Cakrawala News – 28 Oktober 2026 | Pernyataan Iran: Selat Hormuz dan sekitarnya di bawah kendali kami kembali ditegaskan oleh militer Teheran di tengah konflik yang belum terselesaikan dengan Amerika Serikat. Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, menegaskan bahwa Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman sepenuhnya berada di bawah kendali angkatan bersenjata Republik Islam Iran.
Pernyataan itu disampaikan Abdollahi pada Senin, 26 Oktober 2026, dan dikutip lembaga penyiaran pemerintah Iran, IRIB. Penegasan tersebut muncul saat ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih berlangsung.
“Seluruh wilayah Teluk Persia dan pulau-pulau di dalamnya, Teluk Oman beserta garis pantainya, serta bagian timur dan barat Selat Hormuz, berada di bawah kendali angkatan bersenjata Republik Islam Iran,” kata Abdollahi, seperti dikutip IRIB.
Dalam pernyataan yang sama, ia menegaskan bahwa selama Selat Hormuz masih ditutup, tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur perairan strategis itu di luar kerangka aturan yang ditetapkan Iran. Ia juga memperingatkan kapal yang mencoba berlayar di luar jalur yang ditentukan akan menghadapi risiko, termasuk mengalami kerusakan serius.
Jalur Vital Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Kawasan ini menjadi pintu keluar bagi pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara di sekitar Teluk Persia menuju pasar internasional. Karena itu, setiap gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut berpotensi berdampak pada distribusi energi global.
Eskalasi konflik di sekitar Iran membuat Selat Hormuz secara de facto diblokade. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelancaran perdagangan energi, termasuk pengaruhnya terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan yang turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Pernyataan bahwa Iran: Selat Hormuz dan sekitarnya di bawah kendali kami menjadi penegasan posisi Teheran mengenai pengawasan atas kawasan perairan yang memiliki peran penting bagi perekonomian global tersebut.
Latar Belakang Konflik Iran dan AS
Ketegangan di kawasan berawal ketika Amerika Serikat dan Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran pada 28 Februari. Serangan itu kemudian dibalas oleh Iran.
Pada pertengahan Juni, Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, kedua pihak kembali saling melancarkan serangan tidak lama setelahnya. Hingga kini, konflik antara Iran dan AS belum sepenuhnya terselesaikan.
Situasi tersebut turut memperburuk keamanan pelayaran di kawasan Teluk dan meningkatkan ketidakpastian atas akses menuju Selat Hormuz. Sejumlah kapal dagang milik Iran dan negara lain dilaporkan masih berlabuh di sekitar Selat Hormuz, di antaranya di Bandar Abbas.
Dalam perkembangan lain yang masih berkaitan, Iran disebut menahan sejumlah kapal yang melanggar aturan saat melintasi Selat Hormuz hingga denda dibayar. Teheran juga dilaporkan menetapkan syarat bagi pembukaan kembali jalur tersebut, termasuk menunggu respons final AS atas usulan yang diajukan.
Dampak bagi Pelayaran dan Pasar Energi
Peringatan militer Iran menambah lapisan ketidakpastian bagi operator pelayaran internasional. Kapal-kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz kini menghadapi risiko tidak hanya dari sisi keamanan, tetapi juga dari kemungkinan sanksi atau tindakan tegas jika dianggap melanggar ketentuan Teheran.
Bagi pasar energi, pernyataan Abdollahi menjadi sinyal bahwa jalur pelayaran strategis tersebut belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Gangguan pasokan melalui Selat Hormuz dapat memengaruhi harga minyak dunia dan berimbas pada perekonomian negara-negara pengimpor, termasuk Indonesia.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel mengenai pernyataan terbaru militer Iran tersebut. Belum diketahui pula apakah akan ada langkah diplomatik lanjutan untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah perkembangan negosiasi antara Iran dan AS, termasuk respons Washington atas syarat yang diajukan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Selama ketegangan belum mereda, penegasan bahwa Iran: Selat Hormuz dan sekitarnya di bawah kendali kami kemungkinan akan terus menjadi instrumen tekanan Teheran dalam konflik yang berkepanjangan ini.
