Cakrawala News – 22 September 2026 | Viral di Medsos, ini kata polisi soal motif istri bunuh suami berprofesi ASN Inspektorat OKI [titlebase] menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan warganet. Namun, informasi yang beredar di media sosial itu berbeda dengan peristiwa yang sebenarnya terjadi di Papua. Peristiwa yang tengah menjadi sorotan adalah evakuasi Sinta Bilolo, istri sopir travel bernama Aris Sanda, yang tewas ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Jalur Trans Wamena, Papua Pegunungan.
Evakuasi terhadap Sinta dilakukan oleh Koops TNI Habema melalui jalur udara pada Kamis, 17 September 2026. Langkah ini diambil karena akses darat dari Distrik Mbua menuju Wamena belum memungkinkan untuk dilalui. Sinta diterbangkan bersama dua pendampingnya, Haryati dan Murni, menggunakan Helikopter Bell dan Helikopter Fennec menuju Kenyam, Kabupaten Nduga.
Evakuasi Dua Tahap Menuju Wamena
Perjalanan Sinta tidak berhenti di Kenyam. Setelah tiba di sana, ia bersama dua pendampingnya melanjutkan perjalanan menuju Wamena menggunakan pesawat Caravan. Panglima Koops TNI Habema, Brigadir Jenderal TNI Riyanto, memastikan seluruh rangkaian evakuasi berlangsung aman dan lancar.
Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letnan Kolonel Inf. M. Wirya Arthadiguna, menjelaskan bahwa evakuasi udara dipilih untuk memastikan Sinta dapat melakukan perjalanan dengan aman di tengah kondisi akses darat yang belum memungkinkan. Dalam video yang merekam proses evakuasi tersebut, Sinta tampak menangis dan beberapa kali berteriak karena terpukul mengetahui peristiwa yang menimpa suaminya.
“Ibu Sinta sedang dalam suasana duka dan membutuhkan perjalanan yang aman. Ketika akses darat belum memungkinkan, saya perintahkan jajaran memberikan bantuan evakuasi udara agar beliau bersama pendamping dapat sampai ke Wamena dengan selamat,” ujar Riyanto.
Riyanto menegaskan bahwa kondisi geografis Papua dan keterbatasan akses tidak boleh menjadi penghalang dalam upaya memberikan pertolongan kepada masyarakat yang membutuhkan. Menurutnya, kehadiran negara harus dapat dirasakan saat masyarakat berada dalam kondisi paling sulit.
Kronologi Penembakan Aris Sanda
Aris Sanda, sopir travel asal Toraja, Sulawesi Selatan, tewas dalam peristiwa penembakan yang terjadi pada Selasa, 15 September 2026, sekitar pukul 06.00 Wita. Saat itu, pria yang akrab disapa Tasya tersebut tengah mengangkut sejumlah penumpang yang merupakan warga Papua.
Kendaraan yang dikemudikannya dihentikan oleh KKB ketika melintasi jalur Trans Wamena menuju Nduga. Momen tersebut sempat direkam menggunakan kamera amatir. Dalam rekaman itu, Aris terlihat bersedia membacakan tuntutan KKB agar Papua lepas dari Indonesia. Namun, ia tetap ditembak oleh kelompok tersebut.
Setelah kejadian itu, para penumpang diperintahkan kembali menuju Wamena, sementara Aris Sanda dibawa menuju arah kawasan Danau Habema. Koops TNI Habema kemudian menemukan jenazah Aris di dalam mobil yang sudah terbakar.
“Tim kemudian menemukan satu unit kendaraan dalam kondisi terbakar beserta jenazah pengemudinya,” ungkap Wirya Arthadiguna saat dikonfirmasi pada Rabu, 16 September 2026.
Penembakan ini disebut dilakukan oleh KKB atau OPM Kodap II Ndugama. Koops TNI Habema masih menyelidiki peristiwa tersebut dan mengejar para pelaku. Pihak TNI juga mengecam kekerasan yang menimpa Aris, yang saat itu sedang bekerja mengangkut penumpang dan logistik.
Respons dan Penegasan Negara
Peristiwa yang menimpa Aris Sanda dan evakuasi istrinya mendapat perhatian luas, termasuk di media sosial. Narasi yang berkembang di dunia maya sempat melenceng dari fakta, sehingga informasi yang beredar perlu diluruskan. Koops TNI Habema menegaskan bahwa bantuan evakuasi diberikan atas pertimbangan kemanusiaan dan keselamatan keluarga yang sedang membutuhkan dukungan perjalanan.
“Kehadiran negara harus dapat dirasakan pada saat masyarakat paling membutuhkan, hadir memberikan rasa aman, membantu perjalanan, dan memastikan mereka tidak menghadapi masa-masa sulit seorang diri,” kata Riyanto.
Hingga saat ini, proses penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku dan motif di balik penembakan Aris Sanda. Evakuasi Sinta ke Wamena menjadi langkah awal agar keluarga korban dapat memperoleh pendampingan dan rasa aman di tengah situasi yang penuh tekanan.
Kasus ini kembali menyoroti persoalan keamanan di jalur Trans Wamena serta pentingnya penegakan hukum terhadap kekerasan yang menimpa warga sipil. Publik diharapkan menunggu perkembangan resmi dari pihak berwenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi di media sosial.
