Cakrawala News – 17 September 2026 | Di balik Adegan Sembelih Kambing di Panggung SKNC Pekalongan, Penampil Jelaskan Maksudnya. Perwakilan tim Simbang Gang One (Simone), M Akhid, menegaskan bahwa penyembelihan kambing dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 bukan bagian dari ritual satanik, melainkan pertunjukan teatrikal yang kambingnya kemudian dimasak untuk acara ramah tamah warga. Penjelasan itu disampaikan setelah penampilan mereka viral dan menuai sorotan karena dinilai menyerupai ritual pemujaan setan.
Akhid menyampaikan klarifikasi tersebut usai memenuhi pemanggilan Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, di kantor Pemkab Pekalongan, Senin (14/9/2026). Ia mengakui penampilan timnya memang menampilkan aksi teatrikal tanpa narasi apa pun.
“Nggak ada narasi sama sekali, nggak ada narasi sama sekali, cuma teatrikal aja. Nggak ada narasi ajakan atau apapun, tidak ada sama sekali,” kata Akhid.
Menurut Akhid, penyembelihan kambing di atas panggung dilakukan sesuai syariat dan oleh orang yang memiliki kemampuan menyembelih kambing sesuai ketentuan. Ia menegaskan kepala kambing tidak sampai terpotong sepenuhnya.
Ia juga menjelaskan soal kepala kambing yang diambil dari peti mati. Kepala kambing itu, kata dia, sudah dibeli pada Kamis pagi dan sengaja dipersiapkan untuk dipertunjukkan. Kepala tersebut disembunyikan di dalam peti, lalu diambil dan dipertontonkan seusai proses penyembelihan berlangsung.
“Kalau kepala kambing itu sebenarnya sudah ada di dalam peti. Jadi di dalam peti itu ada kepala kambing yang dibeli paginya (Kamis pagi), emang dipersiapkan untuk dipertunjukkan,” ujar Akhid.
Kambing Disembelih untuk Mayoran, Bukan Ritual
Akhid menegaskan tujuan penyembelihan kambing itu bukan untuk sebuah ritual sebagaimana yang digambarkan di sejumlah media sosial. Menurutnya, kambing tersebut akan dimasak untuk acara ramah tamah setelah rangkaian karnaval selesai.
“(Potong kambing) Itu tujuannya penyembelihan kambing itu untuk acara ramah tamah (warga) setelah acara. Setelah acara, berarti itu kambing akan dimasak untuk ramah tamah teman-teman yang ikut pawai dari Sim One itu sendiri,” ujar dia.
Ia menyebut aksi penyembelihan itu dilakukan secara spontan sebagai ekspresi timnya. Kambing yang disembelih di panggung kemudian dimasak menjadi sate dan gulai oleh tim Simone.
“Kalau itu (penyembelihan) emang spontanitas aja. Teman-teman, ayo kita sembelih kambing untuk mayoran, tapi kita sembelih di acara untuk ekspresi kita sendiri,” sambungnya.
Terkait konsep pertunjukan, Akhid mengaku pihaknya kurang literasi. Ia menyatakan timnya tertarik menampilkan aksi itu karena menganggap kostum yang mereka gunakan unik.
“Kami perwakilan dari Tim Simone minta maaf. Kami menyesal, kami kurang literasi. Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya atas penampilan kami di depan panggung,” ujar M Akhid.
Ia menjelaskan ide pertunjukan berawal dari kostum unik yang mereka lihat, lalu disewa dan ditiru. Kostum tersebut, kata dia, disewa dari Malang. Koreografi dilatih bersama teman-teman dengan referensi dari YouTube dan berbagai pertunjukan daerah Malang.
“Idenya dari kami melihat kostum unik, kemudian kami sewa dan kami tiru. Kami menyewa dari Malang. Gerakannya kami latihan dengan teman-teman. Referensinya kami lihat dari YouTube, berbagai perform daerah Malang dan lain-lain,” tuturnya.
Akhid menegaskan awalnya mereka tidak mengetahui apa yang disebut ritual satanik. Latihan koreografi dilakukan selama sepekan sebelum pertunjukan digelar pada Kamis (10/9/2026) malam.
Kostum Mirip Ritual Satanic dan Sorotan Warga
Penampilan Tim Simone dalam SKNC 2026 menjadi polemik setelah potongan videonya tersebar luas di media sosial. Dalam rekaman yang beredar, sejumlah peserta tampak mengenakan topeng tengkorak berjubah putih dengan tudung segitiga. Ada pula peserta yang membawa peti mati, kemudian menyembelih kambing.
Pertunjukan itu juga diramaikan dengan ogoh-ogoh dan parade kostum yang disebut warganet menyerupai ritual satanis. Beberapa peserta tampak mengenakan kostum menyerupai makhluk berkepala hewan bertanduk dengan tubuh serta kaki yang dibuat menyerupai binatang.
Rangkaian visual tersebut dipadukan dengan koreografi yang menampilkan adegan penyembelihan kepala kambing. Ribuan penonton menyaksikan peserta menyusuri rute karnaval sepanjang sekitar tiga kilometer.
Sejumlah warganet mempertanyakan konsep pertunjukan itu karena dianggap tidak sesuai dengan kultur dan nilai masyarakat setempat. Warga bahkan mengaitkannya dengan ritual pemujaan satanik. Lurah Simbang Kulon turut geram dan meminta Sekda memeriksa pelaksanaan acara tersebut.
Panitia Mengaku Tak Mengetahui Detail Konsep
Ketua Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, bersama perwakilan tim Simone, Muhammad Akhid, membenarkan adanya penampilan tim Simone dalam gelaran tersebut. Ziyad berdalih panitia tidak mengetahui secara detail konsep pertunjukan yang dibawakan peserta.
“Kami dari perwakilan panitia membenarkan adanya karnaval atau SKNC 2026 yang dilaksanakan Kamis malam, 10 September 2026,” ujar Ziyad.
Ziyad baru mengetahui persoalan itu setelah pertunjukan menjadi polemik. Ia pun mewakili panitia penyelenggara menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.
Pemkab Pekalongan Panggil Panitia dan Koordinasi dengan MUI
Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan, M Yulian Akbar, menuturkan pemerintah daerah akan memanggil panitia SKNC untuk melakukan klarifikasi. Pemkab juga akan berkoordinasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meminta masukan.
“Dalam jangka waktu dekat ini, kami akan mengundang panitia, teman-teman panitia SKNC, untuk dilakukan klarifikasi sebenarnya apa yang terjadi di sana,” kata Yulian ditemui di kantor pemkab, Senin (14/9/2026).
“Kami segera koordinasi juga dengan MUI untuk meminta masukan,” tambah Yulian.
Langkah pemerintah daerah itu menjadi perhatian publik karena menyangkut penilaian terhadap konsep pertunjukan yang dianggap berbenturan dengan nilai budaya dan keagamaan masyarakat setempat. Hingga kini, klarifikasi dari panitia dan tim penampil masih menjadi bagian dari proses yang akan ditindaklanjuti Pemkab Pekalongan bersama MUI.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi dalam acara publik perlu dibarengi pemahaman atas konteks budaya, norma, dan sensitivitas masyarakat. Penjelasan dari balik adegan sembelih kambing di panggung SKNC Pekalongan menunjukkan pentingnya literasi dan komunikasi antara panitia, peserta, dan warga sebelum sebuah pertunjukan digelar.












