Empat Anggota OPM Puncak Jaya Serahkan Senjata ke TNI, Ikrar Setia ke NKRI

Cakrawala News – 29 September 2026 | Empat anggota OPM Puncak Jaya serahkan senjata ke TNI dalam prosesi Upacara Reintegrasi Nasional yang berlangsung khidmat di halaman Makodim 1714/Puncak Jaya, Papua Tengah, Sabtu, 26 September 2026. Keempat orang tersebut secara resmi mengikrarkan janji setia untuk kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus menyerahkan empat pucuk senjata api yang selama ini mereka kuasai.

Penyerahan senjata itu diterima langsung oleh Panglima Komando Operasi (Pangkoops) TNI Habema, Brigjen TNI Riyanto, S.I.P., M.M., M.T. Prosesi tersebut menjadi bagian dari upaya reintegrasi dan komitmen para mantan anggota kelompok bersenjata untuk meninggalkan jalur kekerasan dan kembali hidup damai bersama keluarga serta masyarakat.

Identitas Keempat Anggota dan Asal Kelompok

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, keempat mantan anggota OPM tersebut adalah Bongkar Tabuni dan Lipar Tabuni dari OPM Kodap X/Tolikara. Sementara dua lainnya, Bejo Tabuni dan Kopitua Tabuni, berasal dari OPM Kodap XXVIII/Yambi.

Dalam upacara tersebut, mereka secara tegas membacakan ikrar penyerahan diri, mencium Bendera Merah Putih, dan menyerahkan persenjataan yang selama ini mereka kuasai. Langkah ini menandai berakhirnya keterlibatan mereka dalam aksi bersenjata di wilayah Puncak Jaya dan sekitarnya.

Adapun senjata yang diserahkan terdiri dari satu pucuk senapan AR-15 kaliber 5,56 milimeter, satu pistol revolver kaliber 9 milimeter, satu pistol Trailside Sig Arms kaliber 22 LR, serta satu pistol Combat kaliber 9 milimeter. Petugas selanjutnya mengamankan dan menangani seluruh senjata tersebut sesuai ketentuan yang berlaku.

Peran Pendekatan Teritorial Yonif 721/Makkasau

Keberhasilan prosesi ikrar dan penyerahan senjata ini tidak terlepas dari pendekatan teritorial yang humanis dan penuh kekeluargaan yang dilakukan oleh prajurit Batalyon Infanteri (Yonif) 721/Makkasau. Melalui komunikasi intensif yang dibangun secara terus-menerus, keempat anggota kelompok tersebut akhirnya bersedia menyerahkan senjata api dan memilih kembali hidup damai.

Pendekatan semacam ini menempatkan komunikasi dan pendekatan sosial sebagai instrumen utama, bukan sekadar operasi penindakan. Prajurit TNI berupaya membangun kedekatan dengan masyarakat dan tokoh setempat sehingga terbuka ruang dialog yang memungkinkan terjadinya reintegrasi secara damai.

Pangkoops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengapresiasi keputusan keempat anggota tersebut. Menurutnya, keputusan meninggalkan jalur kekerasan merupakan langkah penting bagi terciptanya stabilitas keamanan dan masa depan Papua yang lebih damai.

“Keberanian bukan hanya ketika seseorang mampu mengangkat senjata. Tetapi juga ketika berani meletakkannya dan memilih kehidupan yang lebih baik. Hari ini bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah. Hari ini adalah tentang memilih masa depan,” ujar Brigjen TNI Riyanto.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa proses reintegrasi ini tidak dipandang sebagai kemenangan salah satu pihak, melainkan sebagai upaya bersama untuk membuka jalan perdamaian di tanah Papua.

Respons Kapuspen TNI dan Ajakan kepada Kelompok Lain

Secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Muhammad Nas menyambut baik keputusan tersebut. Ia mengajak anggota kelompok bersenjata yang masih memilih jalan kekerasan untuk mengambil langkah serupa, yakni kembali kepada keluarga dan masyarakat.

Ajakan ini menjadi sinyal bahwa pintu reintegrasi tetap terbuka bagi mereka yang bersedia meninggalkan aksi bersenjata. Pendekatan yang mengedepankan dialog dan kesejahteraan diharapkan dapat mengurangi ketegangan serta menciptakan kondisi yang lebih kondusif di wilayah Papua Tengah.

Peristiwa empat anggota OPM Puncak Jaya serahkan senjata ke TNI ini juga menjadi bagian dari rangkaian perkembangan keamanan di Papua yang terus dipantau oleh pemerintah dan aparat keamanan.

Konteks Operasi Keamanan di Papua

Perkembangan reintegrasi ini berlangsung di tengah rangkaian operasi keamanan yang masih dilakukan TNI di sejumlah wilayah Papua. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto sebelumnya menyebut operasi penindakan terhadap kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Papua terus menunjukkan perkembangan.

Dalam operasi tersebut, TNI berhasil merebut delapan pucuk senjata yang sebelumnya dikuasai kelompok OPM. Salah satu senjata yang berhasil direbut merupakan jenis SS1 V1 yang sebelumnya dikuasai OPM setelah direbut dari satuan TNI.

“Tadi laporan dari Pangkogabwilhan sudah mendapatkan delapan pucuk senjata, ada jenis SS1 V1 yang direbut oleh OPM dari satuan TNI, delapan pucuk,” kata Agus saat ditemui di Jakarta, Minggu, 27 September 2026.

Meski demikian, Agus belum merinci identitas pihak yang telah diidentifikasi maupun lokasi pengamanan delapan pucuk senjata tersebut. Informasi mengenai penyitaan senjata itu disampaikan berdasarkan laporan Pangkogabwilhan kepada Panglima TNI.

Sebelumnya, Komando Operasi (Koops) TNI Habema melaporkan empat anggota OPM tewas dalam kontak senjata dengan personel TNI di Kampung Balamai Atas, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, Jumat, 25 September 2026. Panglima Koops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengatakan kelompok bersenjata tersebut diduga merupakan OPM Kodap VIII/Intan Jaya yang dipimpin Daniel Aibon Kogoya.

Dalam operasi tersebut, personel TNI juga menyita sejumlah barang dari lokasi kontak senjata, antara lain satu pucuk SS2 V1, satu senjata api laras panjang yang dilengkapi alat bidik Trijicon, serta 50 butir amunisi kaliber 5,56 milimeter. Selain itu, TNI menyita satu magazen SS2 V1, alat komunikasi, telepon seluler, serta sejumlah perlengkapan lapangan lainnya.

Makna dan Langkah Berikutnya

Penyerahan senjata oleh empat anggota OPM Puncak Jaya ke TNI menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan teritorial yang humanis dapat membuahkan hasil nyata. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa dialog dan pendekatan kekeluargaan memiliki peran penting dalam mendorong terciptanya perdamaian di wilayah yang selama ini rawan konflik.

Ke depan, keberlanjutan proses reintegrasi menjadi hal yang perlu diperhatikan. Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan tidak hanya berhenti pada penyerahan senjata, tetapi juga memastikan pembinaan, pendampingan, serta pemenuhan hak-hak dasar para mantan anggota kelompok bersenjata yang kembali ke masyarakat.

Dengan begitu, langkah empat anggota OPM Puncak Jaya serahkan senjata ke TNI dapat menjadi preseden positif bagi upaya perdamaian yang lebih luas di Papua, sekaligus memperkuat harapan akan masa depan yang lebih aman dan sejahtera bagi seluruh warga.

Exit mobile version