Cakrawala News – 06 November 2026 | Harga bitcoin kembali tertekan tajam pada perdagangan Jumat (6/11/2026) pagi. Berdasarkan data CoinMarketCap pukul 07.45 WIB, bitcoin ambrol 5,35% ke level US$ 76.278,67 per koin, atau sekitar Rp 1,38 miliar dengan asumsi kurs Rp 18.103 per dolar AS. Penurunan ini terjadi setelah aksi jual besar-besaran saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di Wall Street memicu turunnya minat investor terhadap aset berisiko.
Tekanan tidak hanya dirasakan bitcoin. Kapitalisasi pasar kripto global ambles 5,23% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 2,55 triliun. Indeks CoinDesk 20 yang mencerminkan kinerja 20 aset kripto terbesar jeblok 5,8%. Ethereum (ETH) ambrol 7,54% ke US$ 2.244, sedangkan Binance Coin (BNB) turun 3,52% menjadi US$ 694.
Wall Street Cetak Sesi Terburuk
Mengutip CoinTelegraph, tekanan terhadap bitcoin terjadi bersamaan dengan aksi jual tajam saham teknologi dan AI di bursa Amerika Serikat. Reli pasar setelah pemilu paruh waktu AS dengan cepat berbalik arah setelah investor kembali mengkhawatirkan prospek belanja infrastruktur AI.
Pasar saham AS mengalami salah satu sesi perdagangan terburuk sejak pengumuman tarif Presiden AS Donald Trump pada April 2025. Indeks Nasdaq anjlok 5,5%, S&P 500 merosot 4,3%, sedangkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 3,4%.
Tekanan paling besar terjadi pada saham teknologi. Nasdaq 100 yang memiliki konsentrasi saham teknologi lebih tinggi daripada Nasdaq secara keseluruhan jatuh 6,4%. Indeks semikonduktor Philadelphia Semiconductor Index (SOX) bahkan terjun 12%, menjadi penurunan terburuk sejak Maret 2020.
Investor mencermati potensi melambatnya pembangunan pusat data yang menopang industri AI. Kekhawatiran tersebut meningkat setelah hasil pemilu paruh waktu AS memberikan kendali atas kedua kamar Kongres kepada Partai Demokrat, sehingga muncul kekhawatiran bahwa oposisi politik dapat menghambat ekspansi pusat data. Kondisi itu turut memengaruhi perusahaan penambang bitcoin yang semakin bergantung pada bisnis infrastruktur pusat data.
Kepala Bersama Pasar Global FalconX Joshua Lim mengatakan, tekanan jual kembali muncul seiring meningkatnya perhatian investor terhadap dampak perlambatan pembangunan pusat data.
Berbalik dari Reli Sehari Sebelumnya
Penurunan ini berbanding terbalik dengan kondisi sehari sebelumnya. Pada Kamis (5/11/2026), bitcoin sempat kembali menembus level US$ 80.000 setelah mengalami tekanan pada akhir Oktober 2026. Berdasarkan data CoinMarketCap saat itu, aset kripto terbesar tersebut diperdagangkan di kisaran US$ 80.500 hingga US$ 80.700, atau menguat lebih dari enam persen dalam 24 jam.
Chief Marketing Officer Indodax Aloysia Dian menilai kenaikan harga bitcoin saat itu menunjukkan mulai membaiknya minat pelaku pasar setelah melewati periode ketidakpastian. “Penguatan ini menjadi perkembangan positif karena menunjukkan pasar mulai merespons kejelasan situasi global. Kami melihat adanya momentum pemulihan, tetapi kenaikan dalam satu atau dua hari belum cukup untuk memastikan arah pasar dalam jangka panjang. Investor tetap perlu memperhatikan likuiditas dan perkembangan data ekonomi,” jelas Aloysia dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2026).
Menurutnya, pergerakan bitcoin kala itu berlangsung ketika pelaku pasar mencermati hasil pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat. Perubahan komposisi politik setelah kemenangan Partai Demokrat AS menjadi salah satu perhatian investor dalam menilai arah kebijakan ekonomi dan regulasi ke depan, termasuk kebijakan pengendalian inflasi dan suku bunga.
Selain itu, pelaku pasar memantau kelanjutan pembahasan regulasi aset kripto di AS, termasuk CLARITY Act serta usulan mengenai pembagian kewenangan pengawasan Securities and Exchange Commission (SEC) dan penguatan perlindungan investor. Pembahasan regulasi tersebut masih berlangsung sehingga bentuk akhir aturan dan dampaknya terhadap industri kripto belum dapat dipastikan.
Agenda ekonomi AS berikutnya yang menjadi perhatian adalah laporan ketenagakerjaan. Data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), yang turut menentukan minat investor terhadap aset berisiko.
Partisipasi Investor Kripto Indonesia Meningkat
Di dalam negeri, partisipasi masyarakat dalam ekosistem aset kripto terus menunjukkan perkembangan. Berdasarkan data terbaru Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor kripto mencapai sekitar 23,48 juta pada September 2026, tumbuh sekitar 1,16%. Sementara itu, nilai transaksi kripto pada September 2026 tercatat sebesar Rp 30,56 triliun, meningkat sekitar 31,95% dibandingkan bulan sebelumnya.
OJK juga mendorong pengembangan aset keuangan digital dan aset kripto syariah agar memberikan manfaat ekonomi serta meningkatkan kepercayaan masyarakat. Upaya tersebut perlu didukung transparansi transaksi, tata kelola, pengawasan, peningkatan literasi, dan perlindungan konsumen.
Aloysia menilai pertumbuhan aktivitas pasar perlu diimbangi peningkatan pemahaman masyarakat agar investor dapat menyikapi pergerakan harga secara rasional. “Pertumbuhan partisipasi masyarakat perlu diikuti pemahaman yang semakin baik. Momentum pemulihan sebaiknya menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi, bukan alasan mengambil keputusan karena takut tertinggal (FOMO). Investor perlu melakukan riset mandiri, memahami aset yang dipilih, dan mengatur alokasi sesuai kemampuan menanggung risiko,” tambahnya.
Investor diingatkan untuk tetap menerapkan strategi investasi yang terukur, salah satunya melalui pembelian berkala atau investasi rutin dengan alokasi dana sesuai kondisi finansial dan kemampuan menanggung risiko. Investor juga disarankan menggunakan dana di luar kebutuhan pokok dan dana darurat, serta melakukan riset mandiri atau Do Your Own Research (DYOR) sebelum mengambil keputusan investasi.
Ke depan, arah harga bitcoin masih akan bergantung pada perkembangan data ekonomi AS, terutama laporan ketenagakerjaan yang memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika politik dan regulasi kripto di Negeri Paman Sam. Volatilitas tinggi diperkirakan masih mewarnai pergerakan aset kripto dalam jangka pendek.
