Cakrawala News – 15 Oktober 2026 | Awalnya curiga benjolan di dada, Berlliana Lovell ceritakan reaksinya saat dengar vonis kanker. Perempuan yang juga dikenal sebagai figur publik itu mengaku sempat tidak percaya ketika pertama kali menerima diagnosis tersebut. Ia baru bisa meluapkan kesedihannya beberapa hari setelah kenyataan itu benar-benar ia terima.
Pengalaman itu ia bagikan saat ditemui di Studio Pagi-pagi Ambyar Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, pada Senin (12/10/2026). Kepada awak media, Berlliana menuturkan bagaimana dirinya berjuang melawan kanker hingga kemudian menjalani operasi pengangkatan kista.
“Aslinya kita cuma bisa bengong karena… hah? Masa sih? Masih denial pasti,” kata Berlliana Lovell menggambarkan reaksi awalnya saat menerima vonis kanker.
Reaksi penolakan itu, menurut Berlliana, merupakan hal yang wajar dialami seseorang yang baru saja divonis penyakit berat. Ia butuh waktu untuk mencerna informasi tersebut sebelum akhirnya bisa menerima kondisi yang sedang dihadapinya.
Berawal dari Benjolan di Dada
Sebelum didiagnosis kanker, Berlliana mengaku menemukan bentol merah di bagian dada. Benjolan tersebut tidak terasa gatal, tetapi menimbulkan rasa ngilu saat disentuh.
Awalnya, ia mengira benjolan itu hanya pembengkakan kelenjar getah bening. Dugaan awal itu membuatnya belum terlalu khawatir. Namun, karena rasa penasaran dan kekhawatiran yang terus muncul, ia akhirnya memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter.
Dari pemeriksaan itulah ia kemudian mendapat diagnosis kanker. Temuan benjolan yang awalnya dianggap sepele itu ternyata menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai penyintas kanker.
Kisah Berlliana menunjukkan bahwa gejala yang tampak ringan sekalipun perlu mendapat perhatian. Pemeriksaan medis menjadi langkah penting untuk memastikan penyebab suatu benjolan atau kelainan pada tubuh.
Menjalani Kemoterapi hingga Remisi
Setelah diagnosis ditegakkan, Berlliana menjalani serangkaian pengobatan, termasuk kemoterapi. Selama menjalani kemoterapi, ia merasakan tubuhnya lemas dan nyeri.
Kondisi tersebut merupakan efek yang umum dirasakan pasien selama menjalani pengobatan kanker. Meski begitu, Berlliana terus menjalani proses pengobatan hingga akhirnya kondisi kesehatannya berangsur normal.
Ia memasuki masa remisi pada 2017. Masa remisi merupakan kondisi ketika tanda dan gejala kanker berkurang atau hilang, meski pasien tetap perlu menjalani pemantauan kesehatan secara berkala.
Berlliana menegaskan bahwa perjuangannya melawan kanker tidaklah istimewa dibandingkan para pejuang kanker lainnya. Menurutnya, semua pasien memiliki beban dan tantangan yang sama-sama berat.
“Perjuangannya sama dengan yang lainnya. Pasti berat, nggak ada yang lebih berat atau lebih ringan sih menurut aku kalau soal kanker, sama-sama berat kayak yang lainnya. Gak ada istimewanya lah, sama kayak pejuang yang lain,” tuturnya.
Operasi Kista di Korea Selatan
Perjuangan Berlliana tidak berhenti setelah melewati masa remisi. Pada 2025, ia menjalani operasi pengangkatan kista di Korea Selatan.
Keputusan itu diambil karena kista yang dialaminya mulai mengganggu dan ada kesempatan untuk menjalani operasi. Ia memilih tidak menunda tindakan medis tersebut.
“Ya udah diangkat aja daripada nanti-nanti. Aku nggak suka dinanti-nanti soalnya,” ujar Berlliana.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pemantauan kesehatan setelah masa remisi tetap penting. Pasien penyintas kanker perlu memperhatikan setiap perubahan pada tubuhnya dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila menemukan keluhan baru.
Pesan untuk Perempuan agar Tidak Takut Memeriksa Diri
Dari pengalaman yang dialaminya, Berlliana mengingatkan perempuan agar tidak takut memeriksakan diri ketika menemukan gejala yang tidak biasa pada tubuh.
Menurutnya, pemeriksaan sejak dini penting agar penyakit bisa segera ditangani. Semakin cepat kondisi terdeteksi, semakin besar pula peluang untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Pesan tersebut relevan mengingat banyak orang cenderung menunda pemeriksaan karena rasa takut atau menganggap remeh gejala yang muncul. Padahal, deteksi dini dapat membuat perbedaan besar dalam proses pengobatan.
Kisah Berlliana Lovell menjadi pengingat bahwa kesadaran terhadap kesehatan diri sendiri tidak bisa diabaikan. Mulai dari memperhatikan benjolan di tubuh hingga berani memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan merupakan langkah awal yang penting.
Hingga kini, Berlliana terus menjalani hidup dengan pemantauan kesehatan yang lebih baik. Pengalamannya melawan kanker dan kista menjadi gambaran bahwa perjuangan seorang penyintas tidak berhenti pada satu titik, melainkan berlanjut melalui gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin.
Bagi masyarakat, khususnya perempuan, kisah ini dapat menjadi dorongan untuk lebih peduli terhadap perubahan yang terjadi pada tubuh. Jangan menunggu gejala memburuk sebelum memeriksakan diri, karena penanganan dini selalu lebih baik daripada penyesalan di kemudian hari.












