Istri Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Suami, Pelaku Nyamar di Medsos

Istri Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Suami, Pelaku Nyamar di Medsos
Istri Hilang 2 Tahun Ternyata Dibunuh Suami, Pelaku Nyamar di Medsos

Cakrawala News – 25 September 2026 | Kasus suami di Palangka Raya tega bunuh istri dan nyamar di medsos selama 2 tahun akhirnya terungkap setelah kecurigaan sang ibu membuka tabir hilangnya korban berinisial SS (26). Selama hampir dua tahun, keluarga mengira SS masih hidup karena akun media sosialnya tetap aktif dan sesekali meminta uang. Kenyataannya, perempuan itu telah meninggal dunia sejak Februari 2024 akibat kekerasan yang dilakukan suaminya sendiri, DP (35).

Kapolresta Palangka Raya Kombes Pol Andiyatna mengungkapkan bahwa pengungkapan kasus ini berawal dari laporan kehilangan orang yang disampaikan ibu korban ke Polsek Pahandut pada 28 April 2026. Sang ibu melapor karena sudah sekitar dua tahun tidak pernah bertemu dengan SS, meski komunikasi melalui media sosial masih berlangsung.

Kecurigaan Sang Ibu Berawal dari Video Call

Menurut Andiyatna, korban masih dapat dihubungi keluarga melalui akun Instagram, tetapi selalu tidak mau mengangkat ketika diajak melakukan video call. Kecurigaan semakin kuat karena melalui akun tersebut keluarga juga sempat dimintai uang dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Pengungkapan kasus berawal dari laporan kehilangan orang yang dilaporkan oleh ibu korban ke Polsek Pahandut pada 28 April 2026 lalu, yang mana dirinya sudah kurang lebih dua tahun tidak pernah bertemu lagi dengan korban,” ujar Andiyatna kepada wartawan, Rabu (23/9/2026).

Setelah laporan diterima, Unit Reskrim Polsek Pahandut melakukan penyelidikan untuk mencari keberadaan SS. Dari hasil penyelidikan, polisi mengungkap fakta bahwa SS sebenarnya telah meninggal dunia sejak 26 Februari 2024 sekitar pukul 16.00 WIB.

Pembunuhan Terjadi Saat Korban Mencuci Piring

Pembunuhan tersebut terjadi di tempat tinggal sekaligus lokasi kerja pasangan itu di Jalan Soekarno, Kelurahan Menteng, Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya. Menurut pengakuan DP, saat kejadian SS sedang mencuci piring. Pelaku kemudian mengambil tali tambang dan mendatangi istrinya.

DP diduga melilitkan tali tersebut ke leher SS sebanyak satu kali. Tali kemudian ditarik hingga korban terjatuh telentang dan kepalanya terbentur lantai. Tak berhenti di situ, pelaku juga disebut membenturkan kepala korban ke sebuah kursi kayu hingga menyebabkan darah keluar dari hidung SS.

“Menurut pengakuan DP, saat kejadian SS sedang mencuci piring. Pelaku kemudian mengambil tali tambang dan mendatangi istrinya,” kata Andiyatna.

Ironisnya, aksi kekerasan tersebut diduga sempat dilihat anak mereka yang saat itu masih berusia sekitar enam tahun. Setelah memastikan istrinya meninggal dunia, DP membawa jasad korban dan menyembunyikannya di kawasan semak atau hutan di sekitar lokasi pemancingan.

Pelaku menggendong dan menyeret tubuh korban menuju kawasan hutan di belakang tempat kejadian perkara yang berjarak sekitar 30 meter, kemudian meninggalkannya di kawasan tersebut.

Motif Diduga Persoalan Rumah Tangga

Andiyatna menyatakan pembunuhan SS diduga dipicu persoalan rumah tangga. DP disebut tersinggung dengan perkataan istrinya saat keduanya terlibat perselisihan.

“Permasalahan keluarga, dalam hal ini tersangka sakit hati karena ada perkataan dari istri korban yang menyinggung perasaan pelaku,” ujarnya.

Selama SS tidak diketahui keberadaannya, komunikasi dengan keluarga masih berlangsung melalui WhatsApp. Namun, polisi mengungkap pesan-pesan tersebut diduga selama ini dibalas oleh DP.

“Jadi selama ini yang membalas pesan-pesan di WhatsApp itu si pelaku ini,” ujar Andiyatna. Pelaku juga diduga sempat meminta sejumlah uang kepada orang tua korban. Fakta tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyelidikan polisi dalam mengungkap misteri hilangnya SS.

Kerangka Korban Ditemukan, Identitas Dipastikan Lewat DNA

Kasus ini mulai menemukan titik terang setelah polisi menemukan kerangka manusia serta sejumlah pakaian di lokasi yang diduga menjadi tempat pembuangan jasad korban. Untuk memastikan identitasnya, penyidik berkoordinasi dengan Laboratorium Forensik Pusdokkes Mabes Polri untuk pemeriksaan DNA.

DP mengakui perbuatannya dan menunjukkan lokasi tempat dirinya menyembunyikan jasad korban. Pengakuan itu melengkapi rangkaian bukti yang membuat polisi menyimpulkan bahwa SS telah menjadi korban pembunuhan, bukan sekadar orang hilang.

Kasus suami di Palangka Raya tega bunuh istri dan nyamar di medsos selama 2 tahun ini menjadi perhatian karena modus pelaku yang membangun seolah-olah korban masih hidup. Selama hampir dua tahun, keluarga di luar kota tidak menyadari bahwa orang yang membalas pesan dan mengelola akun media sosial korban adalah pelaku sendiri.

Peran kecurigaan sang ibu menjadi kunci. Ketidakmampuan SS mengangkat video call, ditambah permintaan uang yang terus berulang, akhirnya mendorong keluarga melapor ke polisi. Dari laporan itulah penyidik menelusuri jejak hingga menemukan lokasi pembuangan jasad dan meminta pemeriksaan DNA.

Hingga berita ini ditulis, polisi masih mendalami kasus ini, termasuk peran dan status hukum DP dalam proses penyidikan lebih lanjut. Publik menantikan perkembangan penanganan perkara, terutama karena korban sempat “hidup” di dunia maya selama dua tahun setelah meninggal dunia.

Exit mobile version