Cakrawala News – 04 Oktober 2026 | Founder Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal titip 3 pesan untuk Menlu Arrmanatha, apa saja? Pesan-pesan itu disampaikan Dino kepada Menteri Luar Negeri RI yang baru dilantik, Arrmanatha Christiawan Nasir atau yang akrab disapa Tata, beberapa saat setelah pelantikan di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (1/10/2026). Melalui pesan video pada Jumat (2/10/2026), Dino menyampaikan tiga hal yang dinilainya penting bagi arah diplomasi Indonesia ke depan, mulai dari politik luar negeri, anggaran kementerian, hingga hubungan dengan masyarakat sipil.
Dino mengawali pesannya dengan ucapan selamat kepada Tata atas penugasan baru sebagai Menteri Luar Negeri. Ia menyebut Tata sebagai diplomat karier yang telah merintis perjalanan dari bawah hingga dipercaya memimpin Kementerian Luar Negeri. Menurut Dino, keduanya memiliki satu kesamaan, yakni sama-sama memulai karier sebagai lokal staff di perwakilan Indonesia di luar negeri sebelum masuk ke Departemen Luar Negeri dan akhirnya mencapai posisi sebagai pimpinan Kementerian Luar Negeri.
Tiga Pesan Dino Patti Djalal untuk Menlu Tata
Pesan pertama berkaitan dengan arah politik luar negeri Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia. Dino berharap diplomasi Indonesia tetap menunjukkan keberanian dalam mempertahankan prinsip hubungan internasional dan tidak tunduk pada tekanan negara mana pun. Ia menyampaikan harapan itu secara langsung dalam pesan videonya.
“Kepada Menlu Tata, kami dari Komunitas Hubungan Internasional nitip tiga hal. Pertama, dalam dunia yang sedang sangat semrawut, kami berharap politik luar negeri Indonesia bisa menunjukkan watak bangsa kita yang berani membela prinsip hubungan internasional dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan bangsa manapun, betapapun besarnya mereka,” ujar Dino.
Selain itu, Dino berharap Indonesia tidak hanya berfokus pada kepentingan domestik. Menurutnya, Indonesia juga perlu aktif berkontribusi dalam membangun serta memperbaiki arsitektur kawasan dan global menghadapi perubahan tatanan dunia. Dengan kata lain, diplomasi Indonesia diharapkan tetap memiliki dimensi keluar yang kuat, bukan sekadar reaktif terhadap perkembangan eksternal.
Pesan kedua menyoroti kondisi anggaran Kementerian Luar Negeri. Dino menyebut adanya keterbatasan anggaran yang dihadapi perwakilan diplomatik Indonesia. Isu ini dinilainya penting karena kemampuan diplomasi sebuah negara sangat bergantung pada dukungan sumber daya, termasuk pendanaan bagi kantor perwakilan di luar negeri. Keterbatasan anggaran, menurutnya, dapat memengaruhi efektivitas kerja diplomat Indonesia di lapangan.
Pesan ketiga menekankan pentingnya menjaga kerja sama dengan masyarakat sipil. Dino menilai dialog antara pemerintah dan masyarakat perlu terus dipelihara. Organisasi masyarakat sipil, termasuk komunitas hubungan internasional, berperan sebagai mitra dalam memberikan masukan, kritik, dan dukungan terhadap kebijakan luar negeri. Karena itu, keterbukaan pemerintah terhadap aspirasi masyarakat dinilainya menjadi bagian penting dari proses diplomasi yang sehat.
Apresiasi untuk Sugiono dan Transisi di Kemlu
Dino juga menyampaikan apresiasi kepada Sugiono yang kini mendapat tugas baru sebagai Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK). Sugiono sebelumnya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri sejak Oktober 2024. Dalam reshuffle kabinet terbaru Presiden Prabowo Subianto, posisi tersebut kini diisi oleh Arrmanatha Christiawan Nasir, yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.
Menurut Dino, pergantian tersebut merupakan keputusan yang tepat. Ia menilai Sugiono selama ini menghadapi tantangan dalam membagi waktu antara tugas sebagai Menlu dan tanggung jawabnya sebagai petinggi partai yang juga membutuhkan perhatian besar di dalam negeri. Dino menyampaikan terima kasih kepada Sugiono atas dedikasinya selama memimpin Kementerian Luar Negeri di tengah situasi dunia yang sangat dinamis dan penuh tantangan.
Dalam keterangan videonya, Dino menyebut Sugiono telah mengemban tugas sebagai Menteri Luar Negeri ke-18 Republik Indonesia selama sekitar 23 bulan. Selama periode itu, ia menilai terdapat sejumlah capaian yang patut diapresiasi. Menurut Dino, Sugiono menjadi pelopor masuknya Indonesia ke dalam BRICS, terpilihnya Indonesia sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB, hingga masuknya Indonesia sebagai pendiri Board of Peace. Ia juga menyinggung upaya pemulangan WNI dari berbagai situasi bermasalah di luar negeri.
Dino juga mengapresiasi sikap Sugiono yang tetap terbuka terhadap kritik dan menjaga komunikasi. Sikap tersebut dinilainya sebagai profesionalisme yang patut ditiru oleh pejabat publik lainnya.
Arrmanatha Nasir Dilantik secara Mendadak
Penunjukan Arrmanatha Nasir sebagai Menteri Luar Negeri berlangsung dalam waktu yang cukup singkat. Tata mengaku baru mengetahui dirinya akan dilantik sebagai Menlu pada Kamis (1/10/2026) siang. Kabar itu datang melalui Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Arrmanatha diminta datang ke Istana Kepresidenan Jakarta sekitar pukul 12.30 WIB. Sekitar dua jam kemudian, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Menlu menggantikan Sugiono.
Informasi tersebut diterimanya melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon dari Teddy. Yang menarik, ketika menerima kabar itu, Arrmanatha masih berada bersama Sugiono yang saat itu masih menjabat sebagai Menlu. Sugiono sendiri kemudian mendapat tugas baru sebagai Menko PMK.
Sejumlah prioritas yang disampaikan Tata setelah pelantikan mencakup kepentingan nasional, stabilitas kawasan, dan perdamaian internasional. Ia juga menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia tetap bebas aktif dan tidak berubah dengan pergantian menteri.
Dengan latar belakang sebagai diplomat karier, Tata diharapkan dapat melanjutkan agenda diplomasi Indonesia yang telah berjalan sekaligus menghadapi tantangan baru. Tiga pesan yang dititipkan Dino Patti Djalal untuk Menlu Arrmanatha menjadi salah satu masukan awal dari komunitas hubungan internasional, khususnya mengenai arah politik luar negeri, dukungan anggaran bagi perwakilan diplomatik, dan kemitraan dengan masyarakat sipil. Perkembangan berikutnya akan terlihat dari langkah konkret Kementerian Luar Negeri di bawah kepemimpinan Menlu Tata dalam beberapa bulan mendatang.
