Benjamin Netanyahu Hadapi Ancaman Oposisi Menjelang Pemilu Israel 27 Oktober

Benjamin Netanyahu Hadapi Ancaman Oposisi Menjelang Pemilu Israel 27 Oktober
Benjamin Netanyahu Hadapi Ancaman Oposisi Menjelang Pemilu Israel 27 Oktober

Cakrawala News – 04 Oktober 2026 | Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hadapi ancaman dari oposisi menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026. Tekanan datang tidak hanya dari partai-partai pesaing, tetapi juga dari mantan Perdana Menteri Ehud Barak yang secara terbuka menuduh Netanyahu menyiapkan eskalasi perang demi menunda pemungutan suara. Situasi ini membuat posisi Netanyahu semakin terdesak setelah bertahun-tahun memimpin pemerintahan.

Barak, yang pernah menjabat sebagai perdana menteri, mengatakan kepada Channel 12 bahwa Netanyahu sedang “menyiapkan infrastruktur untuk berperang yang dapat menunda pemilu.” Pernyataan itu disampaikan pada Sabtu, 3 Oktober 2026, dan dikutip oleh kantor berita Anadolu. Tuduhan tersebut menambah panas perdebatan domestik mengenai penggunaan isu keamanan dalam kampanye pemilu.

Dalam kritiknya, Barak tidak menahan diri. Ia menilai Netanyahu sebagai sosok yang tidak dapat dipercaya. “Netanyahu berbohong saat bernapas, saat makan kentang goreng, dan saat meninggalkan restoran tanpa membayar,” ujar Barak. Ia kemudian menyerukan agar Netanyahu disingkirkan dari kekuasaan melalui pemilu. “Kita harus melakukan segala sesuatu untuk menyingkirkannya dari kekuasaan pada 27 Oktober, sekali dan untuk selamanya,” katanya.

Peringatan Keamanan dan Insiden Flydubai

Pernyataan Barak muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan. Netanyahu sebelumnya memperingatkan bahwa Israel dapat menghadapi serangan menjelang pemilu. Ia juga menggelar konsultasi dengan pejabat senior keamanan mengenai perkembangan di sejumlah front.

Netanyahu turut mengancam akan melakukan pembalasan terhadap pihak yang terbukti berada di balik insiden penerbangan Flydubai FZ1073 dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September. Ia menyatakan penyelidikan sedang berlangsung untuk menentukan apakah pelaku bertindak atas instruksi pihak lain. “Siapa pun yang mengirimnya akan membayar harga yang sangat mahal,” ujar Netanyahu.

Insiden tersebut kemudian menjadi isu dalam kampanye pemilu. Lawan-lawan Netanyahu menuduhnya memanfaatkan isu keamanan untuk memperkuat posisinya. Tuduhan serupa pernah dilontarkan Barak pada Agustus, ketika ia menilai Netanyahu berupaya membawa Israel hingga hari pemungutan suara dalam kondisi ketegangan keamanan dan ketakutan publik yang meningkat. Menurut Barak, eskalasi di sejumlah front regional berkaitan dengan pertimbangan elektoral.

Saat ini operasi militer Israel masih berlangsung di sejumlah front, termasuk Jalur Gaza, Lebanon, dan Suriah. Pemilu 27 Oktober akan menjadi pemilihan umum pertama Israel sejak peristiwa 7 Oktober 2023.

Peta Dukungan dan Jajak Pendapat

Warga Israel terpecah menjelang pemilu Knesset. Jajak pendapat Channel 13 menunjukkan blok oposisi memperoleh proyeksi 52 kursi, sedangkan blok pemerintahan Netanyahu 51 kursi. Mayoritas pemerintahan membutuhkan sedikitnya 61 dari 120 kursi Knesset.

Gadi Eisenkot melalui Partai Yashar memimpin proyeksi perolehan partai dengan 22 kursi, sementara Likud yang dipimpin Netanyahu diproyeksikan memperoleh 18 kursi. Eisenkot, mantan panglima militer Israel, dipandang sebagai rival berat Netanyahu.

Perpecahan terlihat di tengah masyarakat. Sebagian pemilih tetap mendukung Netanyahu dan kelompok sayap kanan, sementara lainnya menginginkan perubahan kepemimpinan setelah perang serta meningkatnya persoalan ekonomi dan sosial. Pemilih yang menginginkan perubahan menilai pemerintah perlu mengubah arah kebijakan, termasuk dalam menangani keamanan, ekonomi, wajib militer, dan hubungan dengan masyarakat Palestina.

Karena tidak satu pun blok utama mencapai ambang 61 kursi, hasil pemilu sulit dipastikan. Peluang pembentukan pemerintahan berikutnya juga dipengaruhi posisi partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel. Komite Pemilihan Pusat Israel pada September memutuskan mendiskualifikasi Ra’am dan Joint List dari pemilu, tetapi keputusan itu masih menjalani peninjauan Mahkamah Agung setelah kedua kelompok mengajukan banding.

Sikap Trump dan Koordinasi Oposisi

Dari Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan memberikan dukungan politik langsung kepada Netanyahu. Dalam wawancara dengan majalah TIME yang dirilis Kamis, 1 Oktober 2026, Trump mengatakan, “Saya hanya bisa mengatakan bahwa saya tidak lagi terlibat dalam politik, kecuali bahwa kami populer.” Ketika didesak, ia menjawab, “Tidak, hal utama bagi saya, saya memang ingin membantu mereka mempertahankan Israel.”

Meski enggan mendukung, Trump menilai Netanyahu masih berpotensi menang. Ia bahkan menyebut elektabilitas Netanyahu berada di angka 99 persen, meski tidak menjelaskan dasar angka tersebut. Trump juga mengakui Eisenkot sebagai lawan berat dan mengatakan tidak mendengar hal buruk tentangnya. “Orang-orang sudah berkali-kali menganggap Bibi sudah tamat, sama seperti mereka berkali-kali menganggap saya sudah tamat. Saya tidak akan meremehkan Bibi,” kata Trump.

Penolakan Trump mencerminkan hubungan yang masih renggang dengan Netanyahu. Selama beberapa bulan terakhir, keduanya berselisih soal perang di Iran serta serangan militer Israel ke Gaza dan Lebanon. Trump ingin Israel menghentikan serangan ke Gaza dan Lebanon karena dianggap menghambat upaya perdamaian di Timur Tengah, namun Netanyahu tidak mengindahkan permintaan tersebut.

Di sisi lain, partai-partai oposisi meningkatkan koordinasi untuk mengganti pemerintahan Netanyahu melalui pemungutan suara. Dengan selisih kursi yang tipis dan sejumlah perkara masih bergulir, dinamika menjelang 27 Oktober akan menentukan arah politik Israel. Yang perlu dicermati adalah apakah isu keamanan akan terus mendominasi kampanye dan bagaimana putusan Mahkamah Agung soal diskualifikasi partai Palestina memengaruhi peta kursi.

Exit mobile version