Cakrawala News – 22 September 2026 | Rusia desak Jepang tarik sistem rudal AS di pulau Kyushu setelah Moskow menyampaikan nota protes resmi ke Tokyo. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, pada Jumat (18/9/2026) menegaskan bahwa keberadaan sistem Typhon berbasis darat milik Amerika Serikat di wilayah Jepang tidak dapat diterima dengan alasan apa pun. Menurutnya, penempatan peluncur yang dirancang untuk meluncurkan rudal jarak menengah dan jarak lebih pendek itu menimbulkan ancaman langsung terhadap keamanan Rusia.
Dalam pernyataannya, Zakharova mengungkapkan bahwa nota protes telah disampaikan kepada pihak Jepang di Moskow dan Tokyo pada 3 September. Langkah diplomatik itu menjadi penanda terbaru dari memburuknya hubungan kedua negara yang dalam sebulan terakhir dilanda perselisihan soal Kepulauan Kuril.
“Penempatan peluncur Typhon di wilayah Jepang tidak dapat diterima dengan alasan apa pun dan kami menuntut agar peluncur tersebut disingkirkan dari wilayah Jepang,” kata Zakharova, sebagaimana dikutip dari warta Xinhua.
Protes Disampaikan Sejak Awal September
Desakan Rusia desak Jepang tarik sistem rudal AS di pulau Kyushu sebenarnya bukan kali pertama disampaikan. Pada 1 September, Zakharova dalam taklimat di sela-sela Forum Ekonomi Timur di Vladivostok menyatakan bahwa Kedutaan Besar Jepang telah diberi tahu secara jelas bahwa penempatan persenjataan jenis ini di wilayah Jepang, bahkan dengan dalih latihan militer, sama sekali tidak dapat diterima karena menimbulkan ancaman terhadap keamanan Rusia.
Sistem Typhon sendiri merupakan peluncur berbasis darat buatan Amerika Serikat yang mampu menembakkan rudal jarak menengah dan jarak lebih pendek. Kehadirannya di Pulau Kyushu menjadi perhatian serius Moskow karena dinilai mengubah peta kekuatan militer di kawasan Asia Timur.
Zakharova juga menekankan bahwa Jepang harus mengakui sepenuhnya hasil Perang Dunia II, termasuk aspek-aspek teritorial yang berkaitan dengan bagian selatan Kepulauan Kuril. Selain itu, Rusia mendesak Tokyo menghentikan kebijakan remiliterisasinya yang dianggap Moskow semakin agresif dalam beberapa tahun terakhir.
Pemanggilan Duta Besar Jepang untuk Kedua Kalinya
Ketegangan kedua negara turut ditandai dengan pemanggilan Duta Besar Jepang di Moskow, Akira Muto. Pemanggilan ini menjadi yang kedua kalinya dalam waktu berdekatan. Sebelumnya, Muto sudah dipanggil pada pertengahan Agustus 2026 terkait kritik Jepang atas kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Kepulauan Kuril.
Kunjungan Putin ke Kepulauan Kuril pada Agustus 2026 menjadi yang pertama sejak ia menjabat pada tahun 2000. Lawatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungannya ke Siberia dan Timur Jauh Rusia. Dalam kesempatan itu, Putin diketahui mengunjungi pusat pengolahan ikan di Pulau Iturup.
Perselisihan Rusia-Jepang soal Kepulauan Kuril memang bukan perkara baru. Wilayah yang oleh Jepang disebut sebagai Teritorial Utara itu hingga kini menjadi sengketa yang belum menemukan titik terang. Kunjungan Putin ke pulau tersebut memicu reaksi keras dari Tokyo dan memperkeruh hubungan bilateral yang sudah tegang.
Rusia Tolak Permintaan Jepang soal Monumen PD II
Selain isu rudal dan Kuril, Rusia juga menolak permintaan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang meminta pembukaan monumen Perang Dunia II di Khabarovsk, Timur Jauh Rusia. Monumen tersebut ditujukan untuk memperingati kemenangan Uni Soviet atas Jepang pada Perang Dunia II.
Rusia mengkritik Jepang yang seharusnya lebih dulu memahami kejahatan perangnya sendiri. Moskow menyoroti penggunaan lambang bunga krisan yang dikenal luas sebagai simbol imperialisme Jepang. Kritik ini menambah daftar panjang ketidaksepakatan antara kedua negara menyangkut sejarah Perang Dunia II.
Bagi Rusia, pengakuan Jepang atas hasil Perang Dunia II menjadi prasyarat utama untuk meredakan ketegangan. Moskow berulang kali menegaskan bahwa status wilayah selatan Kepulauan Kuril telah final dan tidak dapat diganggu gugat berdasarkan kesepakatan pascaperang.
Dukungan Penuh AS untuk Jepang
Di sisi lain, Amerika Serikat telah menyatakan dukungan penuh kepada Jepang usai kunjungan Putin ke Kepulauan Kuril. Washington menegaskan bahwa Tokyo adalah sekutu terpentingnya dan pengakuan kedaulatan Jepang sangat penting bagi AS. Dukungan ini memperlihatkan posisi Washington yang berseberangan dengan Moskow dalam sengketa tersebut.
Kehadiran sistem Typhon di Kyushu menjadi bagian dari komitmen keamanan AS terhadap Jepang. Namun, bagi Rusia, langkah tersebut justru memperkuat kekhawatiran akan perluasan infrastruktur militer Amerika di sekitar wilayahnya. Desakan Rusia desak Jepang tarik sistem rudal AS di pulau Kyushu pun menjadi cerminan persaingan geopolitik yang semakin tajam di Asia Timur.
Pengamat hubungan internasional menilai eskalasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan. Ketika aliansi militer AS-Jepang semakin erat, Rusia cenderung merespons dengan langkah diplomatik dan militer yang lebih tegas, termasuk memperkuat kehadirannya di Timur Jauh.
Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Jepang mengenai apakah mereka akan memenuhi tuntutan Rusia untuk menarik sistem Typhon dari Kyushu. Sikap Tokyo selanjutnya akan sangat menentukan arah hubungan kedua negara dalam beberapa bulan ke depan.
Yang perlu diperhatikan, persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan sengketa Kepulauan Kuril, kebijakan remiliterisasi Jepang, dan persaingan kekuatan besar antara Rusia dan Amerika Serikat. Desakan Rusia desak Jepang tarik sistem rudal AS di pulau Kyushu menjadi penanda bahwa Asia Timur kembali menjadi panggung ketegangan geopolitik yang membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak.
