Saham GOTO Masih Jadi Primadona, Paling Aktif di Awal Sesi IHSG 19 Oktober 2026

Saham GOTO Masih Jadi Primadona, Paling Aktif di Awal Sesi IHSG 19 Oktober 2026
Saham GOTO Masih Jadi Primadona, Paling Aktif di Awal Sesi IHSG 19 Oktober 2026

Cakrawala News – 20 Oktober 2026 | Saham GOTO (PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk) kembali mencuri perhatian di lantai bursa. Pada pembukaan perdagangan sesi I, Senin, 19 Oktober 2026, goto saham menempati posisi teratas dalam daftar saham teraktif berdasarkan volume transaksi, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah ke level 4961,88.

Posisi puncak goto saham dalam daftar saham teraktif itu melanjutkan tren yang terlihat pada perdagangan akhir pekan sebelumnya. Data Bursa Efek Indonesia mencatat, pada Jumat, 16 Oktober 2026, GOTO menjadi saham yang paling banyak ditransaksikan dengan volume mencapai 42,68 miliar saham, atau lebih dari 60 persen dari total saham yang diperdagangkan hari itu.

Nilai transaksi goto saham pada hari tersebut juga masuk dalam jajaran 10 besar, yakni mencapai Rp1,03 triliun. Meski begitu, harga sahamnya tercatat turun 7,41 persen ke level Rp25 pada penutupan 16 Oktober 2026.

Asing Masih Net Buy di Tengah Tekanan Pasar

Yang menarik, di tengah ambruknya IHSG dan derasnya aksi jual investor asing, goto saham justru menjadi salah satu yang masih diburu. Investor asing membukukan beli bersih atau net buy di GOTO sebesar Rp288 miliar pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Secara rinci, transaksi beli investor asing di saham ini mencapai Rp537 miliar, sedangkan nilai jualnya sebesar Rp238,9 miliar. Angka itu kontras dengan kondisi pasar secara keseluruhan, di mana investor asing mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp3,3 triliun pada hari yang sama.

Sepanjang tahun ini, net sell investor asing di pasar saham Indonesia bahkan telah mencapai Rp88 triliun, seiring anjloknya IHSG hingga 40 persen. Aksi jual terbesar terjadi pada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) senilai Rp2,3 triliun, disusul PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp1,15 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp868 miliar.

Selain GOTO, sejumlah saham lain yang masih dibeli asing antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp75,66 miliar, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) Rp58,6 miliar, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) Rp57,83 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Rp57,7 miliar, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) Rp56,42 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) Rp54,44 miliar.

Tertekan Aturan Batas Harga Baru

Tekanan terhadap goto saham tidak lepas dari perubahan aturan batas minimal harga saham. Sejak ketentuan batas harga terendah diubah dari Rp50 menjadi Rp1 pada 28 September 2026, harga GOTO telah turun sekitar 50 persen. Saat aturan itu mulai berlaku, saham GOTO bahkan tersungkur hingga masuk ke level auto reject bawah (ARB) selama tiga hari berturut-turut.

Research Analyst Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, sebelumnya menilai investor tidak perlu panik melihat pergerakan saham GOTO yang berada di bawah Rp50. Menurutnya, harga GOTO turun di bawah gocap sudah sesuai ekspektasi sejak perubahan aturan perdagangan diumumkan.

Ia justru menilai penghapusan batas harga Rp50 sebagai perkembangan positif bagi saham GOTO dalam jangka panjang. Dengan harga saham yang dapat bergerak mengikuti permintaan dan penawaran, pasar memiliki ruang untuk membentuk harga secara lebih terbuka.

Jejak Transaksi Morgan Stanley

Di sisi lain, laporan kepemilikan saham yang disampaikan melalui Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Kamis, 15 Oktober 2026, menunjukkan Morgan Stanley and Co International PLC kembali mengurangi kepemilikannya di GOTO. Dalam satu hari, raksasa keuangan asal Amerika Serikat itu menjual dan membeli saham GOTO sekaligus, dengan harga jual lebih tinggi dari harga beli.

Dua transaksi tercatat pada Senin, 12 Oktober 2026, dengan harga jual Rp29 dan harga beli Rp27 per saham, selisih Rp2 atau setara 7,41 persen. Hasilnya, Morgan Stanley mencatat penjualan bersih 1.597.424.700 saham GOTO dengan kas bersih yang diterima mencapai Rp46,63 miliar.

Kepemilikan Morgan Stanley pun turun dari 70.267.481.384 saham menjadi 68.670.056.684 saham. Porsi hak suaranya menyusut dari 6,103 persen menjadi 5,9642 persen, atau berkurang 0,1388 poin persentase.

Langkah Korporasi dan Suara Investor Ritel

Dari sisi korporasi, pemegang saham GOTO menyetujui sejumlah agenda dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar Rabu, 14 Oktober 2026. Salah satunya membatalkan 32 miliar saham treasuri atau setara 2,7 persen saham beredar perseroan.

Pemegang saham juga menyetujui pengunduran diri Catherine Hindra Sutjahyo sebagai Wakil Direktur Utama perseroan. Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo menyatakan persetujuan seluruh agenda RUPSLB mencerminkan kepercayaan para pemegang saham terhadap arah GOTO.

Komisaris Utama GoTo, Agus Martowardojo, menuturkan pembatalan saham treasuri akan memberikan manfaat bagi pemegang saham melalui peningkatan porsi kepemilikan secara proporsional, sekaligus memperbesar partisipasi mereka dalam pertumbuhan GoTo ke depan.

Di kalangan investor ritel, komika sekaligus financial content creator Yudha Keling mengaku masih mengalami floating loss atau nyangkut di goto saham. Meski demikian, ia memilih bertahan. Ia menilai strategi paling tepat di tengah kondisi pasar saat ini adalah menahan dana dalam bentuk tunai di rekening dana nasabah (RDN).

Menurut Yudha, bagi investor yang sudah nyangkut, langkah bijak adalah mengevaluasi kembali alasan awal membeli saham. Jika penurunan hanya dipicu sentimen pasar sementara fundamental perusahaan tidak berubah, investor disarankan wait and see. Sebaliknya, jika harga anjlok dan mengubah tesis awal untuk trading, investor dapat mempertimbangkan cut loss.

Dengan likuiditas yang tetap tinggi dan minat asing yang masih terjaga, goto saham tampaknya akan terus menjadi salah satu saham yang paling diperhatikan pelaku pasar dalam beberapa sesi ke depan. Investor dinilai perlu mencermati perkembangan aturan perdagangan, kinerja fundamental perseroan, serta arah arus dana asing untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Exit mobile version