Cakrawala News – 15 September 2026 | Perbincangan soal mindfulness kembali mencuat setelah artis Maudy Ayunda membagikan tips mengelola rasa kewalahan di tengah derasnya kabar buruk, lalu meminta maaf karena dinilai kurang merefleksikan soal privilege. Polemik ini menyita perhatian warganet pada 15 September 2026 dan membuka diskusi lebih luas tentang sejauh mana mindfulness bisa menjadi solusi ketika sumber kecemasan tidak sepenuhnya berada di dalam kepala kita.
Konten Maudy sebelumnya berisi sejumlah tips untuk membantu seseorang menjaga kondisi mental saat terus terpapar berita negatif. Pesan itu lantas menuai kritik karena dinilai tidak bisa dilepaskan dari kondisi sosial yang sedang dihadapi banyak orang. Sebagian warganet menilai mengurangi paparan berita buruk bukan pilihan yang mudah ketika persoalan tersebut bersinggungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Menanggapi kritik itu, Maudy memberikan penjelasan melalui kolom komentar di video YouTube yang menuai polemik. Ia mengakui ada bagian penting yang luput dari refleksinya, yakni persoalan privilege. “Bisa menarik diri dari berita buruk itu sendiri adalah sebuah keistimewaan. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, atau pekerjaan mereka. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di video,” tulis Maudy, dikutip Selasa 15 September 2026.
Maudy menjelaskan gagasan video tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai seorang overthinker yang kerap merasa kewalahan ketika terlalu banyak mengonsumsi informasi. Ia ingin membagikan cara yang menurutnya dapat membantu menjaga kondisi mental di tengah arus informasi yang deras. Namun ia menegaskan, mindfulness yang ia maksud tidak seharusnya dimaknai sebagai ajakan mengabaikan persoalan sosial. “Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli, berdiam diri, atau melihat seolah keadaan baik-baik saja,” tambahnya.
Meski sudah memberikan klarifikasi, respons sebagian warganet belum berubah. Permintaan maaf itu justru kembali menjadi bahan perdebatan mengenai posisi seseorang ketika memberikan nasihat soal kesehatan mental kepada publik. Sejumlah pihak mempertanyakan sudut pandang figur publik yang dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari orang kebanyakan.
Doomscrolling dan Pergeseran Kendali Atas Perhatian
Dalam opini yang dimuat Katadata, Muhammad Iqbal menilai perdebatan soal konten Maudy belum menyentuh persoalan yang lebih penting, yakni apa yang bisa dilakukan mindfulness ketika sumber kecemasan tidak seluruhnya berada di dalam kepala. Kehidupan digital, menurutnya, telah mengubah cara orang berhadapan dengan kabar sendala. Dulu orang membaca koran pada pagi hari, menutupnya, lalu menjalani aktivitas lain. Kini berita mengikuti sejak bangun tidur.
Perang, bencana, konflik politik, kekerasan, pemutusan hubungan kerja, dan skandal hadir melalui layar yang sama. Beberapa detik setelah membaca kabar kematian, seseorang bisa melihat iklan sepatu, lalu video lucu, lalu berita buruk berikutnya. Batas antara informasi, hiburan, kecemasan, dan konsumsi menjadi tipis.
Iqbal mengutip Dave Harley dalam Mindfulness in a Digital World yang menunjukkan bagaimana teknologi digital perlahan mengambil bagian dalam pekerjaan yang sebelumnya dilakukan sendiri oleh manusia. Mesin pencari membantu mengingat, algoritma memilih berita dan hiburan, media sosial mengatur arus hubungan sosial, dan aplikasi terus menawarkan apa yang perlu dilihat berikutnya. Harley melihatnya sebagai pergeseran perhatian dari proses yang dikendalikan sendiri menuju proses yang makin dipengaruhi sistem digital.
Dalam konteks itu, ajakan berhenti sejenak sebenarnya masuk akal. Persoalannya bukan pada tarikan napas, melainkan apa yang dilakukan sesudahnya. Doomscrolling, yakni kebiasaan terus menggulir media sosial untuk mencari kabar buruk meski informasi itu tidak lagi menambah pemahaman dan justru meningkatkan kecemasan, menjadi salah satu contohnya. Banyak orang membuka media sosial dengan niat melihat satu kabar, lalu menyadari setengah jam kemudian masih menggulir berita serupa.
Mindfulness Bukan Berarti Selalu Positif
Pemahaman keliru soal mindfulness juga menjadi sorotan. Dalam artikel IDN Times, mindfulness sering disalahartikan sebagai usaha untuk selalu tenang, bahagia, dan tidak memikirkan hal-hal buruk. Padahal intinya adalah menyadari pengalaman yang sedang terjadi, termasuk rasa takut, sedih, marah, atau cemas. Emosi tersebut tidak harus langsung dihilangkan agar seseorang dianggap berhasil mempraktikkannya.
Jon Kabat-Zinn, profesor emeritus di University of Massachusetts Medical School yang dikenal sebagai pelopor program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR), mendefinisikan mindfulness sebagai kesadaran yang muncul dari upaya memusatkan perhatian secara sengaja pada saat ini, tanpa menghakimi. Menurutnya, hal itu sering menghasilkan pemahaman akan sifat sensasi yang terus berubah, bahkan sensasi yang sangat tidak menyenangkan, sehingga seseorang menyadari sifatnya yang tidak kekal.
Praktiknya bisa sesederhana mengakui, “Aku sedang takut membaca berita ini,” tanpa langsung menyalahkan diri sendiri atau memaksa pikiran menjadi positif. Dengan begitu, mindfulness bukan cara menutup mata terhadap kenyataan, melainkan cara merespons kenyataan dengan lebih sadar.
Penelitian tentang intervensi berbasis mindfulness dan penerimaan juga menunjukkan tujuannya bukan menghapus seluruh emosi negatif. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam Behaviour Research and Therapy meneliti pengaruh intervensi mindfulness dan acceptance terhadap kesulitan seseorang menghadapi keadaan emosional. Temuan itu dipahami sebagai kemampuan untuk lebih mampu menghadapi emosi, bukan kewajiban untuk selalu merasa baik.
Pandangan senada disampaikan psikolog klinis Maharani Octy Ningsih dalam sebuah video. Ia menyebut mindfulness tidak selalu berarti tenang dan berpikir positif. Pikiran yang hadir di momen sekarang tidak harus memaksa pikiran negatif langsung diubah menjadi positif, melainkan melihat realitas apa adanya. Mindfulness juga bukan pasrah, melainkan mengakui kenyataan yang sedang terjadi secara objektif agar bisa mengambil tindakan yang lebih jernih dan bijak.
Dengan demikian, polemik ini memperlihatkan dua hal yang sama-sama perlu diperhatikan. Di satu sisi, mindfulness tetap relevan sebagai keterampilan menghadapi arus informasi yang deras. Di sisi lain, ajakan menjaga kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, termasuk akses dan pilihan yang tidak dimiliki semua orang. Perdebatan soal privilege yang disinggung Maudy menegaskan bahwa respons terhadap kabar buruk tidak hanya soal kemampuan menenangkan diri, tetapi juga soal siapa yang punya ruang untuk menarik diri dan siapa yang tidak.
