Cakrawala News – 03 Oktober 2026 | Sejumlah bandara di Indonesia menjadi sorotan dalam beberapa hari terakhir, mulai dari kerja sama penanganan kargo udara di Bandara Soekarno-Hatta dan Denpasar, gangguan cuaca di Palembang, penutupan sementara Bandara Larantuka akibat erupsi gunung, hingga kerugian besar yang dialami Bandara Soekarno-Hatta imbas letusan Anak Krakatau.
Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa operasional bandara sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, aktivitas vulkanik, dan dinamika bisnis penerbangan. Berikut rangkuman perkembangan terbaru dari berbagai bandara di Tanah Air.
Gapura Angkasa Jalin Kerja Sama Kargo dengan Turkish Cargo
Layanan penanganan kargo udara di Indonesia kembali mendapat dukungan melalui kerja sama antara PT Gapura Angkasa dan Turkish Cargo. Kedua perusahaan menandatangani perjanjian layanan penanganan kargo untuk operasional di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, dan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Denpasar.
Perjanjian tersebut ditandatangani di Istanbul pada 24 September 2026. Kerja sama mencakup Seksi 5 atau Layanan Penanganan Kargo, dengan PT Gapura Angkasa menyediakan layanan sesuai ruang lingkup, prosedur, dan standar operasional yang telah disepakati kedua pihak.
Chief Cargo Officer Turkish Airlines, Ali Türk, menyatakan bahwa Indonesia adalah bagian penting dari jaringan kargo udara global mereka. Menurutnya, kemitraan dengan Gapura Angkasa mendukung operasional Turkish Cargo di Soekarno-Hatta dan Denpasar serta membantu menghadirkan layanan yang konsisten dan lancar bagi pelanggan di seluruh kawasan.
“Di Turkish Cargo, kemitraan penanganan kargo yang kuat sangat esensial bagi komitmen tersebut, dan kami menantikan kelanjutan kolaborasi kami dengan Gapura Angkasa ke depannya,” kata Ali Türk dalam keterangan pers yang dikutip pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Langkah ini dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai simpul logistik udara di kawasan, seiring meningkatnya kebutuhan pengiriman barang lintas negara melalui bandara-bandara utama.
Jarak Pandang Rendah Ganggu Delapan Penerbangan di Palembang
Di sisi lain, kondisi cuaca menyebabkan gangguan operasional di Bandara SMB II Palembang. Jarak pandang yang berada di bawah standar minimum penerbangan membuat sejumlah penerbangan mengalami penundaan, bahkan satu pesawat harus kembali ke bandara asal.
General Manager Bandara SMB II Palembang, Ahmad Syaugi Sahab, mengatakan terdapat empat penerbangan pada sisi kedatangan dan empat penerbangan pada sisi keberangkatan yang terdampak kondisi tersebut.
Pada sisi kedatangan, penerbangan yang terdampak yakni QG 980 rute Jakarta-Palembang, IU 933 rute Yogyakarta-Palembang, IU 924 rute Jakarta-Palembang, dan GA 102 rute Jakarta-Palembang. Untuk QG 980 rute Jakarta-Palembang, penerbangan tersebut mengalami return to base atau kembali ke bandara asal.
Sementara itu, empat penerbangan yang terdampak pada sisi keberangkatan yakni QG 981 rute Palembang-Jakarta, IU 964 rute Palembang-Jakarta, IU 871 rute Palembang-Jakarta, dan GA 107 rute Palembang-Jakarta.
Ahmad menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena visibility below minimum, yakni jarak pandang berada di bawah batas minimum yang dipersyaratkan untuk operasional penerbangan. Pihak bandara bersama maskapai terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan kondisi cuaca, dengan penyesuaian operasional yang tetap mengutamakan faktor keselamatan.
Erupsi Ile Lewotolok Tutup Sementara Bandara Larantuka
Gangguan operasional juga terjadi di Nusa Tenggara Timur. Bandara Gewayantana Larantuka, Kabupaten Flores Timur, ditutup sementara akibat erupsi Gunung Ile Lewotolok pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Penutupan tersebut berdampak pada dua penerbangan dengan total 87 penumpang.
Kepala Bandara Gewayantana Larantuka, Puguh Lukito, membenarkan penutupan sementara tersebut. Menurutnya, status penutupan bandara telah disampaikan melalui Notice to Airmen (NOTAM).
Puguh menyebut dua penerbangan yang terdampak penutupan bandara, yakni rute Larantuka-Kupang dan Kupang-Larantuka. Penerbangan Wings Air IW 1929 rute Kupang-Larantuka dengan jadwal keberangkatan pukul 09.25 waktu setempat membawa 55 penumpang. Sementara penerbangan IW 1928 rute Larantuka-Kupang yang dijadwalkan berangkat pukul 10.50 waktu setempat membawa 27 penumpang.
Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok masih terpantau. Dalam periode 24 jam hingga Jumat, 2 Oktober 2026 pukul 00.00-24.00 Wita, gunung api tersebut tercatat mengalami 132 kali letusan disertai 2 guguran, 135 embusan, 6 tremor non harmonik, dan sekali tektonik jauh.
Masyarakat di sekitar Gunung Ile Lewotolok, termasuk pengunjung dan pendaki, diimbau tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2-3 kilometer pada sektor selatan dan tenggara dari pusat aktivitas gunung.
Soekarno-Hatta Rugi Rp40 Miliar Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau
Dampak abu vulkanik juga dirasakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta. PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports melaporkan kerugian hingga Rp40 miliar akibat penutupan sementara bandara selama dua hari imbas sebaran debu abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau.
Direktur Operasi InJourney Airports, Agus Haryadi, menyampaikan hal itu dalam kegiatan lokakarya di Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat, 2 Oktober 2026. Ia menegaskan penutupan dilakukan demi mengutamakan aspek keselamatan penerbangan, terutama setelah laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menunjukkan abu vulkanik cukup tebal.
“Tentu penutupan ini bukan opsi. Memang harus dilakukan. Tentu alasan pertamanya adalah alasan keselamatan, karena ini nyawa orang yang kita handle,” tegas Agus.
Penutupan per 6 September 2026 itu tercatat sebagai yang pertama di Bandara Soekarno-Hatta sejak 1992. Agus mengungkapkan bahwa selama 34 tahun bekerja di Soekarno-Hatta, bandara tersebut belum pernah mengalami penutupan total. Bahkan, pandemi Covid-19 tidak sampai melumpuhkan operasional bandara, yang tetap berstatus open meski dihadapkan pada protokol kesehatan ketat.
“Covid-19 pun tidak tutup. Covid itu tidak tutup, status bandara itu open. Kalau ini kemarin itu benar-benar close,” ungkapnya.
Soekarno-Hatta Masuk Daftar Bandara dengan Resto dan Kafe Terbanyak
Di tengah berbagai dinamika operasional, Bandara Soekarno-Hatta juga mencatat prestasi dalam hal fasilitas komersial. Berdasarkan informasi dari situs Airport Parking and Hotels, bandara tersebut menempati peringkat keenam sebagai bandara dengan restoran dan kafe terbanyak di dunia.
Singapore Changi Airport menempati peringkat pertama dengan 247 resto dan kafe. Posisi kedua ditempati O’Hare International Airport di Chicago, Amerika Serikat, dengan 210 resto dan kafe. Jepang menyusul di posisi ketiga melalui Tokyo Haneda Airport dengan 173 resto dan kafe.
Urutan keempat dan kelima sama-sama berasal dari Amerika Serikat, yakni Hartsfield-Jackson Atlanta International Airport dan LaGuardia Airport, masing-masing dengan 165 dan 142 resto dan kafe.
Keberadaan area komersial ini menjadi nilai tambah bagi penumpang maupun pengunjung yang membutuhkan tempat bersantai, menunggu, atau beristirahat, terutama saat waktu transit cukup panjang.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa bandara bukan sekadar tempat pendaratan dan pemberangkatan pesawat, melainkan simpul ekonomi dan logistik yang rentan terhadap faktor alam. Koordinasi antara pengelola bandara, maskapai, dan otoritas terkait menjadi kunci agar operasional tetap aman, efisien, dan berkelanjutan.
Ke depan, pemantauan cuaca dan aktivitas vulkanik akan terus menjadi perhatian utama, seiring upaya memperkuat konektivitas udara serta layanan penanganan kargo di berbagai bandara utama Indonesia.
