Kasus Keracunan Makanan MBG di Karo: Bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus Ditemukan, Siswi Alami Gangguan Ingatan

Kasus Keracunan Makanan MBG di Karo: Bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus Ditemukan, Siswi Alami Gangguan Ingatan
Kasus Keracunan Makanan MBG di Karo: Bakteri Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus Ditemukan, Siswi Alami Gangguan Ingatan

Cakrawala News – 10 September 2026 | Kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memasuki babak baru setelah hasil laboratorium menunjukkan makanan yang disajikan terkontaminasi bakteri. Temuan ini sekaligus menyoroti dampak serius yang dialami salah satu korban, seorang siswi berusia 16 tahun berinisial FP, yang dilaporkan mengalami gangguan ingatan hingga tidak mengenali guru dan teman-temannya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan UPTD Laboratorium Kesehatan Sumatera Utara tertanggal 16 Agustus 2026, sampel makanan yang diambil dari dua sekolah di Berastagi dan dapur penyedia MBG dinyatakan positif mengandung tiga jenis bakteri: Bacillus cereus, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli (E. coli). Bakteri Staphylococcus aureus juga ditemukan pada sampel muntahan salah satu korban.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Karo, Mardin Purba, mengonfirmasi temuan tersebut. “Hasil pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi melalui UPTD Laboratorium. Ini dilatarbelakangi dengan kejadian kasus tanggal 13 Agustus 2026. Pada saat itu kita langsung mengambil sampel makanan dari sisa makanan yang ada di sekolah dan juga dapur,” ujarnya di Medan, Senin (8/9/2026).

Dari hasil uji kimia yang diterima pada 14 Agustus 2026, seluruh sampel dinyatakan negatif untuk parameter boraks, formalin, arsen, sianida, dan nitrat. Namun, uji mikrobiologi yang keluar pada 16 Agustus 2026 mengungkap adanya bakteri pada sejumlah sampel. Rinciannya, bakteri Bacillus cereus ditemukan pada nasi, Staphylococcus aureus pada ikan dencis saus, serta E. coli pada melon.

Penjelasan Dokter soal Bakteri Pemicu Keracunan

Dokter Umum FKUI Edukasi Kesehatan Adam Prabata menjelaskan, Bacillus cereus adalah bakteri yang umum ditemukan pada makanan dan dapat menyebabkan keracunan bila makanan dibiarkan terlalu lama pada suhu ruangan. Bakteri ini paling sering ditemukan pada nasi, terutama nasi goreng yang dibiarkan lama di suhu ruang.

“Spora yang bikin keracunan ini sangat stabil di suhu panas, sehingga memanaskan ulang makanan gak selalu menghilangkan racunnya,” kata Adam, Rabu (9/9/2026). Gejala yang sering muncul antara lain mual, muntah, diare, dan kram perut. Pada kondisi keracunan cereulide (toksin Bacillus cereus) dengan kadar sangat tinggi, meskipun jarang, dapat muncul kondisi berat seperti gagal ginjal akut, gagal liver, hingga ensefalopati (gangguan otak).

Sementara itu, Staphylococcus aureus umum ditemukan pada kulit dan tangan manusia. Jika bakteri ini masuk ke makanan dan dibiarkan lama, ia dapat menghasilkan toksin bernama Staphylococcal enterotoxin yang memicu keracunan.

Menanggapi kasus gangguan ingatan yang dialami FP, dokter spesialis gizi klinik Dr dr Nurul Ratna Mutu Manikam menjelaskan bahwa gangguan fungsi otak akibat keracunan makanan bisa terjadi karena tubuh kehilangan elektrolit. Reaksi awal tubuh ketika keracunan adalah muntah dan diare, yang merupakan mekanisme alami untuk mengeluarkan zat asing. Jika muntah dan diare berlangsung terus-menerus, kadar elektrolit seperti natrium dan kalium dalam tubuh menurun, yang pada akhirnya dapat memengaruhi perkembangan otak.

“Kalau dia elektrolitnya banyak berkurang, natriumnya kurang, kalium kurang, itu akan memengaruhi perkembangan otaknya juga. Jadi akhirnya anak bisa kejang, atau bisa sakit berulang,” jelas dr Nurul seusai peluncuran Gut and Immunity Council di Jakarta Selatan, Rabu (9/9/2026). Meski demikian, ia menilai kasus keracunan yang berdampak pada fungsi otak dan saraf merupakan kasus yang langka, namun tetap perlu diwaspadai.

Kemenkes Belum Simpulkan Kaitan dengan MBG

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menyatakan bahwa FP saat ini masih menjalani perawatan di RSUP Adam Malik Medan dan ditangani oleh dokter spesialis gastro anak serta psikiater. Namun, pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa gangguan ingatan yang dialami FP berkaitan dengan MBG.

“Belum dapat disimpulkan ada kaitan dengan MBG,” tegas Aji saat dikonfirmasi, Rabu (9/9/2026). Sebelumnya, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Donal Simanjuntak, juga menyampaikan bahwa orang tua FP pernah mengeluhkan gangguan ingatan saat putrinya dirawat di RSU Haji Medan. Namun, tim pendamping melaporkan FP masih dapat berkomunikasi dengan baik hingga keluar dari rumah sakit.

“Sepengetahuan kami selama mendampingi yang bersangkutan di RS Haji saat kunjungan, orangtua pernah menyampaikan hal tersebut. Namun tim kami yang mendampingi melaporkan kondisi yang bersangkutan per hari sampai kepulangan ke Karo, yang bersangkutan dapat berkomunikasi dengan baik dan dapat menceritakan pengalamannya,” kata Donal. Ia menambahkan bahwa saat timnya bertemu kembali dengan FP di RSUP Adam Malik pada 8 September 2026, FP masih dapat mengenali anggota tim yang datang menjenguknya.

Keracunan MBG Juga Terjadi di Pati

Kasus keracunan makanan dalam program MBG tidak hanya terjadi di Karo. Pada Rabu (9/9/2026), IGD RSUD RAA Suwondo Pati, Jawa Tengah, dipenuhi ratusan siswa yang mengalami mual dan muntah setelah menyantap MBG. Dinkes Jateng mencatat 127 siswa dari MTs Negeri 3 Pati, 101 siswa SMPN 1 Gembong, dan satu siswa MTs Manbaul Ulum terdampak.

Kabis P2P Dinkes Jateng, Heri Purnomo, mengatakan bahwa kondisi IGD penuh karena banyak siswa yang harus dirujuk sejak pagi hingga siang. Pihaknya bersama Dinkes Pati telah mengamankan sampel makanan dari SPPG, serta sampel muntahan dan feses siswa untuk dikirim ke laboratorium. “Kami sudah melakukan pertolongan awal dan merujuk pasien ke Puskesmas dan RS terdekat,” jelasnya.

Data dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat setidaknya 40.759 orang diduga mengalami keracunan sejak MBG dijalankan pada 2025, dengan 12.656 di antaranya tercatat sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026. Angka ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan dalam program MBG perlu menjadi perhatian serius, baik dari aspek pengolahan, penyimpanan, maupun distribusi makanan.

Hingga saat ini, investigasi terhadap kasus keracunan di Karo dan Pati masih terus berlanjut. Dinkes setempat bersama pihak terkait terus melakukan penyelidikan epidemiologi untuk memastikan penyebab pasti dan mencegah terulangnya kejadian serupa. Masyarakat pun diimbau untuk lebih waspada terhadap gejala keracunan makanan dan segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala seperti mual, muntah, diare, atau demam setelah mengonsumsi makanan tertentu.

Exit mobile version