Prancis Kembali Izinkan Pesawat Netanyahu Melintas ke Sidang PBB, Menuai Kritik

Prancis Kembali Izinkan Pesawat Netanyahu Melintas ke Sidang PBB, Menuai Kritik
Prancis Kembali Izinkan Pesawat Netanyahu Melintas ke Sidang PBB, Menuai Kritik

Cakrawala News – 24 September 2026 | Prancis izinkan pesawat Netanyahu melintas untuk hadiri sidang PBB [titlebase] setelah memberikan izin kepada pesawat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melewati wilayah udaranya pada Selasa (22/9/2026). Pesawat tersebut melintasi wilayah Prancis dalam perjalanan Netanyahu menuju New York, Amerika Serikat, guna menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Keputusan itu disampaikan seorang sumber diplomatik dan dilaporkan kantor berita Anadolu.

Izin tersebut menuai kritik keras dari anggota Parlemen Eropa asal Prancis, Emma Fourreau. Melalui platform media sosial X, Fourreau menilai keputusan Prancis telah mencoreng kehormatan negara itu dan bertentangan dengan hukum internasional.

“Ini sudah kelima kalinya. Sudah saatnya mengakhiri sikap Prancis yang mempermalukan diri sendiri dan menginjak-injak hukum internasional,” kata Fourreau.

Fourreau juga menyinggung status Netanyahu yang sejak November 2024 resmi menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Lembaga itu menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

“Prancis di bawah Macron sekali lagi mengizinkan Netanyahu, seorang penjahat, melintasi wilayah udaranya untuk menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, padahal ICC telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadapnya,” ujar Fourreau, dikutip Palestine Chronicle.

Izin Kelima Sejak 2025

Berdasarkan laporan Anadolu Agency yang mengutip sumber diplomatik, izin kali ini menjadi yang kelima diberikan Prancis. Penerbangan Netanyahu sebelumnya tercatat melintasi wilayah udara Prancis pada Februari, April, dan Juli 2025, serta Juli 2026.

Prancis tercatat sebagai anggota Statuta Roma sehingga memiliki kewajiban hukum untuk membantu ICC. Sementara itu, Israel dan Amerika Serikat bukan merupakan anggota lembaga pengadilan internasional tersebut.

Kritik terhadap Prancis pun menyoroti konsistensi negara itu dalam menegakkan hukum internasional, terutama karena status Netanyahu sebagai subjek surat perintah penangkapan ICC.

Kunjungan Singkat Tanpa Bertemu Trump

Kunjungan Netanyahu ke Amerika Serikat kali ini dijadwalkan berlangsung singkat. Surat kabar Israel Haaretz melaporkan Netanyahu hanya akan melakukan kunjungan “singkat” ke New York untuk berpidato di markas besar PBB, lalu pulang tanpa bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Menurut laporan Haaretz yang dikutip Anadolu Agency, Rabu (23/9/2026), Netanyahu dijadwalkan bertolak ke Amerika Serikat pada Rabu (23/9) dan kembali ke Israel beberapa jam setelah menyampaikan pidatonya pada Kamis (24/9) waktu setempat. Ia diperkirakan tiba pada Kamis pagi dan berpidato sekitar pukul 14.00 waktu New York.

Haaretz menyebut Netanyahu tidak berhasil mengatur pertemuan dengan Trump atau pejabat senior pemerintahannya. Belum jelas apakah ia akan bertemu Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Jadwal pertemuan Netanyahu selama di New York digambarkan “sangat minim”, hanya mencakup dua pertemuan di sela-sela Sidang Umum PBB dengan para pemimpin yang dianggap pendukung Israel.

Rencana singgah di Texas untuk bertemu miliarder Amerika Serikat Elon Musk pun dibatalkan. Jadwal kepulangan yang dipercepat disusun agar Netanyahu tiba sebelum perayaan Sukkot, hari raya Yahudi yang dimulai pada Jumat (25/9/2026) malam waktu Israel.

Hindari Bandara New York dan Kekhawatiran Penangkapan

Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan pesawat Netanyahu, Wing of Zion, tidak akan mendarat di Bandara Internasional John F. Kennedy (JFK) di New York. Pesawat resmi negara Israel itu diperkirakan akan mendarat di sebuah pangkalan udara militer di New Jersey atau di Bandara Internasional Newark Liberty, yang juga terletak di New Jersey.

Laporan itu mengaitkan keputusan tersebut dengan kesulitan berkoordinasi dengan otoritas Amerika Serikat dan kekhawatiran bahwa Wali Kota New York Zohran Mamdani dapat memerintahkan Wing of Zion segera meninggalkan bandara. Kondisi itu membuat pesawat tidak bisa tetap berada di bandara selama Netanyahu menghadiri Sidang Umum PBB.

Menurut laporan tersebut, Mamdani berupaya menangkap Netanyahu jika ia memasuki kota, sebagai bentuk kepatuhan terhadap surat perintah penangkapan ICC. Sumber-sumber yang mengetahui masalah itu menyebut Netanyahu memutuskan mempersingkat kunjungannya secara signifikan dan tidak akan bermalam di New York karena kekhawatiran adanya protes.

Netanyahu juga dilaporkan tidak akan membawa wartawan dalam penerbangan tersebut, sebuah langkah yang disebut Yedioth Ahronoth belum pernah terjadi sebelumnya.

Pidato Bernuansa Kampanye dan Sambutan Bermusuhan

Haaretz menilai pidato Netanyahu di Sidang Umum PBB sebagai “pidato kampanye yang utamanya ditujukan bagi calon pemilih di Israel”. Pemilu legislatif Israel dijadwalkan digelar pada 27 Oktober 2026, sekitar satu bulan setelah pidato tersebut.

Sumber lain yang dikutip Haaretz menyebutkan pidato Netanyahu akan berfokus pada perang melawan Iran dan kerja sama erat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Netanyahu dijadwalkan berpidato pada Kamis (24/9) malam sekitar pukul 21.00 waktu Israel, atau Jumat (25/9) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB.

Selama berada di New York, Netanyahu akan mendapatkan pengamanan luar biasa, terutama mengingat adanya rencana aksi protes. Haaretz melaporkan Netanyahu diperkirakan menghadapi sambutan bermusuhan, baik di jalanan maupun di ruang Sidang Umum PBB sebelum naik podium.

Kedatangan Netanyahu juga diperkirakan diwarnai penolakan diplomatis dari sejumlah diplomat di aula PBB. Penolakan tersebut berkaitan dengan dampak operasi militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023 yang telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Palestina dan melukai 174 ribu orang lainnya.

Keputusan Prancis izinkan pesawat Netanyahu melintas untuk hadiri sidang PBB [titlebase] kembali menempatkan Paris pada posisi sulit di tengah tekanan hukum internasional. Publik masih menantikan apakah izin serupa akan kembali diberikan pada kunjungan-kunjungan berikutnya, sementara kritik dari kalangan legislator Eropa diperkirakan terus menguat.

Exit mobile version