlok imbas polemik MSCI: Bisa jadi malapetaka buat RI menjadi peringatan serius yang disampaikan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi sekaligus Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Hashim Sujono Djojohadikusumo. Dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin di Jakarta, Kamis (29/10/2026), ia menyebut nilai tukar rupiah berpotensi terpuruk hingga Rp21.000 per dolar AS bila gelombang pelarian modal asing menerpa pasar modal domestik.

Peringatan itu muncul di tengah sorotan tajam penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan investor internasional terhadap dinamika pasar modal Indonesia. Menurut Hashim, kecurigaan pihak luar berpusat pada struktur transaksi dan valuasi emiten yang dinilai janggal, mulai dari terbatasnya porsi saham yang beredar di publik hingga rasio harga terhadap laba yang dianggap tidak wajar.

Kekhawatiran Free Float dan Valuasi Emiten

Di hadapan anggota Kadin, Hashim menjelaskan bahwa persoalan free float dan rasio P/E menjadi pemicu utama kekhawatiran pemodal asing. Ia menilai bila praktik pengkondisian saham dibiarkan, kredibilitas bursa tanah air bisa tercoreng dan berujung pada risiko pasar modal Indonesia dikategorikan sebagai standalone market.

“Ini yang disorot dan diperhatikan dan dipersoalkan oleh MSCI dan pelaku-pelaku asing, kalau free float-nya terbatas dan P/E ratio-nya itu gila-gilaan, tidak masuk akal. Karena kalau investasi luar negeri keluar dari bursa saham kita, rupiah bisa semakin lemah, saya sudah hitung bisa jadi Rp20.000–Rp21.000, ada yang bilang Rp22.000,” ujar Hashim.

Ia mengungkapkan bahwa ancaman depresiasi mata uang garuda tersebut telah dibahasnya bersama Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani. Pembahasan itu menunjukkan bahwa persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan upaya menjaga kepercayaan investor terhadap iklim investasi nasional.

Beban Utang Luar Negeri Jadi Taruhan

Dalam forum yang juga dihadiri sejumlah pengusaha, termasuk Chairman Lippo Group dan anggota Kadin James Riady, Hashim menegaskan dampak berantai dari pelemahan rupiah yang ekstrem. Menurutnya, bila kurs menembus Rp21.000 hingga Rp22.000 per dolar AS, beban cicilan utang luar negeri akan berlipat ganda. Kondisi itu, katanya, berpotensi menjadi malapetaka bagi perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut mempertegas bahwa risiko tidak hanya dirasakan pelaku pasar modal, tetapi juga merambat ke sektor riil dan keuangan negara. Sebab, pelemahan kurs membuat kewajiban dalam valuta asing semakin mahal ketika dikonversi ke rupiah, sehingga tekanan fiskal dan korporasi bisa meningkat bersamaan.

Anomali Pergerakan Saham dan Kredibilitas Pasar

Kecurigaan pemodal internasional dinilai semakin beralasan menyusul terbukanya anomali pergerakan saham emiten tertentu yang tidak mencerminkan kinerja fundamental perseroan. Praktik rekayasa pembentukan harga yang dijalankan secara tidak wajar dinilai telah mencederai kredibilitas pasar modal Indonesia di mata komunitas keuangan global.

Dalam konteks ini, sorotan MSCI menjadi sinyal penting bagi otoritas pasar dan pelaku usaha untuk membenahi tata kelola. Sebab, keputusan lembaga pemeringkat indeks dunia dapat memengaruhi alokasi dana investor global, dan eksodus modal asing berpotensi menekan nilai tukar secara signifikan.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Peringatan Hashim adik Prabowo ungkap rupiah terancam anjlok imbas polemik MSCI: Bisa jadi malapetaka buat RI menempatkan isu tata kelola pasar modal sebagai persoalan ekonomi makro, bukan sekadar teknis bursa. Perbaikan transparansi free float, kewajaran valuasi, dan integritas pembentukan harga menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan investor asing.

Ke depan, pasar akan mencermati respons otoritas pasar modal dan pemerintah terhadap sorotan MSCI, termasuk langkah konkret untuk mencegah praktik pengkondisian saham. Tanpa pembenahan, risiko tekanan terhadap rupiah dan beban utang luar negeri yang disampaikan Hashim tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.

Exit mobile version