Cakrawala News – 07 November 2026 | Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Jumat (6/11) pagi, Gunung Semeru Alami Enam Kali Erupsi Jumat Pagi, Kolom Abu Capai 700 Meter, dengan tinggi kolom abu yang teramati berkisar antara 400 hingga 700 meter di atas puncak.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 00.35 WIB. Setelah jeda beberapa jam, rangkaian letusan berlanjut pada pukul 02.42 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 600 meter di atas puncak, lalu disusul pada pukul 02.51 WIB dengan kolom abu setinggi 500 meter.
Aktivitas kembali meningkat pada pukul 04.42 WIB ketika kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak, menjadikannya yang tertinggi pada rangkaian erupsi pagi itu. Semeru kemudian kembali memuntahkan abu pada pukul 05.35 WIB dengan tinggi kolom 600 meter, dan terakhir pada pukul 08.37 WIB dengan kolom abu sekitar 400 meter.
Petugas Pengamat Gunung Api (PGA) Semeru, Agastya Rajendra, dalam laporan resminya menyebutkan bahwa kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang condong mengarah ke arah barat daya. Laporan tersebut disampaikan kepada media pada Jumat (6/11).
Status Siaga dan Zona yang Harus Dikosongkan
Hingga laporan terakhir, aktivitas vulkanik Semeru berada pada Status Level III atau Siaga. Status ini membawa sejumlah rekomendasi pembatasan aktivitas bagi masyarakat di sekitar lereng gunung.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak. Di luar jarak tersebut, aktivitas juga tidak diperbolehkan dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Pembatasan itu diberlakukan karena kawasan tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak. Warga yang beraktivitas di sekitar aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan di kawasan hulu.
Rangkaian Erupsi dalam Sepekan Terakhir
Erupsi pada Jumat pagi merupakan bagian dari rangkaian aktivitas Semeru yang cukup intensif dalam sepekan terakhir. Sehari sebelumnya, Kamis (5/11), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu juga dilaporkan mengalami enam kali erupsi.
Muntahan abu vulkanik tebal dan awan panas guguran pada Kamis (5/11) sempat memicu kepanikan warga serta para pekerja tambang pasir di lereng gunung. Berdasarkan rekaman video amatir warga, sejumlah pekerja dan sopir truk tampak berlarian serta memutar balik kendaraan saat kolom abu vulkanik terlihat membumbung tinggi.
Ketua Tim Pusdalops BPBD Jawa Timur, Muhammad Amrul, menyampaikan bahwa hingga pukul 12.00 WIB pada Kamis (5/11) teramati tiga kali awan panas guguran dengan jarak luncur 3000 hingga 4500 meter dari puncak, mengarah ke tenggara. Jalur luncuran awan panas tersebut berada di sektor tenggara Besuk Kobokan.
Aktivitas serupa juga terekam pada awal pekan. Pada Senin (3/8/2026) pagi, Semeru tercatat meletus lima kali beruntun sejak dini hari, dengan kolom abu mencapai 700 meter di atas puncak. Rangkaian erupsi kala itu berlangsung dari pukul 00.18 WIB hingga 07.56 WIB, dengan sebaran abu ke utara, barat daya, dan tenggara.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, Liswanto, menyebut letusan pada pukul 07.56 WIB menjadi yang terbesar pada pagi hari itu. Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 120 detik.
Erupsi Berlanjut pada Sabtu Dini Hari
Setelah rangkaian erupsi Jumat pagi, aktivitas Semeru berlanjut pada Sabtu (7/11) dini hari. Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi, erupsi terjadi pada pukul 01.23 WIB dengan kolom abu vulkanik teramati mencapai sekitar 200 meter di atas puncak.
Ketinggian kolom abu tersebut berada di kisaran 3.876 meter di atas permukaan laut. Petugas pos pengamatan gunung api mencatat kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas cukup tebal, bergerak ke arah barat daya mengikuti arah angin.
Aktivitas erupsi itu juga terekam melalui peralatan seismograf di pos pengamatan setempat. Berdasarkan rekaman tersebut, erupsi memiliki amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi letusan selama 147 detik.
Sebagai perbandingan, pada erupsi 30 Juli 2026 pukul 06.31 WIB, kolom abu teramati setinggi sekitar 700 meter di atas puncak dengan warna putih hingga kelabu yang condong ke arah timur laut. Dalam enam jam pengamatan saat itu, tercatat 24 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 11 hingga 22 mm dan durasi 94 hingga 174 detik.
Selain gempa letusan, tercatat pula tiga kali gempa guguran dengan amplitudo 3 hingga 6 mm dan lama gempa 30 hingga 94 detik, serta dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3 hingga 13 mm. Data seismik semacam ini menjadi dasar bagi petugas dalam memantau perkembangan aktivitas gunung.
Imbauan bagi Warga
Dengan status Siaga Level III yang masih berlaku, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari Badan Geologi dan pos pengamatan gunung api. Warga juga diminta tidak mendekati kawasan rawan bencana, terutama di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Bagi pekerja tambang pasir dan warga yang beraktivitas di lereng, kewaspadaan terhadap kemungkinan awan panas guguran menjadi hal penting. Erupsi susulan dapat terjadi kapan saja, sehingga kesiapsiagaan dan kepatuhan terhadap zona aman menjadi kunci keselamatan.
Rangkaian erupsi yang terjadi berulang dalam beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Semeru masih dinamis. Masyarakat perlu memperhatikan perkembangan terkini, sementara petugas terus melakukan pemantauan intensif untuk memastikan keselamatan warga di sekitar gunung.












