Pakar ITS Ungkap Kondisi Perairan Masalembo Saat KMP Virgo Transport 8 Terbalik

Pakar ITS Ungkap Kondisi Perairan Masalembo Saat KMP Virgo Transport 8 Terbalik
Pakar ITS Ungkap Kondisi Perairan Masalembo Saat KMP Virgo Transport 8 Terbalik

Cakrawala News – 18 September 2026 | Pakar ITS ungkap kondisi perairan Masalembo saat dilintasi KMP Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa pada Minggu dinihari, 13 September 2026. Pakar lingkungan laut Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Kriyo Sambodho, menyatakan perairan di lokasi kejadian memiliki embusan angin hingga 30 knot serta gelombang mencapai 2 meter. Kondisi itu tidak tergolong cuaca ekstrem menurut klasifikasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tetapi dinilai dapat memengaruhi kestabilan kapal.

Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dengan 243 orang di dalamnya. Hingga Selasa, 15 September 2026, tim SAR gabungan mengevakuasi 108 korban selamat dan menemukan enam korban meninggal dunia. Basarnas mencatat 129 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Dinamika Perairan Masalembo

Menurut Kriyo, selain tinggi gelombang, arah gelombang dan arah angin dapat menjadi faktor yang memengaruhi respons kapal ketika berlayar di perairan terbuka. Dosen Teknik Kelautan ITS itu menambahkan bahwa kondisi gelombang berpotensi menyebabkan air masuk, terutama melalui pintu ramp door yang tidak menutup sempurna. Meski demikian, ia menegaskan hal tersebut masih memerlukan pemeriksaan teknis lanjutan.

Pakar ITS ungkap kondisi perairan Masalembo saat dilintasi KMP Virgo Transport 8 juga disoroti Guru Besar Teknik Perkapalan ITS, I Ketut Aria Pria Utama. Ia mengungkap kemungkinan kebocoran pada kapal sehingga air dapat masuk melalui bukaan yang ada, terutama bila gelombang laut menimpa kapal. Menurut Ketut, kebocoran itu semakin berbahaya apabila air sampai masuk ke ruang mesin yang terbuka.

“Air yang masuk ke ruang mesin akan mempercepat terjadinya kerusakan kapal,” kata dia.

Ketut menambahkan kemungkinan lain penyebab kapal terbalik adalah pergeseran muatan yang dibawa kapal berjenis Roll-on/Roll off (Ro-Ro) tersebut. Pergeseran muatan, katanya, bisa membuat kapal miring ke salah satu sisi, terutama jika muatan tidak diikat atau lashing ke geladak kapal untuk keamanan.

“Mungkin juga lashing tidak cukup karena muatan besar, akhirnya geser,” ujar alumnus Universitas Southampton, Inggris, itu.

Kondisi Hidrometeorologi di Lokasi Kejadian

Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS yang akrab disapa Dhodot menjelaskan, ketika KM Virgo terbalik dan tenggelam, arah angin tenggara berada sekitar 20 knot dengan embusan hingga 30 knot serta gelombang signifikan mencapai 1,9-2,0 meter. Menurutnya, kondisi itu dapat memengaruhi stabilitas kapal.

Ia memaparkan bahwa perairan Kepulauan Masalembo tergolong dinamis karena dipengaruhi angin muson barat dan timur serta proses transformasi gelombang. Berdasarkan data yang tersedia, kondisi tersebut termasuk adverse marine conditions meskipun tidak masuk kategori cuaca ekstrem menurut klasifikasi BMKG.

Data hidrometeorologi di sekitar lokasi menunjukkan kecepatan angin tenggara berada pada kisaran 18-20 knot sepanjang periode pengamatan, dengan embusan mencapai 27-30 knot. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan gelombang signifikan yang meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi 2 meter. Pada periode gelombang di sekitar KM Virgo terbalik, tinggi gelombang berada pada kisaran 7-8 detik dengan arah dari tenggara, sementara arus laut permukaan tercatat sekitar 1,0-1,2 knot bergerak ke arah barat.

Dhodot mengingatkan agar tragedi terbaliknya KM Virgo tidak dikaitkan dengan narasi Segitiga Bermuda Indonesia yang dilekatkan pada perairan Kepulauan Masalembo. Menurutnya, penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Desain Kapal dan Karakteristik Laut Indonesia

Ketut menilai usia kapal tidak menjadi masalah utama dalam pelayaran selama kapal telah menjalani perawatan. Berdasarkan situs Vessel Diesel, KMP Virgo Transport 8 dibuat sekitar 1987 atau berusia 39 tahun, dengan nomor IMO 8625179 dan MMSI 525110543. Kapal berbendera Indonesia itu memiliki panjang 119 meter dan lebar 21,01 meter, dengan Gross Tonnage 4.277.

Ia menilai aspek desain perlu dikritisi, apakah kapal buatan Jepang tersebut sesuai dan direkomendasikan untuk berlayar di lautan Indonesia dengan gelombang tinggi. Menurut Ketut, aspek performa kapal di laut atau seakeeping kerap diabaikan, padahal berpotensi menimbulkan masalah stabilitas ketika beroperasi. Ia membandingkan karakteristik lautan Jepang yang tertutup dan jarak antarpulaunya berdekatan dengan Indonesia yang terbuka serta memiliki gelombang besar.

“Karakteristik rute pelayaran yang ekstrem ini menuntut standar desain lambung kapal yang berbeda,” ujarnya.

Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr Daryono, menegaskan Masalembo bukan wilayah misterius yang secara otomatis menarik kapal hingga tenggelam. Menurutnya, risiko pelayaran di kawasan itu merupakan hasil interaksi berbagai faktor, antara lain angin, gelombang, arus, pasang surut, kondisi atmosfer, batimetri, karakteristik kapal, muatan, serta keputusan dan prosedur navigasi.

Daryono menjelaskan Masalembo berada di posisi strategis karena diapit Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores. Selat Makassar merupakan jalur utama yang mengalirkan massa air berarus deras dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan. Perbedaan suhu, salinitas, hingga kedalaman air laut di sana menciptakan pergerakan arus yang kompleks.

Ia juga menyoroti fenomena cross-sea atau gelombang silang, yaitu situasi ketika dua atau lebih sistem gelombang dari arah berbeda bertemu dan saling bertabrakan di satu titik. Bagi kapal, hantaman gelombang dari berbagai arah dapat meningkatkan gerakan rolling dan pitching serta menambah beban dinamis pada struktur kapal. Selain itu, laut Masalembo yang hangat disukai pembentukan awan kumulonimbus yang bisa menyemburkan angin kencang secara mendadak.

Sejumlah media asing, termasuk The Star dari Malaysia, menyoroti tragedi ini dari sisi sejarah kecelakaan laut di perairan Masalembo yang selama puluhan tahun dijuluki Segitiga Bermuda Indonesia. Namun para ahli menilai karakteristik alam di kawasan tersebut jauh lebih relevan untuk menjelaskan potensi bahayanya dibandingkan cerita mistis.

Dari rangkaian keterangan para pakar, penanganan keselamatan pelayaran di perairan Masalembo menuntut perhatian pada kombinasi cuaca, arus, desain kapal, dan prosedur pemuatan. Hasil investigasi resmi masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti musibah KMP Virgo Transport 8, sekaligus menjadi dasar perbaikan standar pelayaran di rute-rute rawan gelombang tinggi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *