Cakrawala News – 29 September 2026 | Periode kedua Roberto Mancini tak berjalan mulus, Italia dibantai Belgia 0-2 di Nations League dalam laga pembuka Grup A1 yang digelar di Stadio Olimpico, Roma, Sabtu (26/9/2026) dini hari WIB. Kekalahan ini menjadi awal yang pahit bagi Mancini yang baru kembali dipercaya menangani Gli Azzurri, menggantikan Gennaro Gattuso, setelah meninggalkan kursi pelatih tiga tahun lalu.
Dua gol Belgia lahir dari skema serangan balik yang mengeksploitasi celah di lini pertahanan Italia. Mika Godts membuka keunggulan pada menit ke-20, sementara Dodi Lukebakio menggandakan skor pada menit ke-69. Hasil tersebut membuat suasana Stadio Olimpico memanas, dengan para suporter melayangkan sorakan sebagai bentuk kekecewaan terhadap performa tim.
Gol Godts dan Lukebakio Jadi Sorotan
Gol pertama Belgia berawal dari umpan Kevin De Bruyne kepada Godts di sisi kiri. Pemain yang baru bergabung dengan Paris Saint-Germain itu bergerak ke tengah, melewati tiga pemain Italia, sebelum melepaskan tembakan yang tidak mampu dihentikan Gianluigi Donnarumma. Dalam prosesnya, Gianluca Mancini dibuat kehilangan keseimbangan, sementara Diego Coppola terlambat melakukan tekel.
Gol tersebut menjadi gol internasional pertama bagi Godts. Sementara itu, De Bruyne mencatat penampilan ke-125 bersama tim nasional Belgia dalam laga ini.
Pada babak kedua, Lukebakio mencetak gol dari luar kotak penalti setelah Sandro Tonali berusaha mengejar dan menghentikannya. Dua gol Belgia sama-sama lahir dari serangan balik yang berhasil memanfaatkan ruang kosong di pertahanan Italia.
Bek Italia, Riccardo Calafiori, mengakui timnya masih memiliki banyak kekurangan. Ia menyebut para pemain meninggalkan celah dan kebobolan dua gol yang sebenarnya bisa dihindari. Menurutnya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Mancini Minta Fans Bersabar
Mancini memahami reaksi negatif suporter setelah timnya gagal memberikan hasil positif. Ia menilai sorakan tersebut sebagai bagian dari sepak bola dan tidak mempermasalahkannya. Pelatih berusia 61 tahun itu juga menyebut masih ada beberapa hal positif yang dapat diambil dari pertandingan tersebut.
Meski kecewa, Mancini menegaskan timnya membutuhkan waktu untuk membangun skuad yang kompetitif. Ia mengakui penampilan Italia masih berada di bawah ekspektasi dan berharap tim segera menunjukkan perkembangan saat menghadapi Turki di Ataturk Stadium.
Dengan jadwal UEFA Nations League yang padat, Mancini menyadari waktu persiapan sangat terbatas. Karena itu, ia meminta kesabaran sembari membangun kembali tim. Ia juga tidak ingin melakukan perubahan drastis hanya dalam waktu singkat sebelum pertandingan berikutnya.
Saya berharap tim dapat menampilkan performa yang baik saat melawan Turki, serta meningkatkan intensitas pressing dan agresivitas.
Data xG dan Penyelamatan Kiper
Berdasarkan catatan expected goals (xG), Italia hanya menghasilkan 1,5 sepanjang pertandingan dan 0,3 pada babak pertama. Sebaliknya, Belgia mencatat xG 2,7, termasuk 2,5 sebelum turun minum.
Gianluigi Donnarumma tetap tampil sibuk dengan enam penyelamatan. Di sisi lain, kiper Belgia Senne Lammens juga membuat enam penyelamatan.
Hasil ini membuat Italia dua kali gagal mencetak gol dan kebobolan dua kali di kandang dalam 40 tahun terakhir. Catatan tersebut menambah tekanan pada periode kedua Mancini yang baru dimulai.
Dalam laga melawan Belgia, susunan pemain Italia diisi delapan pemain yang sebelumnya menjadi bagian reguler selama perjalanan kualifikasi Piala Dunia 2026. Namun, komposisi itu belum mampu mencegah Italia tumbang di kandang sendiri.
Kekalahan ini memperpanjang periode sulit Azzurri setelah enam bulan lalu gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun. Di sisi lain, pelatih anyar Belgia, Mark van Bommel, mencatatkan debut positifnya.
Konteks dan Jadwal Berikutnya
Pada periode pertamanya, Mancini memimpin Italia sejak 2018 hingga 2023 dengan catatan 38 kemenangan dari 58 pertandingan, 12 hasil imbang, dan delapan kekalahan. Pencapaian terbesarnya adalah mengantarkan Italia menjuarai Piala Eropa lima tahun lalu melalui kemenangan adu penalti atas Inggris di partai final. Italia juga pernah mencatat 37 pertandingan tanpa kekalahan di bawah Mancini, sebuah rekor Eropa sebelum akhirnya dilampaui Spanyol.
Kini tantangan lebih berat menanti karena Italia tergabung di Grup A1 bersama Belgia, Prancis, dan Turki. Mancini menyadari persiapan singkat membuat laga pembuka tidak mudah, tetapi kemenangan dinilai penting untuk membangun kembali kepercayaan diri tim.
Selanjutnya, Italia akan bertandang ke Turki pada Selasa (29/9). Setelah itu, Azzurri dijadwalkan menghadapi Prancis pada 3 Oktober untuk melanjutkan perjalanan di Grup A1 Nations League.
Dua laga tersebut akan menjadi ujian cepat bagi Mancini untuk memperbaiki organisasi pertahanan dan meningkatkan agresivitas tim. Publik Italia tentu berharap periode kedua pelatih yang membawa mereka juara Eropa itu tidak berakhir seperti awal yang pahit di Stadio Olimpico.
