Daerah  

Hasil Lab: Makanan MBG dari SPPG Pakisrejo Terkontaminasi Bakteri

Hasil Lab: Makanan MBG dari SPPG Pakisrejo Terkontaminasi Bakteri
Hasil Lab: Makanan MBG dari SPPG Pakisrejo Terkontaminasi Bakteri

Cakrawala News – 09 September 2026 | Keracunan massal MBG dari SPPG Pakisrejo, hasil lab temukan kontaminasi bakteri menjadi temuan mengejutkan dalam investigasi yang dilakukan Tim Pengawas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Tulungagung. Hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan yang diamankan setelah insiden keracunan massal di Kecamatan Rejotangan pada akhir Juli lalu menunjukkan adanya kontaminasi bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Anggota Satgas MBG Tulungagung, Sri Wahyuni, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi adanya bakteri pada sejumlah sampel makanan yang diuji. “Secara umum memang ada temuan positif bakteri dari hasil uji laboratorium. Bakteri itu dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada penerima manfaat,” ujarnya pada Senin (7/9/2026).

Meski demikian, Sri tidak merinci jenis bakteri yang ditemukan. Ia menjelaskan bahwa penjelasan teknis mengenai jenis bakteri merupakan kewenangan tim medis dan laboratorium. Kontaminasi bakteri pada makanan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari proses pengolahan, distribusi, hingga penyajian.

Kronologi Keracunan Massal

Insiden keracunan massal ini menimpa sedikitnya 66 orang yang terdiri dari anak-anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui di Rejotangan, Tulungagung. Mereka mengalami gangguan pencernaan setelah mengonsumsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pakisrejo.

Buntut dari kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional SPPG Pakisrejo. Penghentian ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan serta rantai pasok makanan.

Evaluasi dan Pengawasan Diperketat

Satgas MBG bersama tim Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) telah melakukan evaluasi lanjutan terhadap operasional dapur SPPG Pakisrejo. Evaluasi bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko sekaligus memperkuat penerapan standar keamanan pangan dalam penyediaan makanan bagi penerima manfaat.

Hasil inspeksi tersebut nantinya menjadi dasar penyusunan rekomendasi perbaikan agar kualitas layanan MBG tetap terjaga dan kejadian serupa tidak kembali terjadi. Tim pengawas MBG Tulungagung juga memperketat pengawasan layanan pasca-temuan bakteri ini.

Selain di Tulungagung, kasus serupa juga terjadi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Operasional SPPG Wonokerto, Turi, Sleman, dihentikan sementara setelah puluhan siswa SD hingga SMK mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG. Badan Gizi Nasional Kabupaten Sleman bersama Dinas Kesehatan dan tim epidemiologi telah mengamankan sampel makanan untuk diuji di laboratorium.

Kejadian berulang ini menunjukkan pentingnya pengawasan ketat terhadap keamanan pangan dalam program MBG. Pemerintah pun terus berupaya memperbaiki standar, termasuk mewajibkan label Standar Nasional Indonesia (SNI) pada wadah makan atau ompreng yang digunakan dalam program MBG.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penerapan SNI wajib bertujuan memastikan produk yang digunakan masyarakat memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan. “Penerapan SNI wajib harus memberikan kepastian bahwa produk yang digunakan masyarakat memenuhi standar mutu dan keamanan yang telah ditetapkan,” ujarnya di Jakarta, Rabu (9/9).

Dengan adanya temuan bakteri pada makanan MBG, diharapkan seluruh pihak terkait dapat meningkatkan kewaspadaan dan memperketat standar keamanan pangan. Program MBG yang bertujuan memberikan asupan bergizi bagi masyarakat harus tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan penerima manfaat.

Exit mobile version