Cakrawala News – 27 September 2026 | Arab Saudi hadapi serangan Houthi, sekutu berikan dukungan melalui pertahanan dan kerja sama militer. Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melaporkan telah mencegat dan menghancurkan sejumlah rudal balistik serta drone yang diluncurkan kelompok Houthi ke berbagai wilayah Kerajaan, termasuk kawasan Riyadh dan Khamis Mushayt di wilayah Asir, barat daya Arab Saudi. Serangan terbaru itu menjadi bagian dari eskalasi yang meningkat sejak Juli lalu dan mendorong sejumlah sekutu Riyadh memperkuat dukungan pertahanan serta kerja sama militer.
Juru bicara Pasukan Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman, Kolonel Turki Al-Maliki, mengatakan dua drone yang mengarah ke wilayah Riyadh berhasil dicegat dan dihancurkan. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosial X sekitar pukul 04.00 waktu setempat. Sekitar 30 menit kemudian, Al-Maliki kembali mengumumkan bahwa pertahanan udara koalisi mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang ditembakkan ke arah Khamis Mushayt. Tak lama berselang, satu rudal balistik lainnya yang juga diarahkan ke kota yang sama berhasil dihancurkan.
Serangan tersebut terjadi dua hari setelah koalisi menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke arah Yanbu dan Taif di wilayah barat Arab Saudi. Kelompok Houthi yang menguasai wilayah padat penduduk di Yaman dan sebagian besar wilayah utara negara itu disebut meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi sejak mengumumkan blokade laut terhadap Kerajaan pada Juli. Serangan juga dilaporkan menyasar kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi di Laut Merah, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan kota serta infrastruktur energi Arab Saudi.
Pertemuan Kepala Staf Militer Tiga Negara
Beberapa jam sebelum serangan pada Sabtu dini hari, para kepala militer Arab Saudi, Pakistan, dan Turki bertemu di Riyadh untuk membahas ancaman keamanan terhadap Kerajaan Saudi dan situasi regional. Pertemuan tersebut berlangsung setelah ketiga negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Makkah atau Makkah Joint Defence Agreement pada 7 Agustus 2026. Perjanjian itu ditandatangani Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Dalam kesepakatan tersebut, serangan bersenjata terhadap salah satu negara dinyatakan akan dipandang sebagai serangan terhadap seluruh pihak. Menurut Kementerian Pertahanan Arab Saudi, para pemimpin militer ketiga negara sepakat memperdalam kerja sama pertahanan dan intelijen serta meningkatkan integrasi kemampuan pertahanan di bawah perjanjian tersebut. Mereka juga menegaskan komitmen terhadap pertahanan kolektif serta tekad melindungi keamanan, kedaulatan, dan integritas wilayah Arab Saudi.
Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman menerima kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir pada Jumat. Melalui media sosial, Khalid menyatakan menyambut hasil pertemuan para kepala staf berdasarkan Makkah Joint Defense Agreement dan membahas serangan yang menargetkan kota suci Makkah serta infrastruktur sipil dan ekonomi Kerajaan. Ia menuturkan Arab Saudi dan Pakistan menegaskan kembali komitmen untuk melanjutkan upaya bersama dalam menghadapi serangan tersebut sesuai ketentuan perjanjian pertahanan.
Pertemuan itu merupakan tindak lanjut pembicaraan tingkat menteri luar negeri ketiga negara. Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan sebelumnya bertemu Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan di New York, Amerika Serikat, di sela-sela pekan tingkat tinggi Sidang ke-81 Majelis Umum PBB. Salah satu agenda pembahasannya adalah persiapan pertemuan darurat para kepala staf militer ketiga negara.
Dukungan Prancis dan Klaim Houthi
Sekutu Arab Saudi mulai memperkuat dukungan kepada Riyadh setelah kelompok Houthi meningkatkan serangan terhadap wilayah dan fasilitas strategis negara tersebut. Prancis mengonfirmasi rencana pengiriman tentara, radar, dan sistem pertahanan untuk melindungi terminal minyak utama di Yanbu, Laut Merah. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pengerahan tersebut ditujukan untuk melindungi fasilitas Yanbu, bukan untuk melibatkan Prancis dalam konflik.
Yanbu dinilai sebagai target vital karena pelabuhan Laut Merah itu menampung fasilitas penyimpanan dan pengolahan minyak serta terhubung dengan Pipa Timur-Barat yang mampu mengangkut hingga tujuh juta barel minyak per hari. Di sisi lain, pasukan Arab Saudi menyatakan telah mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan Houthi, sementara kelompok tersebut mengklaim menyerang fasilitas Aramco di Yanbu dan sebuah sasaran di Riyadh.
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyatakan pasukannya menembakkan puluhan rudal balistik dan drone ke kawasan Jazan di barat daya Saudi. Serangan itu disebut menyasar pusat kendali operasi, kamp militer Al-Daghareer, serta deretan pangkalan di Al-Tuwal. Saree mengklaim serangan tersebut berhasil mengenai sasaran dan membakar sejumlah gudang amunisi, menyerang fasilitas kilang Saudi Aramco di Yanbu, dan menyasar sasaran sensitif di Riyadh. Pihak Houthi juga mengklaim serangan itu menimbulkan ratusan korban di kalangan personel militer Saudi, Yaman, dan Sudan. Koalisi pimpinan Saudi belum menanggapi klaim tersebut.
Otoritas Pertahanan Sipil Saudi sempat mengeluarkan peringatan bahaya di beberapa kota, termasuk Makkah, Jeddah, dan Tabuk. Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menegaskan eskalasi dan pelanggaran oleh milisi Houthi akan ditindak secara tegas. Situasi ini menunjukkan bahwa Arab Saudi hadapi serangan Houthi, sekutu berikan dukungan melalui pertahanan dan kerja sama militer sebagai respons utama.
Dampak Regional dan Pasar Minyak
Bersamaan dengan serangan ke Arab Saudi, pertempuran juga meletus di berbagai front di Yaman. Sedikitnya 150 personel dari pihak Houthi dan pasukan pemerintah tewas dalam pertempuran selama 24 jam terakhir. Sebanyak 98 tentara pemerintah gugur, sebagian besar akibat serangan drone dan rudal balistik Houthi, sementara sedikitnya 52 milisi Houthi tewas dalam bentrokan lainnya. Banyak korban dari kedua belah pihak gugur dalam pertempuran di kawasan Pegunungan Kahboub yang menghadap Selat Bab al-Mandab.
Bentrokan juga berkecamuk di perbatasan Lahj dan Taiz untuk memperebutkan jalan Hejat al-Abd, satu-satunya jalur logistik yang menghubungkan Kota Taiz dengan pusat pemerintahan di Aden. Juru bicara militer pemerintah Yaman, Kolonel Majed al-Nuzaili, menyatakan pasukannya berhasil memukul mundur serbuan Houthi yang berupaya memutus jalur penting tersebut. Wakil Presiden Dewan Kepresidenan Yaman, Abdullah Abdulkader al-Alimi, menilai pemanfaatan keselamatan pelayaran oleh milisi Houthi sebagai alat pemerasan tidak hanya mengancam Yaman, tetapi juga menyandera seluruh ekonomi dunia.
Houthi juga mengancam akan menyerang kepentingan Amerika Serikat jika Washington ikut campur mendukung Arab Saudi. Penasihat militer Houthi, Abed Mohammed al-Thawr, mengatakan kepada AFP bahwa jika Amerika berani melakukan intervensi militer dengan armada lautnya atau mencoba menguasai Bab al-Mandab, hal itu merupakan garis merah. Ia menambahkan kelompoknya akan menganggap setiap kepentingan Amerika di sekitar mereka sebagai target dan menutup Bab al-Mandab sepenuhnya bagi kapal-kapal Amerika. Sejauh ini Houthi bersikeras bahwa satu-satunya ancaman di Bab al-Mandab adalah terhadap kapal-kapal Saudi.
Eskalasi ini juga berdampak pada pasar minyak. Harga minyak mentah Brent sempat mencapai 105,77 dolar AS atau sekitar Rp1,89 juta per barel sebelum tekanan harga mereda. Situasi tersebut menegaskan bahwa Arab Saudi hadapi serangan Houthi, sekutu berikan dukungan melalui pertahanan dan kerja sama militer, sekaligus menunjukkan risiko yang lebih luas bagi keamanan pelayaran dan pasokan energi global.
Ke depan, perhatian tertuju pada apakah mekanisme pertahanan kolektif dalam Makkah Joint Defence Agreement akan secara resmi diaktifkan. Belum ada keputusan mengenai tindakan militer yang akan diambil Pakistan dan Turki karena mekanisme tersebut belum dinyatakan aktif. Sementara itu, keberlanjutan serangan Houthi, keamanan jalur pelayaran di Laut Merah dan Bab al-Mandab, serta stabilitas harga minyak akan menjadi indikator penting bagi perkembangan situasi di kawasan.
