BMKG Catat Belum Ada Gempa Susulan usai Gempa M5,2 di Bengkulu

BMKG Catat Belum Ada Gempa Susulan usai Gempa M5,2 di Bengkulu
BMKG Catat Belum Ada Gempa Susulan usai Gempa M5,2 di Bengkulu

Cakrawala News – 23 Oktober 2026 | Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kepahiang menyatakan belum mendeteksi adanya gempa susulan setelah gempa berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah Bengkulu pada Kamis, 22 Oktober 2026. Gempa tersebut terjadi pukul 17.57 WIB dan hingga malam hari belum diikuti aktivitas susulan yang tercatat.

Kepala Stasiun Geofisika Kepahiang Anton Sugiharto mengatakan potensi gempa susulan masih tetap ada sehingga pihaknya terus melakukan pemantauan. “Memang benar baru terjadi gempa bumi. Potensi tetap ada, masih kita monitoring terus sampai saat ini belum ada gempa susulan,” kata Anton, dilansir Antara, Kamis, 22 Oktober 2026.

Berdasarkan data BMKG, titik lokasi gempa berada di 3,11 lintang selatan dan 102,14 bujur timur, tepatnya 6 kilometer barat laut Kabupaten Lebong. Gempa tersebut memiliki kedalaman 120 kilometer.

Pemantauan Intensif di Stasiun Kepahiang

Petugas Stasiun Geofisika Kepahiang tampak memantau aktivitas gempa di wilayah Provinsi Bengkulu melalui peralatan seismik yang tersedia. Pemantauan dilakukan untuk memastikan apakah ada aktivitas lanjutan setelah guncangan utama yang terjadi sore hari.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. BMKG juga belum merinci wilayah mana saja yang merasakan guncangan dan seberapa besar intensitasnya.

Meski demikian, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Warga diminta mengikuti perkembangan resmi dari BMKG terkait aktivitas gempa di wilayah Bengkulu.

Peringatan Dini Cuaca dan Banjir Rob di Sejumlah Wilayah

Di sisi lain, BMKG pada hari yang sama juga mengeluarkan sejumlah peringatan dini terkait cuaca dan fenomena kelautan di berbagai wilayah Indonesia. Direktorat Meteorologi Maritim BMKG mengingatkan potensi banjir pesisir atau rob yang dipicu aktivitas Fase Bulan Purnama pada 26 Oktober 2026 serta Fase Perigee pada 29 Oktober 2026.

Kombinasi kedua fenomena astronomis tersebut berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari. Potensi rob diprakirakan melanda pesisir Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali pada rentang 22 Oktober hingga 1 November 2026, dengan jadwal berbeda di tiap wilayah.

Untuk Pulau Sumatra, BMKG memperkirakan rob berpotensi terjadi di pesisir Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Lampung. Di pesisir Sumatra Utara, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Pesisir Medan Belawan, Pesisir Medan Labuhan, dan Pesisir Medan Marelan sejak 23 hingga 31 Oktober 2026.

Sementara di pesisir Sumatra Barat, potensi rob mengancam pesisir Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Agam, serta Kabupaten Pasaman Barat pada 24 hingga 27 Oktober 2026. Wilayah Pesisir Kepulauan Mentawai yang meliputi Pulau Pagai, Siberut, dan Sipora juga berpotensi mengalami rob pada rentang tanggal yang sama.

Adapun untuk pesisir Lampung, kawasan yang berpotensi terdampak meliputi pesisir Bandar Lampung, Tanggamus, Lampung Selatan, Pesawaran, Lampung Timur, dan Lampung Barat sejak 26 hingga 31 Oktober 2026. BMKG mengingatkan rob dapat mengganggu aktivitas pelabuhan, permukiman pesisir, tambak garam, dan perikanan darat.

Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek dan Sulawesi Utara

BMKG juga memperbarui peringatan dini cuaca untuk wilayah Jabodetabek dalam dua hari ke depan. Berdasarkan informasi peringatan dini cuaca pada Kamis, 22 Oktober 2026, status waspada hujan sedang hingga lebat berlaku di Kota Bogor dan Kota Depok, sementara Kabupaten Bogor masuk status siaga.

Masyarakat di wilayah yang masuk dalam peringatan dini tersebut diimbau mewaspadai potensi dampak hujan, seperti genangan air, banjir, hingga tanah longsor di daerah rawan. Warga juga disarankan memantau informasi cuaca terbaru dari BMKG untuk mengetahui perkembangan kondisi cuaca di wilayah masing-masing.

Di Sulawesi Utara, BMKG memperingatkan potensi hujan lebat dan angin kencang di sejumlah kabupaten dan kota. Koordinator Bidang Operasional Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado Karina Husna menyebut masyarakat dan pemangku kepentingan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem tersebut.

“Waspada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang, serta peningkatan akumulasi curah hujan harian,” kata Karina, dilansir Antara, Kamis, 22 Oktober 2026. Monsun Australia diketahui aktif sejak April 2026 dan diprediksi terus aktif pada periode September–Oktober 2026, menyebabkan angin dominan dari tenggara hingga selatan.

Pengaruh Siklon Tropis Champi

BMKG juga menanggapi ramai informasi di media sosial yang menyebut Siklon Tropis Champi dapat menghisap asap kebakaran hutan dan lahan. Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menegaskan siklon tersebut tidak menyedot asap karhutla maupun secara langsung mengubah arah sebarannya.

Menurut Andri, Siklon Tropis Champi saat ini berada sekitar 1.890 kilometer di utara Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dan bergerak menjauhi Indonesia. Meski demikian, sirkulasinya masih dapat memengaruhi kondisi atmosfer di sebagian wilayah Indonesia.

Pengaruh tidak langsung Champi antara lain berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di Kalimantan Utara, Kalimantan Barat bagian utara, dan Kepulauan Riau bagian utara. Hujan yang turun di wilayah terdampak asap dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara karena air hujan menangkap dan membawa sebagian partikel asap ke permukaan.

Andri menyebut Champi saat ini berada pada kategori 4, tetapi kekuatannya diprakirakan menurun dengan arah pergerakan yang tetap menjauhi Indonesia. Ia menegaskan potensi pengurangan partikel asap tersebut bukan akibat tarikan angin siklon secara langsung, melainkan melalui pengaruhnya terhadap kondisi cuaca, termasuk hujan.

Dengan beragam peringatan yang dikeluarkan pada hari yang sama, masyarakat diimbangi untuk terus memantau informasi resmi BMKG. Kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan di Bengkulu, banjir rob di kawasan pesisir, serta cuaca ekstrem di sejumlah daerah menjadi kunci untuk meminimalkan risiko dampak yang mungkin timbul.

Exit mobile version