75 WNA Dievakuasi ke Polda Sulteng Usai Bentrok di Morowali, 53 TKA China Masih Diperiksa

75 WNA Dievakuasi ke Polda Sulteng Usai Bentrok di Morowali, 53 TKA China Masih Diperiksa
75 WNA Dievakuasi ke Polda Sulteng Usai Bentrok di Morowali, 53 TKA China Masih Diperiksa

Cakrawala News – 08 Oktober 2026 | Sebanyak 75 WNA dievakuasi ke Polda Sulteng seusai bentrok dengan warga di Morowali, bermula dari aksi protes warga terhadap dampak lingkungan dari aktivitas PT Astima Konstruksi (Askon) di Desa Matarape, Kecamatan Sambori Kepulauan, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Evakuasi yang dilakukan pada Senin (5/10/2026) itu bertujuan mengamankan para tenaga kerja asing sekaligus mendalami penyebab konflik antara perusahaan dan masyarakat setempat.

Kapolres Morowali AKBP Reza Khomeini menyatakan, puluhan warga negara asing tersebut kini menjalani pemeriksaan mendalam di Polda Sulawesi Tengah. Selain diperiksa, mereka juga didata bersama pihak Imigrasi. Hingga saat ini, seluruh TKA itu belum ditetapkan sebagai tersangka dan masih berstatus sebagai saksi dalam penanganan perkara.

“Kami telah mengevakuasi dan mengamankan 75 WNA. Saat ini telah dibawa ke Polda Sulteng untuk dilakukan pemeriksaan mendalam terkait penyebab konflik antara perusahaan dan warga,” ujar Reza di Morowali, Senin (5/10/2026).

21 TKA Dipulangkan ke China

Perkembangan terbaru, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulawesi Tengah Kombes Pol. Suryono mengungkapkan bahwa 21 dari 75 TKA telah difasilitasi perusahaannya untuk kembali ke China. Ke-21 orang itu berasal dari PT Karyatama Konawe Utara (KKU).

Hasil pendalaman kepolisian menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki keterkaitan dengan peristiwa kericuhan di lokasi PT Astima Konstruksi. Mereka sebelumnya dievakuasi oleh Polres Morowali dengan pertimbangan keamanan setelah kericuhan terjadi.

“Sebanyak 21 orang WNA asal China dari PT KKU telah kembali ke China dengan difasilitasi oleh perusahaan. Mereka tidak ada kaitannya dengan peristiwa rusuh di PT Astima Konstruksi,” tegas Suryono dalam keterangan tertulis di Palu, Rabu.

Dengan demikian, dari total 75 TKA yang dievakuasi, sebanyak 21 orang telah kembali ke China, 53 orang masih menjalani pemeriksaan, dan seorang lainnya masih mendapatkan perawatan medis. Pemeriksaan dilakukan oleh penyidik gabungan dari Polres Morowali dan Ditreskrimum Polda Sulteng.

“Selain 21 orang yang telah kembali ke China, masih ada 53 TKA yang menjalani pemeriksaan dan satu TKA masih dalam perawatan medis,” kata Suryono.

Kronologi dan Korban Bentrokan

Bentrokan antara warga dan pihak PT Astima Konstruksi terjadi pada Jumat (2/10/2026). Kericuhan dipicu aksi protes warga yang menolak dampak lingkungan dari aktivitas perusahaan, salah satunya debu akibat pengangkutan material di sekitar permukiman.

Akibat bentrokan tersebut, enam orang mengalami luka akibat senjata tajam. Korban terdiri atas lima warga setempat dan satu warga negara asing. Menurut Kapolres Morowali, rata-rata korban warga mengalami luka sabetan di kaki dan tangan.

“Untuk perkembangan korban luka yaitu lima dari warga terkena benda tajam, rata-rata kena sabetan di kaki dan tangan, dan satu dari warga negara asing,” kata Reza.

Selain korban luka, kerusuhan juga mengakibatkan lima mobil operasional rusak dan lima unit ekskavator milik perusahaan dibakar massa. Peristiwa ini menambah daftar panjang persoalan sosial antara perusahaan dan masyarakat di kawasan tersebut.

Polisi Janjikan Penyelidikan Profesional

Kabidhumas Polda Sulawesi Tengah Kombes Pol. Achmad Muhaimin memastikan bahwa proses penyelidikan dan penyidikan terus dilakukan secara profesional berdasarkan fakta hukum. Ia juga mengajak seluruh pihak menjaga kondusivitas di Sulawesi Tengah.

“Polda Sulteng memastikan proses penyelidikan dan penyidikan terus dilakukan secara profesional dan berdasarkan fakta hukum. Mari kita bersama menjaga kondusivitas di Sulawesi Tengah yang aman, damai, dan tenteram,” katanya.

Hingga kini, kepolisian masih mendalami perkara tersebut berdasarkan keterangan dan fakta yang ditemukan di lapangan. Pemeriksaan terhadap 53 TKA China yang tersisa menjadi bagian penting untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang memicu bentrokan.

Kasus ini menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan tenaga kerja asing, dampak lingkungan, serta hubungan antara perusahaan dan warga sekitar. Evakuasi 75 WNA ke Polda Sulteng seusai bentrok dengan warga di Morowali, bermula dari aksi protes, menegaskan bahwa persoalan lingkungan dan sosial di kawasan industri perlu penanganan yang melibatkan banyak pihak.

Ke depan, publik akan menantikan hasil pemeriksaan kepolisian terhadap 53 TKA yang masih diperiksa serta langkah perusahaan dalam menanggapi tuntutan warga terkait dampak lingkungan. Penyelesaian yang adil dan transparan diharapkan dapat mencegah terulangnya konflik serupa di Morowali.

Exit mobile version