Cakrawala News – 26 September 2026 | Soroti kemunafikan dunia, Presiden Iran heran Israel punya nuklir tapi Teheran yang disanksi menjadi pesan utama yang disampaikan Presiden Masoud Pezeshkian dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam pidatonya, Rabu (23/9/2026), pemimpin tertinggi eksekutif Iran itu menegaskan bahwa negaranya tidak pernah berambisi membangun senjata nuklir, namun justru terus dihukum dengan sanksi ekonomi yang menyengsarakan rakyat kecil.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen paling tajam dalam forum internasional itu. Pezeshkian secara terbuka mempertanyakan standar ganda komunitas internasional yang membiarkan Israel memiliki senjata pemusnah massal tanpa tersentuh inspeksi, sementara Iran terus dipojokkan demi program nuklir damai mereka.
Isu ini bukan kali pertama diangkat Teheran. Sebelumnya, dalam wawancara dengan Fox News, Pezeshkian juga membantah keras seluruh tudingan global terkait ambisi senjata nuklir. Ketika ditanya apakah Iran berupaya memperoleh bom nuklir, ia menjawab tegas, “Sama sekali tidak. Sama sekali tidak.”
Penegasan itu disampaikan di tengah meningkatnya tensi militer antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini dinilai sebagai upaya Teheran meredam spekulasi Barat yang terus memojokkan posisi geopolitiknya.
Bantahan atas Tuduhan Aktivitas Nuklir Rahasia
Kementerian Luar Negeri Iran juga membantah tuduhan Amerika Serikat mengenai adanya aktivitas nuklir rahasia di Pickaxe Mountain. Tuduhan tersebut disebut tidak berdasar dan hanya menjadi alat tekanan politik terhadap Teheran.
Pernyataan publik Pezeshkian menjadi titik balik penting bagi Iran dalam memutus narasi ancaman global. Sikap tegas ini sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di mata internasional dan membentengi posisi diplomatiknya yang kerap mendapat tekanan dari sekutu Barat.
Menurut Pezeshkian, Iran justru merupakan korban terorisme global. Ia menyoroti rentetan agresi yang menimpa negaranya, mulai dari pengeboman sekolah, pembunuhan para ilmuwan, hingga tewasnya tokoh penting seperti Ismail Haniyeh di Teheran tepat pada hari pelantikannya sebagai presiden.
“Saya berasal dari Iran, di mana pemimpin tertinggi kami yang terhormat dibunuh tanpa kerangka hukum atau alasan apa pun. Dan saya berasal dari Iran, di mana pada kenyataannya mereka mengebom sebuah sekolah,” ujar Pezeshkian dalam pidatonya.
Ia menyebut anak-anak tak berdosa tewas di bawah bom dengan senjata yang digunakan Amerika Serikat dan Israel. Di Ilam, sebuah kota kecil di salah satu provinsi Iran, sebuah gedung olahraga yang tengah dipenuhi anak-anak menjadi sasaran serangan dengan hulu ledak ganda.
Kritik Tajam terhadap Standar Ganda
Dalam pidatonya, Pezeshkian melabeli Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang menggambarkan Iran sebagai teroris, padahal menurutnya merekalah yang melatih dan melindungi teroris. Ia menegaskan Iran hanya membela diri dan tidak pernah menargetkan penduduk sipil.
Soroti kemunafikan dunia, Presiden Iran heran Israel punya nuklir tapi Teheran yang disanksi kembali menjadi benang merah pidato tersebut. Pezeshkian mengkritik keras sikap dunia yang membiarkan Israel memiliki senjata pemusnah massal, sementara Iran dihukum dengan sanksi yang menyengsarakan rakyat kecil.
Ia juga menyoroti krisis kemanusiaan mematikan di Gaza. Menurutnya, lebih dari 80.000 warga sipil tak berdosa telah dibunuh secara brutal dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Israel, katanya, melakukan genosida dengan teknologi yang mereka miliki, lalu melabeli pihak lain sebagai teroris.
“Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri,” tegas Pezeshkian di hadapan para delegasi negara anggota PBB.
Ia menambahkan bahwa tidak ada satu pun hukum internasional yang dipatuhi oleh pihak-pihak yang menyerang Iran. Serangan mereka menyasar universitas, pusat layanan kesehatan, sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur Iran.
Eskalasi Militer dan Respons Iran
Eskalasi militer berskala besar ini sejatinya meletus sejak pertengahan Februari lalu akibat gempuran mendadak ke wilayah Iran. Konsortium militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan udara ke serangkaian objek vital di dalam negeri Iran pada 28 Februari.
Teheran langsung merespons aksi militer tersebut dengan melancarkan serangan balasan proporsional ke jantung pertahanan lawan. Meski demikian, Pezeshkian menegaskan Iran tidak akan bertekuk lutut atau menundukkan kepala di hadapan tekanan militer maupun bahasa paksaan dari kekuatan asing.
Dalam pidatonya, ia juga menyampaikan pesan tegas kepada Donald Trump dan Amerika Serikat bahwa Iran siap berdialog, namun pantang menyerah pada intimidasi. Pernyataan ini mempertegas posisi Iran yang menginginkan penyelesaian diplomatik tanpa mengorbankan kedaulatan.
Pezeshkian menutup pidatonya dengan menegaskan bahwa rakyat Iran yang tidak bersalah telah menjadi sasaran serangan pengecut dan agresi. Namun, mereka tetap teguh dan membalas tanpa menyerang penduduk sipil.
Pidato ini menjadi cerminan sikap Iran yang semakin vokal menyoroti ketidakadilan global. Soroti kemunafikan dunia, Presiden Iran heran Israel punya nuklir tapi Teheran yang disanksi menjadi pesan yang akan terus bergema dalam diplomasi internasional ke depan.
Dunia kini menanti apakah kritik terbuka ini akan mendorong perubahan sikap komunitas internasional terhadap Iran, atau justru memperbesar jurang ketegangan yang sudah ada. Yang jelas, Teheran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari posisinya.












