Cakrawala News – 31 Oktober 2026 | Asing kembali masuk bursa saham RI, cermati saham net buy terbesar, Rabu (28/10), ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,31% ke level 5.282. Pada perdagangan hari itu, investor asing membukukan beli bersih (net buy) sebesar Rp665,22 miliar di pasar saham Indonesia, meski tekanan jual kemudian kembali menerpa indeks pada hari-hari berikutnya.
Berdasarkan data statistik harian Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 16,18 poin dari penutupan sebelumnya di level 5.266. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak pada rentang 5.167,34 hingga 5.282,31 dan ditutup di level tertinggi hari itu. Data BEI menunjukkan nilai pembelian investor asing sekitar Rp6,67 triliun, sedangkan nilai penjualannya mencapai Rp6,01 triliun.
Sejumlah saham menjadi penopang utama indeks sekaligus incaran asing. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penopang terbesar IHSG dengan kontribusi kenaikan 34,15 poin indeks setelah harganya naik 7,65% ke level Rp5.675. Saham PT Astra International Tbk (ASII) menyusul dengan kontribusi 15 poin indeks setelah menguat 7,99%.
Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) juga masuk jajaran penopang indeks dengan kontribusi 5,33 poin setelah harganya naik 3,72%. Sementara itu, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menyumbang 2,94 poin dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) sebesar 1,35 poin.
BBCA Pimpin Belanja Asing, Bank Besar Lain Dilepas
Data Foreign Activity MNC Sekuritas pada sesi I Rabu (28/10) memperlihatkan arah transaksi asing yang tidak merata. Pada sesi tersebut, asing masih mencatat jual bersih Rp172,09 miliar, berasal dari nilai pembelian Rp2,66 triliun berhadapan dengan penjualan Rp2,83 triliun.
Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memimpin daftar net foreign sell dengan nilai Rp168,81 miliar dan volume jual bersih 44,49 juta saham. Tekanan jual juga menyasar saham perbankan pelat merah lainnya, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp83,38 miliar dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp56,22 miliar, serta saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp116,25 miliar.
Di tengah tekanan itu, BBCA justru menjadi incaran utama asing dengan pembelian bersih Rp491,16 miliar dan volume bersih 97,40 juta saham. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan net foreign buy Rp28,67 miliar, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA) Rp24,19 miliar dan AMMN Rp22,90 miliar.
Investor asing juga membukukan pembelian bersih pada saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sebesar Rp18,16 miliar dan PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp12,28 miliar. Selain itu, sejumlah saham pertambangan dan energi masuk daftar belanja asing, antara lain PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp9,11 miliar, MDKA Rp5,73 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp3,25 miliar.
Tekanan Jual Domestik dan Pemberat Indeks
Kendati IHSG menguat, sejumlah saham masih menahan laju indeks. Saham TLKM menjadi pemberat terbesar dengan kontribusi negatif 6,45 poin setelah turun 3,27%. Tekanan juga datang dari PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mengurangi 5,25 poin indeks setelah harganya melemah 6,79%, disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan kontribusi negatif 3,81 poin dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 3,50 poin.
Di sisi lain, investor domestik mencatatkan nilai pembelian sekitar Rp9,21 triliun dan penjualan Rp9,87 triliun. Angka tersebut menunjukkan tekanan jual bersih domestik yang besarnya relatif seimbang dengan pembelian bersih investor asing. Secara proporsi nilai transaksi, investor domestik menyumbang sekitar 60% aktivitas perdagangan hari itu, sedangkan investor asing berkontribusi sekitar 40%.
Meski asing kembali masuk bursa saham RI, cermati saham net buy terbesar, Rabu (28/10), pembelian bersih asing dalam satu hari perdagangan belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren investasi. Sehari sebelumnya, Selasa (27/10), IHSG justru anjlok 106,96 poin atau 1,99% ke level 5.266,1, meski asing masih mencatat net buy pada sejumlah saham seperti PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) Rp60,6 miliar, MDKA Rp35,1 miliar, dan ASII Rp34,3 miliar.
Setelah itu, IHSG kembali jatuh pada akhir perdagangan Kamis (29/10) ke level 5.098,06, turun 184,26 poin atau 3,49%. Pada perdagangan tersebut, volume transaksi mencapai 217,69 juta lot dengan nilai Rp10,13 triliun. Investor asing mencatat penjualan bersih Rp1,08 triliun di seluruh pasar dan Rp1,52 triliun di pasar reguler, dengan pembelian bersih Rp406,50 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Arus Keluar Asing dan Wacana Pasar Mandiri
Fluktuasi transaksi asing terjadi di tengah tekanan keluar dana yang lebih besar. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp94 triliun di pasar saham Indonesia sejak awal 2026. Arus keluar dana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan investor domestik menopang pasar modal sekaligus wacana membuat bursa Indonesia mandiri tanpa bergantung pada investor asing.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, menilai penguatan peran investor domestik penting untuk menjaga ketahanan pasar modal. Namun, menurut dia, menghilangkan ketergantungan terhadap investor asing sepenuhnya bukan langkah yang realistis. Indonesia perlu membedakan antara kemandirian pembiayaan domestik dan kebutuhan terhadap likuiditas global.
Nafan menyatakan investor ritel, institusi keuangan, dana pensiun, perusahaan asuransi, hingga pengelola reksa dana domestik masih memiliki ruang untuk dioptimalkan guna memperkuat pasar saham nasional. Meski demikian, investor asing tetap berperan dalam memperluas basis investor, meningkatkan likuiditas, memperdalam pasar, serta mendukung pembentukan harga saham.
“Karena itu, sasaran yang lebih relevan bukan menghilangkan ketergantungan terhadap asing, melainkan membangun pasar modal yang memiliki basis investor domestik kuat sehingga mampu menyerap tekanan jual asing tanpa menimbulkan volatilitas yang berlebihan,” ujar Nafan kepada Katadata, Jumat (30/10).
Ia menilai arus keluar dana asing tidak serta-merta menunjukkan pasar saham Indonesia tidak menarik. Kondisi itu juga mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor global terhadap pasar domestik, antara lain terkait transparansi kepemilikan saham, rendahnya porsi saham beredar di publik (free float), likuiditas, serta tata kelola pasar.
Perhatian terhadap aspek tersebut menguat setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan pada Jumat (16/10/2026) bahwa mereka mempertimbangkan kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Wacana itu berkaitan dengan persoalan transparansi dan struktur kepemilikan saham.
Selain itu, Nafan menilai daya tarik pasar saham Indonesia juga dipengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, kredibilitas kebijakan ekonomi, pertumbuhan laba emiten, serta valuasi dan potensi imbal hasil dibandingkan pasar negara lain. Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata fundamental ekonomi Indonesia tidak menarik, melainkan bagaimana risiko investasi dan kepercayaan terhadap integritas pasar dinilai oleh investor global.
Dengan demikian, asing kembali masuk bursa saham RI, cermati saham net buy terbesar, Rabu (28/10), menjadi sinyal bahwa minat investor global belum sepenuhnya hilang. Namun, pembelian bersih sehari belum menjadi bukti pemulihan tren. Ke depan, pasar akan mencermati konsistensi arus masuk asing, perkembangan wacana reklasifikasi MSCI, serta kemampuan investor domestik menyerap tekanan jual agar volatilitas IHSG tidak berlebihan.
