Survei IPO: Dedi Mulyadi Salip Prabowo, Anies di Posisi Ketiga

Survei IPO: Dedi Mulyadi Salip Prabowo, Anies di Posisi Ketiga
Survei IPO: Dedi Mulyadi Salip Prabowo, Anies di Posisi Ketiga

Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Perbandingan elektabilitas sejumlah tokoh menurut hasil survei IPO, Dedi Mulyadi kalahkan Prabowo dalam simulasi calon presiden untuk Pilpres 2029. Gubernur Jawa Barat itu mencatat elektabilitas 33,7 persen, sementara Presiden Prabowo Subianto memperoleh 14,5 persen dalam simulasi terbuka atau top of mind. Adapun Anies Baswedan menempati urutan ketiga dengan 11,3 persen.

Hasil riset Indonesia Political Opinion (IPO) yang dirilis pada 24 Oktober 2026 itu menandai perubahan peta elektabilitas dibandingkan survei sebelumnya. Pada akhir Juli hingga awal Agustus 2026, Prabowo masih memimpin dengan 23,4 persen, sedikit di atas Dedi Mulyadi yang memperoleh 21,7 persen.

Dalam survei terbaru, posisi keduanya berbalik. Elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat sekitar 12 poin persentase, sedangkan angka Prabowo turun 8,9 poin persentase. Angka-angka tersebut merupakan gambaran pilihan responden saat survei dilakukan, bukan prediksi hasil Pemilihan Presiden 2029.

Metodologi Survei

Survei IPO dilaksanakan pada 12-20 Oktober 2026 terhadap 1.200 responden di tingkat nasional. Penelitian menggunakan metode multistage random sampling dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sekitar 2,9 persen.

Selain simulasi terbuka, nama Dedi Mulyadi juga bertahan di posisi teratas dalam simulasi daftar tertutup dengan perolehan 32,0 persen. Temuan ini menunjukkan elektabilitasnya tidak hanya bergantung pada kemampuan responden mengingat nama, tetapi juga bertahan ketika pilihan disodorkan secara terbatas.

Faktor Popularitas dan Gaya Populis

Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menilai melesatnya elektabilitas Dedi Mulyadi tidak lepas dari kemampuannya membangun citra sebagai pemimpin yang dekat dengan rakyat. Menurut dia, popularitas yang dibangun melalui media sosial dan aktivitas langsung bersama masyarakat menjadi modal utama dalam merebut perhatian publik.

Dedi Kurnia menjelaskan popularitas merupakan salah satu faktor awal yang memengaruhi tingkat kesukaan masyarakat terhadap seorang tokoh sebelum menentukan pilihan politik. “Popularitas itu mempengaruhi tingkat kesukaan mereka, artinya popularitas tetap menjadi panduan pertama sebelum responden itu menentukan akan memilih atau menyukai atau tidak,” ujarnya dalam sesi pemaparan hasil riset dan diskusi publik secara daring, Sabtu (24/10/2026).

Ia menilai Dedi Mulyadi berhasil memanfaatkan momentum popularitas melalui konten media sosial sekaligus aktivitas yang membuatnya terlihat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pola kepemimpinan populis tersebut disebut memiliki kemiripan dengan gaya yang sebelumnya mengantarkan Joko Widodo ke puncak kekuasaan.

Menurut Dedi Kurnia, Dedi Mulyadi berpotensi mempertahankan posisi teratas dalam bursa pencalonan presiden selama belum ada pesaing yang mampu menandingi strategi populis tersebut.

Respons NasDem

Partai NasDem menanggapi santai hasil survei elektabilitas calon presiden 2029 tersebut. Bendahara Umum Partai NasDem Ahmad Sahroni mengatakan pemilu masih terlalu lama sehingga elektabilitas para tokoh masih dinamis.

“Pemilu masih panjang ya. Jadi, survei bisa naik-turun kepada para tokoh yang memang eksis pada saat ini. Kita tunggu aja nanti,” kata Sahroni di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/10/2026).

Sahroni menyatakan NasDem enggan terburu-buru mengambil sikap dan masih menunggu perkembangan politik ke depan. Saat ditanya mengenai peluang partainya mempertimbangkan Anies Baswedan untuk diusung pada Pilpres 2029, ia menegaskan keputusan tersebut masih jauh dari pembahasan. “Enggaklah, pertimbangan NasDem masih panjang ya,” tuturnya.

Ia menambahkan, NasDem saat ini memilih fokus membantu pemerintahan Presiden Prabowo Subianto hingga 2029. “Fokus NasDem sekarang bagaimana mendukung pemerintah sampai 2029. Itu penting. Dengan segala macam dinamika yang ada, NasDem tetap menjadi bagian dari pemerintah untuk berbagai hal menjadi kebaikan yang akan datang,” pungkasnya.

Kepuasan terhadap Kinerja Presiden

Di tengah perubahan angka elektabilitas tersebut, IPO mencatat 66 persen responden menyatakan puas terhadap kinerja Prabowo sebagai presiden. Angka itu terdiri dari 61 persen yang menyatakan puas dan 5 persen sangat puas. Sementara itu, 28 persen responden menyatakan tidak puas dan 6 persen lainnya sangat tidak puas.

Pemberantasan korupsi menjadi faktor yang paling banyak disebut sebagai alasan kepuasan terhadap Prabowo, yakni 19 persen. Berikutnya, bantuan sosial memperoleh 14,5 persen dan penilaian bahwa program kerja pemerintah nyata sebesar 10,7 persen.

Perbandingan elektabilitas sejumlah tokoh menurut hasil survei IPO, Dedi Mulyadi kalahkan Prabowo menunjukkan dinamika politik yang masih cair menjelang Pilpres 2029. Meski demikian, selisih antara tingkat kepuasan terhadap kinerja presiden dan angka elektabilitas dalam simulasi terbuka menjadi catatan tersendiri bagi para pengamat.

Dengan pemilu yang masih berjarak beberapa tahun, elektabilitas para tokoh diprediksi terus berubah mengikuti isu yang berkembang dan strategi komunikasi masing-masing. Publik perlu mencermati tidak hanya hasil satu survei, tetapi juga konsistensi temuan dari waktu ke waktu serta metodologi yang digunakan.

Exit mobile version